Cara Order : SMS kan nama atau kode barang dan jumlah beserta alamat pengiriman. Jumlah total pembayaran termasuk ongkir akan diinformasikan.
Barang yang dipesan akan dikirim sesuai alamat yang anda berikan setelah melakukan transfer melalui rek BCA.
Harga berubah sesuai Katalog terbaru.
Sunday, 1 November 2009
Malam Dan Siang Hanyalah Sebuah Perjalanan
Saudaraku semuslim…
Malam dan siang hanyalah sebuah perjalanan yang selalu dilalui oleh setiap insan, dia melewatinya selangkah demi selangkah sehingga sampai pada akhir sebuah perjalanan. Jika Anda bisa mempersembahkan sebuah perbekalan pada setiap langkah tersebut, maka lakukanlah, karena tidak lama lagi perjalanan ini akan berakhir, bahkan dia berlari dengan lebih cepat dari yang engkau bayangkan. Maka bekalilah dirimu dalam perjalanan ini dan lakukanlah kewajibanmu, seakan-akan engkau sedang ada dalam perjalanan yang banyak mengandung bahaya dari para perampok.
Seorang Salaf menulis surat kepada saudaranya (yang isinya), “Wahai saudaraku, engkau berkhayal bahwa engkau selamanya berada di dunia, akan tetapi sebenarnya engkau ada dalam sebuah perjalanan. Engkau digiring dengan cepat, kematian datang menghadangmu, sedangkan dunia telah menggulung tikarnya di belakangmu, umurmu yang telah berlalu sama sekali tidak akan kembali.”[1]
Kita semua berjalan pada kelompok orang-orang yang zuhud, sedangkan kafilah (rombongan) orang-orang yang shalih telah berlalu bagaimana kita melihat dunia menyatu dengan akhirat antara zuhud dengan qana’ah.
Ali bin Fudhail berkata, “Aku mendengar ayahku berbicara kepada Ibnul Mubarak, ‘Engkau memerintahkan kami untuk hidup dengan zuhud dan kesederhanaan, akan tetapi aku melihat dirimu yang selalu membawa barang dagangan, bagaimana hal ini bisa terjadi?’ Beliau menjawab, ‘Wahai Abu ‘Ali, ‘aku melakukannya hanya untuk menjaga wajah dan kehormatanku, dan dengannya aku melakukan ketaatan kepada Rabb-ku.’ Lalu dia berkata, ‘Wahai Ibnul Mubarak! Sungguh indahnya hal ini jika ini dilakukan dengan sempurna!!’”
Saudaraku tercinta…
Bagaimana engkau memandang dunia ini? Sungguh indahnya dunia jika ia datang dari pintu yang halal dan digunakan di jalan yang halal. Sesungguhnya pintu-pintu kebaikan sangat banyak dan tidak dapat dihitung: shadaqah, membantu orang yang sangat membutuhkan, menolong orang yang tertimpa musibah, membantu para janda, dan menanggung hidup anak-anak yatim.
Saudaraku, Sufyan pernah berkata, “Jagalah dirimu dari kemarahan Allah dalam tiga hal:
(1) Jagalah dirimu agar tidak lalai pada perintah-Nya,
(2) Jagalah dirimu dari sikap tidak rela akan keputusan-Nya sedangkan Dia melihatmu, dan
(3) Jagalah dirimu dari sikap membenci Rabb-mu ketika engkau meminta kepada-Nya, tetapi engkau tidak mendapatkannya.”
Sesungguhnya yang membagi-bagikan rizki di dunia ini adalah Allah, karena itu engkau harus rela terhadap pembagian-Nya, sedikit ataupun banyak, datang atau pergi, dunia itu memihakmu ataupun meninggalkanmu, engkau harus rela terhadap apa yang engkau dapatkan. Janganlah hatimu risau karenanya, janganlah engkau membenci apa yang telah Allah tentukan untukmu, dan janganlah engkau melihat orang yang lebih tinggi darimu dalam hal keduniaan. Akan tetapi lihatlah kepada orang-orang shalih dan orang-orang pilihan.
Siapa saja yang ingin hidup lapang
di dalam naungan agama dengan meraih dunia,
maka lihatlah orang yang lebih wara’ (takwa) daripadanya
dan perhatikanlah orang yang lebih miskin darinya.[2]
Yang lebih indah lagi dari ungkapan tersebut adalah firman Allah di dalam Kitab-Nya yang mulia:
"Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami uji mereka dengannya." [Thahaa: 131]
Ibrahim al-Asy’ats rahimahullah berkata, “Aku mendengar Fudhail berkata, ‘Rasa takut seorang hamba terhadap Allah sesuai dengan keilmuannya kepada-Nya. Kezuhudan seorang hamba terhadap dunia sesuai dengan keinginannya atas kebahagiaan akhirat. Siapa saja yang beramal dengan ilmu yang ia ketahui, maka dia akan merasa cukup terhadap apa-apa yang tidak ia ketahui. Dan siapa saja yang mengamalkan sesuatu yang ia ketahui, maka Allah akan memberikan ilmu yang tidak ia ketahui. Siapa saja memiliki prilaku yang jelek, maka jelek pulalah agama, keturunan, dan kehormatannya.”[3]
Sebagian dari orang-orang zuhud berkata, “Aku tidak pernah mengetahui seseorang yang mendengar Surga dan Neraka, kemudian didatangkan kematian kepadanya. Sedangkan ia dalam keadaan tidak melakukan ketaatan kepada Allah sesaat pun, baik dengan berdzikir, shalat, membaca al-Qur-an atau dengan berbuat baik.” Lalu seseorang berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku banyak menangis.” Lalu beliau berkata, “Jika engkau tertawa dengan mengakui kesalahan, itu lebih baik daripada engkau menangis tetapi selalu menampakkan amal. Jika seseorang menampakkan amalnya, niscaya amal tersebut tidak akan naik melebihi kepalanya.”
Orang tadi berkata, “Nasihatilah aku!” Beliau pun berkata, “Tinggalkanlah dunia untuk orang yang tamak kepadanya sebagaimana mereka meninggalkan akhirat. Dan jadilah di dunia ini bagaikan seekor lebah, dia tidak akan makan kecuali yang baik-baik. Dan jika terjatuh, maka dia tidak akan memecahkan atau merobek-robek sesuatu.”[4]
Saudaraku tercinta…
Tidak ada seorang pun yang mengingat kematian melainkan dunia akan menjadi hina dalam pandangannya, akhirnya semua penutup di hadapannya akan terbuka. Sesungguhnya dunia adalah beberapa tahun yang bisa dihitung, sebanyak apa pun materi yang dikumpulkan oleh seseorang dan sebanyak apa pun harta simpanan yang ia miliki, karena di belakang semua itu adalah kematian yang akan menghancurkan semua kelezatan dan memisahkan seseorang dari semua kawannya.
Al-Hasan rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kematian itu selalu membuka aib dunia, dia tidak akan membiarkan seseorang yang berakal mendapatkan kebahagiaan di dalamnya.” [5]
Kebahagiaan apakah wahai saudaraku, sedangkan dunia begitu adanya ?
Dunia telah berseru kepada dirinya,
seandainya di alam ini ada orang yang mendengarnya.
Berapa banyak sang pengumpul harta yang telah aku hancurkan,
harta yang dikumpulkannya.[6]
[Disalin dari kitab Ad-Dun-yaa Zhillun Zaa-il, Penulis ‘Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim, Edisi Indonesia Menyikapi Kehidupan Dunia Negeri Ujian Penuh Cobaan, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
__________
Footnotes
[1]. Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam, hal. 381.
[2]. As-Siyar (VIII/426).
[3]. Al-Ihyaa’ (IV/131).
[4]. As-Siyar (VIII/426).
[5]. Taariikh Baghdaad (XIV/444).
[6]. Thabaqaatusy Syaafi’iyyah (VI/78).
Dia ada di setiap Nafas Kehidupan
Allah robbul jalaal wal ikroom selalu punya cara misterius untuk mengangkat derajat kehidupan seseorang, untuk memuliakan seseorang dalam kehinaan, mencabut perbendaharaan rizki yang Dia berikan dan dalam membuat orang sadar bahwa ada Dia di alam ini sebagai Tuhannya.
Maka ketika Dia `menyentuh` anda – dalam suka atau dalam duka, dalam kesenangan atau dalam penderitaan, dalam sehat atau dalam kesakitan, dalam kekayaan atau kemiskinan, dalam kelebihan atau kekurangan dan dalam kemuliaan atau kehinaan – pahamilah bahwa selalu ada peran Dia dalam kehidupan ini.
Pada akhirnya, kemampuan mengenali Tuhan, kemampuan merasakan kehadiran-Nya di setiap nafas kehidupan menjadi demikian menentukan kedamaian hidup kita. Kelak ketika kita kaya, kita kaya dalam damai. Ketika kita sejahtera, kita sejahtera dalam damai. Begitu pula ketika kita menderita, kita menjalani penderitaan dalam kedamaian. Tidak ada satupun situasi yang tidak kita jalani kecuali dengan hati yang selalu di liputi kedamaian.
Saya adalah orang yang senang bicara, temukanlah Tuhan dalam penderitaan! Sebab sejatinya Tuhan sedang menyajikan anugerah-Nya lewat pintu penderitaan. Kita mengenal Dia lewat sakit kita, bukankah ini anugerah?
Kita mendapatkan “pencucian dosa” kita dalam setiap gumpalan penderitaan dan kesusahan di dunia ini. Bukankah ini juga anugerah ? Temukan dulu Tuhan, maka penderitaan kita bukanlah lagi sebuah penderitaan.
Untuk mereka yang sedang diliputi kekayaan dan kesenangan, temukan juga Tuhan dalam kekayaan dan kesenangan Anda. Apa maksud Tuhan meneteskan kesenangan untuk Anda?
Bila Anda gagal menangkap pesan Tuhan atau gagal merasakan peran-Nya dibalik semua kekayaan dan kesenangan yang dirasa, maka sesungguhnya ia bukanlah kekayaan dan kesenangan yang sebenarnya.
Jadikanlah Ramadhan sebagai jalan yang bisa mengantarkan kita mengenal Allah Subhanahu wata`ala, Tuhan kita dengan segala ke-Mahaan-Nya. Kita butuh Dia. Butuh untuk menemani kita mengarungi hidup dan kehidupan, juga hidup setelah kematian.
Munajat
Inilah mungkin sedikit jawaban mengapa ada orang yang tidak merasakan kedamaian ketika kekayaan justru sedang ada di tangannya. Karena kehidupannya sepi dari kehadiran Tuhan.
Inilah juga mungkin jawaban bagi mereka yang menderita, supaya penderitaannya bukan lagi dirasa sebagai sebuah penderitaan. Yaitu menghadirkan Tuhan dalam penderitaannya.
Hadirlah ya Tuhan, hadirlah di setiap nafas kehidupan ini. Agar kami bisa mencapai kesejatian kebahagiaan di dunia ini dan di akhirat kelak. Amin.
STOP DREAMING START ACTION
Saturday, 25 July 2009
Mendapatkan kebebasan finansial dan waktu
Wednesday, 3 December 2008
Melawan Dunia
song by PETERPAN
Kita adalah hati yang tertindas
Kitalah langkah yang berhenti berjalan
Kitalah mimpi yang tak terwujudkan
Senandungkan nada – nada yang hilang
Kita memahami yang sesungguhnya tanpa harus menjelaskan semua
Tanpa pedulikan kata mereka
Kita berjalan melawan dunia
Hanya bisa bicara, mereka tak beri jawaban
Tak perlu dengar kata mereka, teruslah berjalan
Cinta tak mengenal expired date
Tapi setelah saya pikir – pikir lagi, sebenarnya yang expired itu bukan cinta, tapi pasangan kita sendiri atau bahkan kita sendiri. Seringkali pasangan kita atau bahkan diri kita sendiri berubah menjadi sosok yang nyebelin, membosankan, dan ngeselin ( termasuk manja, pemalas, cerewet, posesif, botak, gembrot, jerawatan dsb ), itu yang membuat kita berhenti mencintai pasangan kita dan memilih untuk berpisah. Mestinya sebelum ambil keputusan berpisah setiap orang harusnya berpikir bahwa kita pun bisa berubah menjadi orang yang nyebelin, membosankan, dan ngeselin bagi pasangan kita.
Seorang penulis, Mignon McLaughlin berkata , “sebuah pernikahan yang berhasil membutuhkan perasaan jatuh cinta berulang – ulang pada orang yang sama yaitu pasangan kita”. Mungkin mudah buat kita untuk jatuh cinta dengan orang lain apalagi bila dia jauh lebih baik daripada suami atau istri kita yang tiap hari, tiap saat kita jumpai masih tetap dengan wajah, dandanan dan sifat yang telah lama kita kenal ( yang tetep itu – itu saja ). Bisa jadi kita pernah bosan dan ingin bersama dengan orang yang benar – benar beda dengan pasangan kita. Bisa jadi just for fun cuma sesaat atau bila perlu diteruskan ( atau keterusan ). Kayaknya diperlukan usaha yang keras sekaligus tekad ( baca : niat ) yang kuat supaya bisa jatuh cinta tiap hari dengan orang yang sama ( baca : cerewet, posesif, botak, gembrot, jerawatan,manja dan pemales hehehe ).
Ada yang menarik ketika saya membaca satu cerpen yang ditulis Dee berjudul PELUK dalam bukunya RECTO VERSO, saya mendapatkan sebuah kisah perpisahan yang ( dibikin ) indah, ada kalimat – kalimat ; Aku tidak ingin bersamamu cuma karena enggan sendiri. Kau tidak layak untuk itu. Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukannya ketakutannya akan sepi.( Peluk, halaman 56 ) . Ternyata sebagian orang memilih untuk berpasangan karena enggan sendiri, bahwa kesepian dan kesendirian itu bisa menjadi begitu menyiksa ( termasuk demi memperoleh kenyamanan finansial darinya ). Tapi pernahkah anda bertanya pada diri sendiri bahwa anda memilihnya karena dia adalah bagian dari diri anda ? . Untuk apa dia mesti menjadi bagian dari diri anda kini kalau di kemudian hari dia tak lagi sama ?
Ketika cermin itu terbelah, apakah akhirnya anda akan memilih untuk mencari cermin lain yang utuh ?
Setiap orang bisa berubah, ketika kita tak lagi sejalan,seirama, mampukah kita untuk tetap bersama ? apakah anda akan mencari pasangan lain untuk menggantikannya ? Kalau dia sama dengan saya lalu untuk apa saya mencari pasangan ?
Simak pula paragraph berikut ; Hati adalah air, aku lantas menyimpulkan. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berkali – kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar dan hatiku berhenti mengalir. Siapa yang mengatur itu ? aku pun tahu. Barangkali kita berdua, tanpa kita sadari. Barangkali hidup itu sendiri, sehingga sia – sia menyalahkan siapa – siapa.
Aku ingin mengalir. Hatiku belum mau mati. Aliran ini harus kembali memecah dua agar kita sama – sama bergerak. Sebelum kita terlalu jengah dan akhirnya pisah dalam amarah ( Peluk,halaman 56 – 57 )
Seringkali dalam perjumpaan dan perpisahan orang sama – sama menunjuk Tuhan, bahwa karena takdir-Nya lah kita bertemu dan berpisah. Dalam sebagian kasus memang benar. Namun tak adil rasanya ketika kita menjadikan takdir Tuhan sebagai alasan kita menentukan perpisahan, sebab kita punya kemampuan untuk memilih. Memilih untuk tetap bersama dengan segala perbedaan dan menyelesaikan masalah yang ada atau memilih untuk jalan sendiri – sendiri.
Adakalanya kita berhenti mencintai pasangan kita seperti air yang berhenti mengalir, lalu membeku serupa stalagmit dan stalagtit, kita butuh untuk tetap mengalir agar kita tetap hidup dengan mencintai orang lain. Sebagian orang menganggap bertahan dalam kepalsuan ketika kita tetap mempertahankan sebuah hubungan yang hambar. Barangkali suatu saat nanti saya akan memilih jalan yang sama, namun semoga saja tidak, karena saya tak yakin, ketika menjalani kehidupan bersama orang lain saya tak akan mendapati masalah yang sama. Apakah saya akan meninggalkan begitu banyak luka diatas kebahagiaan saya terbebas darinya ?
Bukan cinta atau hubungan yang expired, namun pribadi yang tak lagi sama seperti awal kita memutuskan untuk melangkah bersama.
Thursday, 27 November 2008
First Love ( will be ) never die
Saya tak pernah bisa memiliki dirinya yang menjadi cinta pertama saya. Namun bila saya memaksakan diri mendapatkan seorang pengganti yang sama persis dengan dirinya, saya yakin saya tak akan pernah bahagia dengannya, karena saya tidak mencintainya dengan sesungguhnya, itu karena saya mencintai masa lalu saya dan cinta pertama saya. Maka kini yang saya lakukan adalah menjaga semua kenangan manis pahit tentang cinta pertama saya, tentang seseorang dan cinta yang tak akan pernah saya miliki selamanya.
Seorang sahabat lama masih kerap mengunjungi saya via email. Dilihat dari foto terakhirnya penampilannya tak jauh berbeda dengan jaman kuliah dulu, tetap kasual masih tetap semanis dulu meski kini kelihatan lebih matang. Masih single meski saya tahu dia sukses berat dengan pekerjaan dan kehidupan sosialnya, namun tidak dengan kehidupan pribadi dan cintanya. Sayalah satu-satunya sahabat yang mengetahui apa yang terjadi dengannya, seorang perempuan yang sangat terobsesi dengan laki – laki pertama yang dia cintai, berbeda dengan saya yang sudah lupa pria mana yang pertama kali saya cintai atau kapan tepatnya pertama kali saya jatuh cinta. Terlalu banyak yang datang dan pergi dalam kehidupan saya, banyak kehilangan sekaligus menemukan ( yang ini lebih puitis daripada umgkapan 'mati satu tumbuh seribu' hehehe ).
Dengan kemampuan bicara multi lingual, Jepang, Inggris dan tentu saja bahasa Indonesia, dia berhasil mendapatkan pekerjaan yang sangat bagus, seorang pengajar di sebuah Universitas di negeri seberang, sekaligus pekerjaan sampingan menjadi penerjemah sesekali, mestinya dia telah menemukan banyak pria yang baik dan berprospek cerah, namun dia tetap memilih hidup melajang.
“Let me die in virgin”, katanya ( wah mubazir amat )
Saya masih ingat percakapan bertahun – tahun yang lalu, ketika kami masih kuliah, tinggal bersama di kamar kos yang sempit, malam minggu berstatus jomblo-er sambil menikmati kopi rasa mocha bikinan sendiri yang seringkali agak pahit karena kebanyakan kopi, ngobrol tentang banyak hal termasuk tentang cinta pertama kami. Suatu ketika dia bertanya pada saya siapa dan kapan first love saya.
Saya nyengir dan balik bertanya,” apa sih cinta pertama itu karena terus terang saya ndak jelas,ndak ingat kapan tepatnya.” Waktu masih SD dulu saya memang sempat naksir temen cowok yang ganteng dan hobi sekali menulis puisi, tapi itu kan cinta monyet, apa itu bisa disebut cinta pertama ? Lalu saat SMA saya pernah naksir seorang pria yang beda usia 8 tahun dari saya, namun kandas alias tidak jadian karena si cowok melarikan diri setelah saya nekat menyatakan perasaan saya padanya, mungkin dipikirnya saya alien. Lalu saat awal masuk kuliah saya jatuh cinta berat dengan ketua senat fakultas yang manis dan Jogja banget hehehe…. Lha wong dia asal Sleman, namun ndak juga jadian karena ternyata dia sudah bertunangan dan Cuma menganggap saya mahasiswa baru yang layak diplonco hahaha…..
“Jadi yang mana dong cinta pertama saya?”.
Semuanya berarti buat saya meski tak pernah bisa saya miliki diri mereka secara fisik, namun karena merekalah saya banyak belajar tentang mencintai tanpa harus memiliki. Sahabat saya tadi tak menjawab pertanyaan saya, malah bercerita tentang laki – laki pertama sekaligus satu – satunya pria yang ada di hatinya hingga kini yang sayangnya tak pernah bisa sahabat saya miliki. Laki – laki itu adalah teman semasa kecilnya, yang sangat ia cintai hingga dewasa, hanya sayangnya karena mereka bersahabat sedari kecil, si cowok tidak ngeh kalo ditaksir berat oleh sahabat saya, si laki – laki hanya menganggap perhatian dan kasih sayang sahabat tadi sebagai sebuah persahabatan abadi, hingga akhirnya mereka beranjak dewasa dan akhirnya si cowok menemukan pasangan sementara sahabat saya masih sendiri dan tentu saja patah hati.
Cinta pertama yang tak akan pernah mati, begitu kisahnya, hingga setiap pria yang datang mendekatinya selalu dia tolak dengan halus, dia tak akan pernah bisa mencintai orang lain lagi katanya.
Malam ini saya telah menghabiskan dua mug kopi rasa mocha instan ( bukan bikinan sendiri, karena memang beneran rasa mocha ) sambil membaca kembali email dari sahabat. Cintanya rupanya tak pernah mengenal kata expired,masih juga cerita tentang laki – laki yang sama yang tak pernah ia miliki, padahal di sana, di negara tempatnya tinggal, berjubel laki – laki dari berbagai bangsa yang bersedia menemaninya hingga akhir hayat.
Kali ini dia bercerita, pernah suatu ketika dia bertemu dengan seseorang yang mirip dengan cowok pertamanya dan kebetulan mereka saling mencintai, namun sahabat saya akhirnya memutuskan berpisah dengan laki – laki itu.
“Aku tak benar-benar mencintainya, aku hanya mencintai masa laluku yang kebetulan ada padanya, oh, seandainya aku tak ( pernah ) jatuh cinta pertama kali, barangkali aku sudah menemukan pendamping hidup yang bisa kucintai apa adanya, tak perlu ia mirip dengan siapapun”.
Tak adil bila saya memintanya untuk melupakan kekasih pertamanya, namun saya juga tak setuju bila hidupnya terbelenggu masa lalu.
“Enak ya jadi kamu,” tulisnya suatu hari tentang saya. Karena saya tak pernah ambil pusing dengan cowok pertama yang saya cintai padahal saya pernah sakit berat gara – gara putus cinta, tapi toh akhirnya saya memutuskan untuk memilih menikah dengan laki – laki yang melamar saya, meski dia tak sama dengan laki – laki pertama yang saya cintai.
“Life must go on, pren”, kataku
Saya tahu hidupnya memang telah berjalan sejak dulu, tapi sahabat saya bagai jalan di tempat dengan kenangannya.
First Love jadinya never die buat dia, tapi bagi saya cinta pertama adalah sebuah pembelajaran dimana saya untuk pertama kali jatuh hati dan disakiti namun masih tetap berbahagia karena pengalaman menyakitkan itu membuat saya mengerti, mencintai tak perlu menjadi belenggu untuk menjadi seorang yang lebih baik bagi orang lain.