Banyak sudah iklan MLM atau bisnis apapun yang menyatakan dapat membebaskan anda dari masalah finansial dan keterbatasan waktu yang anda miliki untuk keluarga dan orang - orang tercinta. Tapi benarkah memang ada ? Kalau menurut saya sih, tidak benar - benar ada, karena untuk mendapatkan uang anda harus tetap bekerja dan menyediakan waktu untuk itu. Yang lebih tepat menurut saya adalah mendapatkan finansial namun tetap punya banyak waktu untuk bersantai atau menjalankan hobi. Lalu adakah bisnis atau aktifitas yang menghasilkan uang tanpa anda harus melakukan 'kerja paksa' sepanjang waktu ? Anda bisa menemukan jawabannya di www.formulabisnis.com dan temukan "Kebebasan Finansial dan Waktu" yang anda idam2xkan.
Pemesanan Produk Oriflame :
Hubungi saya, NIKEN via SMS/Whatsapp Msg di 085643172023, Telp : 08885210403
Cara Order : SMS kan nama atau kode barang dan jumlah beserta alamat pengiriman. Jumlah total pembayaran termasuk ongkir akan diinformasikan.
Barang yang dipesan akan dikirim sesuai alamat yang anda berikan setelah melakukan transfer melalui rek BCA.
Harga berubah sesuai Katalog terbaru.
Cara Order : SMS kan nama atau kode barang dan jumlah beserta alamat pengiriman. Jumlah total pembayaran termasuk ongkir akan diinformasikan.
Barang yang dipesan akan dikirim sesuai alamat yang anda berikan setelah melakukan transfer melalui rek BCA.
Harga berubah sesuai Katalog terbaru.
#KELUHAN TENTANG PEMAKAIAN PRODUK YANG DIBELI SELAINDAI BLOG, SILAHKAN DITUJUKAN KE COSTUMER CARE ORIFLAME CABANG TERDEKAT
Showing posts with label News. Show all posts
Showing posts with label News. Show all posts
Saturday, 25 July 2009
Sunday, 3 February 2008
Buku Laskar Pelangi oleh Andrea Hirata

Sewaktu saya masih di SD, saya memiliki buku favorit yang benar – benar membuat saya terinspirasi untuk menjadi seseorang yang kuat, tegar, bahagia meski dengan kondisi yang serba kekurangan namun selalu penuh syukur. Buku – buku itu adalah Keluarga Cemara karya Arswendo dan Padang Ilalang Di Belakang Rumah Kami yang ditulis oleh NH. Dini. Bersama kawan karib saya, biasanya saya menghabiskan waktu di perpustakaan kecil sekolah. Dia adalah Awan, yang suka sekali membaca buku – buku sains dan sangat cerdas, karena itu tak heran bila dia mendapat beasiswa S2 bahkan S3 ke Jepang dari Panasonic.
Buku Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata kurang lebih memiliki kemiripan dan genre yang sama dengan buku – buku di atas yang menceritakan perjuangan dan pengalaman masa kecil yang indah, sedih sekaligus mengesankan. Selain buku – buku di atas, karena pengaruh Awan ( seorang teman yang kini tinggal di Jepang ) saya menggemari cerita – cerita petualangan Lima Sekawan.
Buku Laskar Pelangi menceritakan kehidupan sepuluh orang anak kampung yang tinggal di Pulau Belitung yang bersekolah di sebuah gedung sekolah kampung yang nyaris roboh. Namun dengan kesederhanaan dan segala keterbatasan tersebut mereka tetap menjalani hidup dengan optimisme kanak – kanak yang mencerahkan.
Saya kadang – kadang bertanya – tanya, seperti inikah cermin pendidikan bangsa kita ? Di satu sisi kita memanjakan beberapa golongan dengan membanjirnya fasilitas yang bisa mempermudah hidup mereka seperti mobil dan rumah dinas serta berbagai tunjangan hidup lainnya di luar gaji pokok, namun di sisi lain kita mengabaikan fasilitas – fasilitas pendidikan yang sebenarnya merupakan aset masa depan bangsa kita. Bagaimana kita bisa menjadi bangsa yang sukses seperti Cina dan Jepang kalau pendidikan kita tak pedulikan. Fasilitas tidak hanya melulu secara fisik berupa bangunan gedung, namun juga beasiswa untuk membantu anak – anak yang kurang mampu secara finansial.
Saya ikut sedih melihat Lintang yang tidak bisa melanjutkan sekolahnya padahal dia adalah anak jenius yang terlahir dari keluarga miskin di pesisir Pulau Belitung. Saya mengagumi semangatnya bersekolah meski dia harus menempuh jarak pulang pergi sejauh 80 km dengan mengendarai sepeda butut dan harus melintas sungai yang penuh dengan buaya. Betapa sedihnya saya bila membandingkan dengan anak – anak muda sekarang yang terlahir dengan kondisi berkecukupan namun malas belajar. Saya pun ikut terbawa khayalan liar Mahar, tokoh anak yang punya bakat dalam bidang seni dan hal – hal berbau klenik. Bahkan saya pun ikut tertawa ketika Tulak Bayan Tula seorang dukun terkenal yang dimintai tolong oleh Mahar dan Flo agar nilai rapornya bagus namun sang dukun malah menjawab “ Bila ingin pintar, buka buku, belajar”. Ada banyak pengalaman – pengalaman lucu, menarik, kadang membuat saya terharu, menangis bahkan tertawa ketika membaca buku ini.
Dari buku – buku di atas, seolah saya sedang membaca buku tentang pengembangan diri yang inspiratif, mampu menggerakan dan mencerahkan, dahsyat dengan bahasa yang sederhana namun tidak menggurui tapi kaya akan makna. Seperti belajar tentang kehidupan yang bersumber dari kehidupan itu sendiri.
Membaca buku Laskar Pelangi saya bersyukur bahwa nasib saya tidak setragis Lintang, si cerdas jenius yang terpaksa putus sekolah karena kekurangan biaya dan harus menjadi tulang pungung keluarga, meski dulu saya pun harus berjibaku, menerima berbagai macam pekerjaan sambilan agar bisa meneruskan kuliah. Agaknya, tokoh Ikal dalam buku tersebut seperti mewakili saya. Terutama keras kepala dan tekat dia untuk tetap bersekolah. Masih teringat saya, ketika masa kuliah dulu saya nyambi bekerja di sebuah wartel dan rental komputer, mengetik skripsi dan tesis pelanggan hingga jam 2 malam, sementara keesokan harinya saya harus berkuliah. Melupakan masa hura – hura bersama teman – teman, pulang kuliah langsung cabut bekerja hingga malam. Untungnya saya sempat mendapat beasiswa dari The Japan Foundation selama satu tahun yang cukup meringankan beban saya dan keluarga.
Sewaktu saya menonton acara Kick Andy dan Andrea Hirata si penulis Laskar Pelangi diwawancarai oleh Andy F Noya, saya seperti melihat diri saya dalam dirinya. Ada satu titik dalam hidupnya yang membuatnya ingin menjadi penulis, yaitu ketika dia melihat Ibunda Guru Muslimah berpayungkan daun pisang dalam hujan yang lebat dan pergi ke sekolah untuk mengajar murid – muridnya. Dia ingin menulis kisah perjuangan gurunya tersebut. Tepat seperti kata Gde Pramana yang juga hadir dalam acara itu yang mengatakan bahwa buku Laskar Pelangi adalah wujud cinta dan hormat seorang murid kepada gurunya. Sedangkan saya, ingin menjadi penulis ketika kelas 6 SD saya menemukan buku harian almarhumah ibu. Saya ingin menjadi penulis karena menghormati ibu saya yang hanya sebentar saya lihat di dunia ini.
So, read this book and get inspired !!.
Buku Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata kurang lebih memiliki kemiripan dan genre yang sama dengan buku – buku di atas yang menceritakan perjuangan dan pengalaman masa kecil yang indah, sedih sekaligus mengesankan. Selain buku – buku di atas, karena pengaruh Awan ( seorang teman yang kini tinggal di Jepang ) saya menggemari cerita – cerita petualangan Lima Sekawan.
Buku Laskar Pelangi menceritakan kehidupan sepuluh orang anak kampung yang tinggal di Pulau Belitung yang bersekolah di sebuah gedung sekolah kampung yang nyaris roboh. Namun dengan kesederhanaan dan segala keterbatasan tersebut mereka tetap menjalani hidup dengan optimisme kanak – kanak yang mencerahkan.
Saya kadang – kadang bertanya – tanya, seperti inikah cermin pendidikan bangsa kita ? Di satu sisi kita memanjakan beberapa golongan dengan membanjirnya fasilitas yang bisa mempermudah hidup mereka seperti mobil dan rumah dinas serta berbagai tunjangan hidup lainnya di luar gaji pokok, namun di sisi lain kita mengabaikan fasilitas – fasilitas pendidikan yang sebenarnya merupakan aset masa depan bangsa kita. Bagaimana kita bisa menjadi bangsa yang sukses seperti Cina dan Jepang kalau pendidikan kita tak pedulikan. Fasilitas tidak hanya melulu secara fisik berupa bangunan gedung, namun juga beasiswa untuk membantu anak – anak yang kurang mampu secara finansial.
Saya ikut sedih melihat Lintang yang tidak bisa melanjutkan sekolahnya padahal dia adalah anak jenius yang terlahir dari keluarga miskin di pesisir Pulau Belitung. Saya mengagumi semangatnya bersekolah meski dia harus menempuh jarak pulang pergi sejauh 80 km dengan mengendarai sepeda butut dan harus melintas sungai yang penuh dengan buaya. Betapa sedihnya saya bila membandingkan dengan anak – anak muda sekarang yang terlahir dengan kondisi berkecukupan namun malas belajar. Saya pun ikut terbawa khayalan liar Mahar, tokoh anak yang punya bakat dalam bidang seni dan hal – hal berbau klenik. Bahkan saya pun ikut tertawa ketika Tulak Bayan Tula seorang dukun terkenal yang dimintai tolong oleh Mahar dan Flo agar nilai rapornya bagus namun sang dukun malah menjawab “ Bila ingin pintar, buka buku, belajar”. Ada banyak pengalaman – pengalaman lucu, menarik, kadang membuat saya terharu, menangis bahkan tertawa ketika membaca buku ini.
Dari buku – buku di atas, seolah saya sedang membaca buku tentang pengembangan diri yang inspiratif, mampu menggerakan dan mencerahkan, dahsyat dengan bahasa yang sederhana namun tidak menggurui tapi kaya akan makna. Seperti belajar tentang kehidupan yang bersumber dari kehidupan itu sendiri.
Membaca buku Laskar Pelangi saya bersyukur bahwa nasib saya tidak setragis Lintang, si cerdas jenius yang terpaksa putus sekolah karena kekurangan biaya dan harus menjadi tulang pungung keluarga, meski dulu saya pun harus berjibaku, menerima berbagai macam pekerjaan sambilan agar bisa meneruskan kuliah. Agaknya, tokoh Ikal dalam buku tersebut seperti mewakili saya. Terutama keras kepala dan tekat dia untuk tetap bersekolah. Masih teringat saya, ketika masa kuliah dulu saya nyambi bekerja di sebuah wartel dan rental komputer, mengetik skripsi dan tesis pelanggan hingga jam 2 malam, sementara keesokan harinya saya harus berkuliah. Melupakan masa hura – hura bersama teman – teman, pulang kuliah langsung cabut bekerja hingga malam. Untungnya saya sempat mendapat beasiswa dari The Japan Foundation selama satu tahun yang cukup meringankan beban saya dan keluarga.
Sewaktu saya menonton acara Kick Andy dan Andrea Hirata si penulis Laskar Pelangi diwawancarai oleh Andy F Noya, saya seperti melihat diri saya dalam dirinya. Ada satu titik dalam hidupnya yang membuatnya ingin menjadi penulis, yaitu ketika dia melihat Ibunda Guru Muslimah berpayungkan daun pisang dalam hujan yang lebat dan pergi ke sekolah untuk mengajar murid – muridnya. Dia ingin menulis kisah perjuangan gurunya tersebut. Tepat seperti kata Gde Pramana yang juga hadir dalam acara itu yang mengatakan bahwa buku Laskar Pelangi adalah wujud cinta dan hormat seorang murid kepada gurunya. Sedangkan saya, ingin menjadi penulis ketika kelas 6 SD saya menemukan buku harian almarhumah ibu. Saya ingin menjadi penulis karena menghormati ibu saya yang hanya sebentar saya lihat di dunia ini.
So, read this book and get inspired !!.
Label:
News
Saturday, 2 February 2008
Calo Berseragam
Ini adalah pengalaman saya ketika pada suatu hari saya membayar pajak motor saya di kantor SAMSAT Sidoarjo. Sempat lega karena akhirnya saya terbebas dari kepungan para calo dan dengan pe-denya saya mengurus sendiri. Sebenarnya simpel dan tidak memakan banyak waktu asal kita tahu prosedurnya dan berkas – berkas yang mesti kita bawa, termasuk sewaktu saya terpaksa juga harus mengganti STNK yang ancur gara – gara terendam di bak cucian, saya pun diarahkan oleh petugas resmi SAMSAT untuk mendatangi loket ini dan itu, bila ada pertanyaan harap mendatangi petugas di bagian informasi. Saya tidak ada kesulitan dengan semua itu, namun ada beberapa hal yang kemudian menjadi pertanyaan di benak saya. Benar kalau saya perlu menggesek nomer mesin sesuai ketentuan dan harus mendatangi bagian check fisik kendaraan tapi saya harus membayar sebesar 15 ribu rupiah pada petugas ( dia berseragam hitam dengan tulisan “CHECK PHISIK KENDARAAN ) dan waktu saya tanya namanya siapa katanya namanya Pak Blender ( ndak ada kuitansi tanda bukti untuk pembayaran check fisik kendaraan ), dan saya ndak bisa menggesek sendiri karena ada kertas khusus dari SAMSAT dengan tanda hologram. Kertas berhologram tersebut kemudian ditempel di sebuah kertas semacam formulir, namun anehnya petugas tersebut enggan menandatangani sekaligus menulis nama terangnya ketika saya minta. Kepalang tanggung karena toh akhirnya saya terjerumus dalam lingkaran mafia calo di SAMSAT meski saya berusaha untuk tidak terlibat, akhirnya saya pun mengikuti aturan permainan mereka.
Berikutnya ketika STNK sudah di tangan, saya check ternyata STNK saya yang rusak dianggap tak berlaku lagi dan saya diberi STNK baru dengan nomer baru pula. Tentu setelah itu saya harus mendapat plat nomer baru, sewaktu saya check di bagian workshop dan pengajuan plat nomer kendaraan ternyata persediaan plat nomer kendaraan sudah habis hingga satu bulan ke depan. Melihat saya yang sempat tertegun karena saya harus berpikir bagaimana motor saya nanti tanpa plat nomer resmi, bapak tadi yang mengaku bernama Pak Blender mendatangi saya dan memberikan penawaran kalau mengurusnya ke dia dalam waktu setengah jam sudah jadi sementara kalau mengurus sendiri harus menunggu hingga bulan depan. Saya jadi curiga, karena ingin tahu bagaimana dia mendapatkan plat nomer kendaraan sementara persediaan di kantor SAMSAT sudah habis untuk bulan ini ( baca attachement kliping koran berikut ini tertanggal 4 Januari 2008 ) saya akhirnya mengiyakan penawarannya. Waktu saya tanya berapa harganya, katanya kalau yang resmi sekitar 15 ribu rupiah dan karena saya khusus melalui Pak Blender saya harus menambah sekian rupiah untuk uang rokok katanya. Akhirnya kita deal, harganya 20 ribu rupiah.
Saya diminta menunggu kira – kira setengah jam lagi. Akhirnya saya pergi ke kantin dan mengamatinya dari sana. Sebelumnya Pak Blender telah mencatat NOPOL motor saya dan pergi ke bagian pengajuan plat nomer. Namun tak lama kemudian saya melihatnya pergi ke luar kantor, entah kemana dan sekitar 15 menit kemudian dia sudah kembali langsung menuju ke workshop SAMSAT. Saya akhirnya keluar dari kantin dan mendatangi dia yang berubah jadi kaget dan bilang kalau lupa sedang mengurus plat nomer saya. Akhirnya dia masuk lagi ke workshop. Lima belas menit kemudian dia sudah mendatangi saya dengan plat nomer baru sesuai dengan STNK saya yang terbaru. Saya bertanya darimana dia mendapatkan plat nomer baru itu padahal di sini sedang habis. Dia tidak bisa memberikan jawaban yang jelas dan waktu saya tanya lagi, apakah dia membuat plat nomer itu di luar ? Dia berkata bahwa dia ndak pernah membawa bahan plat nomer ke kantor, lagi pula plat nomernya kan harus ada cap dari kepolisian. Saya memeriksa plat nomer baru tersebut, memang ada capdan saya tidak melihat dia keluar dari kantor SAMSAT dengan membawa plat. Akhirnya karena saya sudah terlalu lama terlambat masuk kerja untuk mengurus pembuatan STNK baru maka saya pun buru-buru mengucapkan terima kasih dan meninggalkan dia. Bapak itu berpesan kalau memerlukan mengurus apa – apa supaya menghubungi dia lagi nanti. Saya pun mengiyakan.
Saya jadi ragu, apakah dia benar – benar petugas resmi SAMSAT atau calo ? Dan apakah pimpinan di kantor SAMSAT mengetahui permainan ini ?
Semoga kalo ada INTEL yang membaca tulisan di blog saya tentang hal ini tidak menuduh saya sedang melakukan tindakan subversif .
Berikutnya ketika STNK sudah di tangan, saya check ternyata STNK saya yang rusak dianggap tak berlaku lagi dan saya diberi STNK baru dengan nomer baru pula. Tentu setelah itu saya harus mendapat plat nomer baru, sewaktu saya check di bagian workshop dan pengajuan plat nomer kendaraan ternyata persediaan plat nomer kendaraan sudah habis hingga satu bulan ke depan. Melihat saya yang sempat tertegun karena saya harus berpikir bagaimana motor saya nanti tanpa plat nomer resmi, bapak tadi yang mengaku bernama Pak Blender mendatangi saya dan memberikan penawaran kalau mengurusnya ke dia dalam waktu setengah jam sudah jadi sementara kalau mengurus sendiri harus menunggu hingga bulan depan. Saya jadi curiga, karena ingin tahu bagaimana dia mendapatkan plat nomer kendaraan sementara persediaan di kantor SAMSAT sudah habis untuk bulan ini ( baca attachement kliping koran berikut ini tertanggal 4 Januari 2008 ) saya akhirnya mengiyakan penawarannya. Waktu saya tanya berapa harganya, katanya kalau yang resmi sekitar 15 ribu rupiah dan karena saya khusus melalui Pak Blender saya harus menambah sekian rupiah untuk uang rokok katanya. Akhirnya kita deal, harganya 20 ribu rupiah.
Saya diminta menunggu kira – kira setengah jam lagi. Akhirnya saya pergi ke kantin dan mengamatinya dari sana. Sebelumnya Pak Blender telah mencatat NOPOL motor saya dan pergi ke bagian pengajuan plat nomer. Namun tak lama kemudian saya melihatnya pergi ke luar kantor, entah kemana dan sekitar 15 menit kemudian dia sudah kembali langsung menuju ke workshop SAMSAT. Saya akhirnya keluar dari kantin dan mendatangi dia yang berubah jadi kaget dan bilang kalau lupa sedang mengurus plat nomer saya. Akhirnya dia masuk lagi ke workshop. Lima belas menit kemudian dia sudah mendatangi saya dengan plat nomer baru sesuai dengan STNK saya yang terbaru. Saya bertanya darimana dia mendapatkan plat nomer baru itu padahal di sini sedang habis. Dia tidak bisa memberikan jawaban yang jelas dan waktu saya tanya lagi, apakah dia membuat plat nomer itu di luar ? Dia berkata bahwa dia ndak pernah membawa bahan plat nomer ke kantor, lagi pula plat nomernya kan harus ada cap dari kepolisian. Saya memeriksa plat nomer baru tersebut, memang ada capdan saya tidak melihat dia keluar dari kantor SAMSAT dengan membawa plat. Akhirnya karena saya sudah terlalu lama terlambat masuk kerja untuk mengurus pembuatan STNK baru maka saya pun buru-buru mengucapkan terima kasih dan meninggalkan dia. Bapak itu berpesan kalau memerlukan mengurus apa – apa supaya menghubungi dia lagi nanti. Saya pun mengiyakan.
Saya jadi ragu, apakah dia benar – benar petugas resmi SAMSAT atau calo ? Dan apakah pimpinan di kantor SAMSAT mengetahui permainan ini ?
Semoga kalo ada INTEL yang membaca tulisan di blog saya tentang hal ini tidak menuduh saya sedang melakukan tindakan subversif .
Label:
News
Subscribe to:
Comments (Atom)