Sudah hampir 3 tahun berlalu dan Alhamdulillah saya masih di sini, bersama Oriflame dan partner2x saya menjalankan bisnisnya.
Beberapa teman sempat bertanya, bagaimana saya tetap konsisten di bisnis ini, walau kata orang banyak rintangan, banyak cercaan, banyak kesulitan, ditolak orang,bahkan ditinggalkan teman-teman yang sebelumnya akrab.
Guys…sudah 3 tahun saya menjalaninya. Pasang surut selalu ada. Ada masanya saya tidak mendapatkan order dan penghasilan sama sekali walau telah menyebarkan lebih dari 20 katalog. Memfollow up lebih dari 20 orang namun tak satupun mau bergabung menjadi member., mengundang banyak orang ke pertemuan yang saya adakan namun tidak ada satupun yang hadir, mundur di menit-menit terakhir. Partner bisnis ( downline ) yang saya bina mendadak MUNTABER ( Mundur tanpa Berita ) atau yang terang-terangan mengatakan sudah tidak sanggup lagi. Tekor karena ongkir pun pernah. Tapi apa yang membuat saya bertahan?. Karena bisnis Oriflame telah mengajari saya banyak hal. Ketika anda punya visi dan misi atas apa yang anda telah niatkan untuk dijalani maka rintangan seberat apapun tidak akan mampu menghalangi anda bahkan membuat anda berhenti. Anda tahu pelari pemecah rekor di Olimpiade? Apakah dia berhenti ketika dia kalah di Olimpiade sebelumnya? Kalau dia berhenti ketika kegagalan itu terjadi maka dia tidak akan pernah meraih rekor yang dia impikan, yang dia lakukan adalah belajar dari kegagalan itu dan makin berlatih keras. Shit can be happened,right? As Tom Hanks said, but..never give up
Sebelumnya tidak pernah terpikir oleh saya akan menjalankan sebuah bisnis dengan modal hampir nol. Coba bayangkan, join member fee nya hanya 39.900, menyisihkan uang belanja bulanan sekitar 200 ribuan yang akan kembali ketika barang dibayar oleh pemesan, keuntungan sudah bisa menutupi biaya join dan catalog yang Cuma seharga pizza hut personal pan. Kalau kemudian ada yang mengeluh, mbak saya gak punya modal, please deh girls…kalian bisa beli handphone bagus, punya blackberry, mampu beli paket internet tiap bulan, mampu beli baju baru dan aksesorisnya bahkan bila perlu menyicil, menyisihkan sebagian uang jajan atau belanja untuk bisnis kecil yang kemudian menjadi besar anda masih keberatan?. Apalagi di bulan September ini ada promo member baru. Anda cukup bergabung hanya dengan membayar 19.900 ribu ( tuh kan lebih murah dari harga paket McDonalds? ),dengan mencari orderan barang hanya 200 ribu ( sebar aja catalog minimal 10 biji, insya allah dapet deh orderan ), maka anda akan mendapatkan eyeliner stylo gratis ( senilai rp 89.000 lhooo ).
Waktu saya join dulu, belum ada promo sekeren ini, motivasi saya yang paling besar hanya satu, ingin punya penghasilan tambahan, capek dan pusing rasanya dengan gaji 15 koma ( setelah tanggal 15 koma hehehe ) terus menerus, walau suami bisa mengcover, kayaknya enak aja ya punya penghasilan tambahan yang bisa di tabung atau untuk membeli sesuatu yang saya inginkan tanpa harus membebani suami atau orang lain.
Dari bisnis skala kecil ini, kemudian saya mulai belajar banyak hal ketika saya menjadi leader dengan banyak partner, saya lebih suka menyebut downline saya partner karena mereka benar-benar adalah partner, teman curhat, teman koordinasi, bukan sekedar downline yang Cuma disuruh-suruh untuk belanja 100 poin agar dapat hadiah promo, bukan sekedar disuruh-suruh tutup poin sampai menyetok barang yang tidak diperlukan. Membuka mindset orang memang tidak mudah, tapi disitulah saya belajar bagaimana memotivasi orang, sesuatu yang mungkin tidak pernah saya dapatkan di tempat kerja karena saya hanya staf biasa tidak punya bawahan.
Lalu apalagi yang membuat saya bertahan? Saya menganggap bisnis Oriflame adalah satu-satunya bisnis yang bisa saya lakukan sambil masih bekerja. Dengan kesibukan sebagai karyawan di sebuah perusahaan PMA dengan jam kerja yang panjang, bisnis Oriflame menjadi satu2xnya pilihan. Bagaimana tidak, order barang bisa online via VIP/V3 di website Oriflame, cukup 15 menit online order di malam hari barang bisa diantar ke rumah keesokan harinya atau kadang-kadang saya datang ke kantor Oriflame di dekat Gramedia EXPO Surabaya. Menyebar katalognya bisa saya lakukan sembari melakukan aktifitas harian seperti belanja, silahturahmi dengan tetangga dan teman. Selain catalog cetak saya bisa punya akses catalog online yang bisa saya share di blog atau social media yang saya miliki sehingga saya bisa memiliki partner orang2x yang saya kenal secara online di luar kota. Produknya relative mudah dijual karena kosmetik dan bodycarenya dapat dipakai sehari-hari sehingga repeat ordernya pasti dengan berbagai pilihan harga, tidak perlu menjadi stokis dengan modal jutaan rupiah, saya sering hanya invest beberapa puluh ribu sebagai modal membeli tester produk dan biasanya sudah balik modal ketika mendapatkan pesanan. Selain keuntungan penjualan, sebagai keuntungan tambahan karena saya mengembangkan jaringan, saya mendapatkan bonus per bulan dari Oriflame melalui transfer ke rekening. Besarannya tergantung seberapa pintar saya me-maintain jaringan dan meningkatkan omzet grup. Semakin pintar saya memaintain orang dan meningkatkan penghasilan partner2x saya, maka semakin banyak bonus yang saya peroleh.
Saya tinggal ongkang2x kaki? TIDAK. BIG NO NO. saya membina mereka agar pintar dan mandiri mengelola bisnis mereka sendiri baik melalui kegiatan offline dan online.
Oriflame telah mengajari saya pengetahuan2x seputar mengelola bisnis dengan skala menengah, hingga ketika suatu saat saya ingin investasi di bisnis yang lebih besar saya sudah siap. Bahkan karena bisnis ini pula, saya menekuni kembali hobi saya menulis. Saya jadi kembali rajin membaca buku, bukan hanya sastra namun juga management bisnis, buku-buku motivasi dan biografi orang-orang sukses.
Kata teman, kalau dengan bisnis kecil saja kamu sudah mundur, maka jangan berharap mendapatkan tantangan dari bisnis yang lebih besar dengan hasil yang lebih besar.
Bisnis Oriflame adalah salah satu contoh bisnis dengan skala kecil karena hanya membutuhkan modal relative sedikit. Namun mungkin karena saking kecilnya banyak orang yang meremehkan dan meninggalkannya. Padahal banyak manfaat dan hasilnya. Kalau tantangan yang kecil saja tidak bisa anda lalui, jangan berharap mendapatkan benefit yang lebih besar seperti hadiah liburan gratis ke luar negeri, mobil gratis atau cash rewards yang besarannya WOW banget.
Alhamdulillah, saya sudah pernah merasakan mendapat hadiah liburan gratis ke Bali. Ke Bali? Eh kan semua orang bisa pergi ke Bali. Tapi tunggu dulu? Bali yang mana? Nginep di wisma atau hotel murah meriah? Ah, enggak banget lah. Oriflame ngasih saya hotel super mewah di Courtyard Marriot Nusa Dua, yang harga kamar semalamnya 1,6 juta dan saya bebas menikmati fasilitas yang ada di dalamnya, termasuk kolam renang di belakang kamar yang saya tinggali. Uhuyy….
Ini nih, sebagian foto-foto saya di Director Seminar Bali, nginepnya di Courtyard Marriot
Foto bareng motivator terkenal Darmadi Dharmawangsa yang menulis buku Fight Like Tiger Win Like A Champion? WOW bangetlah hehehehe...
Apakah saya mengecilkan bisnis lain selain Oriflame? TIDAK SAMA SEKALI. Saya justru sangat salut dengan orang-orang yang tough, ulet mengelola bisnis besar mereka, entah itu mengelola waralaba, warnet, distro, warung dan sebagainya.
Karena kesulitan-kesulitan ketika menjalankan bisnis Oriflame juga akan anda dapati di bisnis lain. Anda yang membuka toko pasti pernah mengalami toko anda sepi pengunjung, barang yang anda pesan dari supplier reject dan terpaksa harus dikembalikan, kena ongkir dan keuntungan anda terpangkas karenanya, atau ketika toko anda membuka cabang, ternyata cabang anda merugi dan terpaksa harus ditutup padahal anda sudah invest ratusan juta untuk sewa tempat, membayar karyawan dan lain-lain. Namun bayangkan bila toko anda selalu ramai pembeli, cabang toko anda menghasilkan omzet fantastis sehingga anda membuka cabang baru lagi bahkan orang lain menawarkan diri invest untuk menjualkan barang anda? Bukankah itu menarik?
Sekarang bayangkan anda menjadi member Oriflame bulan ini, dengan semangat menjalankan bisnisnya, mau invest catalog 20 buah atau lebih, punya daftar nama banyak yang bisa di follow up, mendapatkan pesanan banyak dan modal anda yang Cuma 39.900 itu kembali bahkan ada yang bisa disisihkan untuk menambah tabungan, mendapatkan hadiah-hadiah sekeren ini ketika anda berhasil menjual produk sebanyak senilai 100 poin di 3 bulan pertama anda, yang produknya bisa anda pakai sendiri, dihadiahkan atau dijual kembali?
Anda akan mendapatkan body lotion ini gratis ketika dalam waktu 30 hari pertama sejak anda bergabung anda mneghasilkan 100 poin dari katalog yang anda sebarkan ke teman-teman, tetangga atau relasi anda.
Anda sukses di bulan pertama? SELAMAT! Lanjutkan kerja keras anda dengan menghasilkan 100 poin di bulan kedua, maka anda akan mendapatkan parfum dibawah ini GRATIS.
Anda berhasil mendapatkan parfum tersebut. FANTASTIS, anda contoh leader yang konsisten. Maka lanjutkan perjalanan anda mendapatkan 100 poin di bulan ketiga, maka black beauty case ini akan menjadi miliki anda.
Anda bersemangat sekali dan ingin mendapatkan lebih? Dapatkan benefit sebagai sponsor bagi teman-teman atau relasi anda yang ingin bergabung.
Dengan hanya mensponsori 2 atau 3 orang teman anda, maka hadiah anda akan berlipat ganda.
Jadi tunggu apa lagi? silahkan kontak saya di 08123121713 atau 031-91074649 untuk informasi lebih lanjut. Silahkan posting comment anda bila anda suka. Terima kasih.
Pemesanan Produk Oriflame :
Hubungi saya, NIKEN via SMS/Whatsapp Msg di 085643172023, Telp : 08885210403
Cara Order : SMS kan nama atau kode barang dan jumlah beserta alamat pengiriman. Jumlah total pembayaran termasuk ongkir akan diinformasikan.
Barang yang dipesan akan dikirim sesuai alamat yang anda berikan setelah melakukan transfer melalui rek BCA.
Harga berubah sesuai Katalog terbaru.
Cara Order : SMS kan nama atau kode barang dan jumlah beserta alamat pengiriman. Jumlah total pembayaran termasuk ongkir akan diinformasikan.
Barang yang dipesan akan dikirim sesuai alamat yang anda berikan setelah melakukan transfer melalui rek BCA.
Harga berubah sesuai Katalog terbaru.
#KELUHAN TENTANG PEMAKAIAN PRODUK YANG DIBELI SELAINDAI BLOG, SILAHKAN DITUJUKAN KE COSTUMER CARE ORIFLAME CABANG TERDEKAT
Showing posts with label true story. Show all posts
Showing posts with label true story. Show all posts
Friday, 14 September 2012
Wednesday, 6 February 2008
Sensasi Hujan
Ada satu ritual unik yang paling saya suka, menikmati hujan. Dimulai dari membaui aroma rumput dan tanah basah oleh gerimis, bahkan seperti anjing, kadang saya bisa tahu, akan turun hujan atau tidak dari aroma udara ( kalo gitu ndak butuh ramalan BMG dong, tinggal suruh saya mengendus saja hahaha ).
Seperti tanah dan pepohonan yang merindukan hujan, saya pun kadang – kadang kangen hujan – hujanan seperti masa kecil dulu. Meski setelah itu badan saya demam dan pilek. Bahkan hingga dewasa kini, saya masih suka berhujan – hujan. Merasakan aromanya, sensasi air yang menetes membasahi kulit, udara dingin yang menggigit namun membangkitkan kesegaran. Cukup untuk mendinginkan kepala yang ‘panas’ karena urusan macam – macam yang kadang – kadang bisa membuat stress, jutek dan suntuk. Denger –denger, mengguyur kepala dengan air dingin juga dilakukan untuk pasien rumah sakit jiwa agar mereka sedikit tenang.
Ada pengalaman lucu, saya pernah di uber – uber seorang bapak –bapak dengan membawa payung ditangannya.
Saat itu saya kebetulan sedang berkunjung ke kota kecil Ashikaga - Jepang, nekat berjalan dalam gerimis. Dia mengira saya lupa membawa payung, melihat wajahnya dan usahanya turun dari lantai 3 hotel lalu meminjami saya payung saya jadi tidak tega menolak, saya ucapkan “doumo arigatou gozaimasu” , meminta maaf karena sudah merepotkan dia. Ternyata dia adalah bapak penjaga meja resepsionist yang sering saya titipi kunci kalo saya pergi keluar hotel. Ternyata di sana tidak lazim berjalan dalam gerimis atau hujan tanpa payung. Mungkin bapak – bapak itu sudah menanggap saya gila atau minimal pikun karena tidak membawa payung.
Bagi saya yang orang Indonesia, hujannya pun sebenarnya tak terlalu lebat hanya gerimis namun dengan intensitas yang lumayan tinggi, saya memang sengaja ndak membawa payung karena saya cuma ingin pergi ke supermarket dekat hotel dan saya hanya ingin membeli kopi instan panas dan membawanya ke kursi stasiun di belakang hotel menikmati suara kereta api berlalu lalang ( ini satu lagi ritual aneh saya, nongkrong di stasiun kereta api ). Lumayan, hari itu kebetulan weekend saya bisa melarikan diri dari si mister jambul yang mengawal kemana saja saya pergi karena saya adalah tamu perusahaannya. Esoknya dia marah – marah mengomeli saya karena saya berkeliaran tanpa pengawalan dia, sebenarnya dia takut terjadi sesuatu karena saya orang asing di Jepang. Bukannya saya sok berani karena kebetulan saya bisa sedikit berbahasa Jepang dan masih cukup memadai bila digunakan untuk berklinong – klinong sendiri ke mall terdekat atau stasiun sembari memperhatikan segerombolan remaja Jepang yang rambutnya dicat berwarna – warni. Masak iya, hanya karena saya ingin main hujan – hujanan kudu dikawal dia pula.
Pagi ini, seperti kebiasaan Tahun Imlek yang sudah – sudah, hujan kembali turun. Meski tak lebat dan hanya gerimis namun saya masih berkesempatan merasakannya di halaman rumah. Gerimis kecil namun kerep membasahi kulit tangan saya, lalu seperti anak kecil yang baru melihat hujan turun berdiri bodoh sambil menadahkan tangan. Seperti di tusuk – tusuk jarum – jarum akupunktur, enak sekali. Kalau ndak percaya, coba saja, mumpung masih musim hujan dan masih berkesempatan melihat hujan.
Seperti tanah dan pepohonan yang merindukan hujan, saya pun kadang – kadang kangen hujan – hujanan seperti masa kecil dulu. Meski setelah itu badan saya demam dan pilek. Bahkan hingga dewasa kini, saya masih suka berhujan – hujan. Merasakan aromanya, sensasi air yang menetes membasahi kulit, udara dingin yang menggigit namun membangkitkan kesegaran. Cukup untuk mendinginkan kepala yang ‘panas’ karena urusan macam – macam yang kadang – kadang bisa membuat stress, jutek dan suntuk. Denger –denger, mengguyur kepala dengan air dingin juga dilakukan untuk pasien rumah sakit jiwa agar mereka sedikit tenang.
Ada pengalaman lucu, saya pernah di uber – uber seorang bapak –bapak dengan membawa payung ditangannya.
Saat itu saya kebetulan sedang berkunjung ke kota kecil Ashikaga - Jepang, nekat berjalan dalam gerimis. Dia mengira saya lupa membawa payung, melihat wajahnya dan usahanya turun dari lantai 3 hotel lalu meminjami saya payung saya jadi tidak tega menolak, saya ucapkan “doumo arigatou gozaimasu” , meminta maaf karena sudah merepotkan dia. Ternyata dia adalah bapak penjaga meja resepsionist yang sering saya titipi kunci kalo saya pergi keluar hotel. Ternyata di sana tidak lazim berjalan dalam gerimis atau hujan tanpa payung. Mungkin bapak – bapak itu sudah menanggap saya gila atau minimal pikun karena tidak membawa payung.
Bagi saya yang orang Indonesia, hujannya pun sebenarnya tak terlalu lebat hanya gerimis namun dengan intensitas yang lumayan tinggi, saya memang sengaja ndak membawa payung karena saya cuma ingin pergi ke supermarket dekat hotel dan saya hanya ingin membeli kopi instan panas dan membawanya ke kursi stasiun di belakang hotel menikmati suara kereta api berlalu lalang ( ini satu lagi ritual aneh saya, nongkrong di stasiun kereta api ). Lumayan, hari itu kebetulan weekend saya bisa melarikan diri dari si mister jambul yang mengawal kemana saja saya pergi karena saya adalah tamu perusahaannya. Esoknya dia marah – marah mengomeli saya karena saya berkeliaran tanpa pengawalan dia, sebenarnya dia takut terjadi sesuatu karena saya orang asing di Jepang. Bukannya saya sok berani karena kebetulan saya bisa sedikit berbahasa Jepang dan masih cukup memadai bila digunakan untuk berklinong – klinong sendiri ke mall terdekat atau stasiun sembari memperhatikan segerombolan remaja Jepang yang rambutnya dicat berwarna – warni. Masak iya, hanya karena saya ingin main hujan – hujanan kudu dikawal dia pula.
Pagi ini, seperti kebiasaan Tahun Imlek yang sudah – sudah, hujan kembali turun. Meski tak lebat dan hanya gerimis namun saya masih berkesempatan merasakannya di halaman rumah. Gerimis kecil namun kerep membasahi kulit tangan saya, lalu seperti anak kecil yang baru melihat hujan turun berdiri bodoh sambil menadahkan tangan. Seperti di tusuk – tusuk jarum – jarum akupunktur, enak sekali. Kalau ndak percaya, coba saja, mumpung masih musim hujan dan masih berkesempatan melihat hujan.
Label:
true story
Sunday, 3 February 2008
Cinta Sunyi
Aku senang sekali mendengarkan suara hujan di malam hari ketika aku sendiri dan suasana hening hanya suara air menimpa atap dan jalanan di depan rumah. Membaui aroma tanah dan rerumputan basah.
Hiburanku satu-satunya hanya laptopku dan musik dari MP3 player. Kadang-kadang aku membaca buku hingga larut malam ketika aku tak bisa tidur. Sementara untuk acara kencan di malam minggu aku tak punya. Sesekali beberapa teman laki-laki mengajakku pergi, tapi jarang kuterima.
Seperti sabtu malam ini, hujan kembali turun. Aku terjaga di depan mejaku, kubuka jendela lebar-lebar, sambil menikmati secangkir kopi panas, aku melihat ke bawah. Sepasang remaja berusaha berteduh dari hujan dengan sebuah jaket milik sang cowok. Aku tersenyum.
Mereka mungkin bisa jadi telah mengalami berulang kali patah hati sebelum akhirnya menemukan cinta sejatinya.
Aku jadi teringat Eliza, sahabatku semasa sekolah dulu. Eliza cantik, bahkan nyaris sempurna dan juga pintar. Kulitnya putih bersih, rambutnya coklat kemerahan seperti cewek bule, matanya ? beautiful brown eyes yang bisa bikin para lelaki tergila-gila padanya. Menurutku dia mirip artis cilik Shirley Temple bahkan dalam usianya yang sudah bukan remaja lagi. Iseng-iseng aku dan Eliza menelusuri silsilah keluarganya. Pantes bau bule, buyutnya keturunan kompeni eh Belanda ding. Kadang-kadang bila sedang berjalan di sampingnya aku merasa jadi si itik buruk rupa. Tapi kata teman-temanku yang lain, aku lebih mirip bodyguard daripada itik.
Seharusnya dengan wajah cantik, hati yang baik dan otak yang encer Eliza bisa punya pacar, hanya anehnya hingga kini dia masih belum punya pacar tetap, hanya Tuhan Yang Maha Tahu kenapa tak satupun dari semua laki-laki yang pernah dekat dengannya menjadi pacarnya. Apa yang salah ? Entahlah.
Cinta memang kadang berlaku di luar logika. Cinta memang bukan matematika, satu ditambah satu sama dengan dua. Apa yang mungkin terjadi menurut nalar, bisa jadi mustahil kalau sudah berhubungan dengan cinta. Bahkan Lia yang sebenernya nggak cantik-cantik amat, nggak pinter banget eh malah punya suami dokter.
Kadang kupikir barangkali Eliza yang terlalu pemilih, terlalu idealis bahkan pernah kukatakan padanya seharusnya Eliza mencintai orangnya bukan deskripsi. Simak saja apa yang diinginkannya dalam diri laki-laki pilihannya, baik, ganteng, putih, tinggi, pinter dan berkacamata. Barangkali dia lebih cocok dengan mister Jambul, si Jepang gila rekan kerjaku yang lebih suka kupanggil Jambul daripada nama aslinya karena rambutnya berjambul seperti ayam jago. Aku tak menyalahkan Eliza, semua orang berhak memiliki seseorang yang diidamkan, bahkan aku pun punya penggambaran laki-laki yang aku inginkan jadi pasangan hidupku kelak.
Tapi yang aku kagumi dari Eliza, meski sering berganti pasangan dan sesekali putus nyambung dengan pacar-pacarnya, Eliza tetap ceria. Kadang-kadang memang aku nggak ngerti dengan kegilaan temenku cewek satu ini. Hari ini putus cinta, besok sudah ketawa-ketawa lagi, hari berikutnya sudah jalan dengan yang lain lagi, seolah tidak ada beban hidup yang berat buatnya. Hidupnya itu bagai air yang mengalir, jalanin aja apa adanya, gitu prinsipnya.
Cinta yang bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan. Namun lebih menyakitkan lagi bila saling mencintai namun tak bisa bersama.
Sesekali Eliza bersedih hati ketika dia bener-bener cinta mati dengan sang lelaki, namun ternyata bertepuk sebelah tangan, si lelaki Cuma menganggapnya teman ( tapi kok mereka mesra ya..), atau ketika mereka saling menyayangi, ada saja hal yang membuat mereka terpaksa harus berpisah.
Aku tak pernah keberatan menjadi teman curhatnya. Ada persamaan antara aku dan Eliza, sama-sama tak punya pacar, jadi malam minggu kami selalu bersama. Kadang-kadang aku ke rumahnya dan kita ngobrol berjam-jam, atau Eliza datang ke tempatku. Eliza pernah bertanya padaku kenapa aku bisa sesantai ini meski tak ada pacar.
“Tidakkah kamu ingin disayang dan diperhatikan seseorang ?”, tanya Eliza padaku suatu saat.
“Pacar itu penting ya ?”, aku malah balik bertanya yang kemudian malah menuai timpukan bantal, buku dan bolpen dari Eliza.
Sesekali aku memang ingin diperhatikan dan disayang seseorang, misalnya salah satu dari teman laki-laki yang selama ini dekat denganku. Tapi aku mungkin memang orang aneh seperti yang dikatakan Eliza padaku karena aku tak pernah menuntut untuk dijadikan pacar atau menjadikan mereka pacar. Mencintai dan dicintai itu kan nggak harus saling memiliki dan dimiliki, argumenku ketika Eliza menanyakan alasanku men-jomblo semasa sekolah dulu. Lagi pula aku dulu terlalu berambisi menjadi seorang penulis, jadi waktuku lebih banyak kupakai untuk banyak membaca buku, belajar menulis pada guru sastra Indonesia, jalan-jalan atau mengurusi mading sekolah. Lagi pula sebagian besar laki-laki yang dekat denganku lebih sering kujadikan sumber inspirasi puisi atau cerpenku. Mereka adalah orang-orang yang unik dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
“Sialan luh”, kata Eliza setelah mendengar alasanku dekat dengan mereka.
“Lho, emang salah ? Lha wong para cowok pelukis biasa dekat obyek lukisnya supaya lukisan mereka ‘hidup’, mana kadang-kadang disuruh bugil lagi, aku kan nggak sampe segitunya nyuruh mereka bugil”. Eliza tertawa ngakak lalu menjitak kepalaku.
Kukira, kalau seluruh kisah cinta Eliza dikumpulkan bisa jadi sebuah buku atau novel.
Kisah cinta pertama Eliza. Kami masih terlalu muda saat itu, awal masa remaja yang indah. Hingga kini aku masih saja selalu penasaran kenapa pada masa itu ada sebutan cinta monyet bukan ayam atau beruang ( emang yang bisa bercinta Cuma monyet doang ? )
Laki-laki itu bernama Dewa, laki-laki kelahiran pulau Dewata Bali, manis, pintar, baik, berkacamata ( walau tak berkulit putih ), apalagi dia punya suara merdu yang menjadikannya juara pertama lomba menyanyi di sekolah. Hampir semua teman perempuan menggilainya, terutama Eliza, kecuali aku yang saat itu sedang dekat dengan Joe, si pujangga sekolah yang terkenal dengan puisi-puisinya yang romantis dan banyak digilai cewek pula. Eliza dan Dewa memang cukup sering bertemu karena mereka satu kelompok belajar dan aku yakin sekali saat-saat yang dinantikan Eliza adalah ketika mereka belajar bersama. Aku barangkali memang tak terlalu pintar matematika dan agak payah dalam pelajaran fisika, tapi aku cukup jeli menangkap kedekatan mereka.
“Sejelas kamu melihat pensil ini, El”, kataku ketika Eliza bertanya bagaimana aku bisa tahu perasaannya pada Dewa sebelum Eliza sempat curhat denganku. Namun sayang, semuanya berakhir ketika kami lulus dan berpisah seiring dengan perbedaan keyakinan antara Dewa dan Eliza. Dewa dan aku masih satu sekolah, namun Eliza tidak. Jadi sesekali Eliza masih meminta informasi kepadaku dengan siapa Dewa sekarang berhubungan. Barangkali Eliza masih menyimpan kenangan manis pahit itu. Meski demikian ‘life must go on’, di sekolahnya yang baru Eliza telah menemukan pengganti Dewa, meski kembali tak satupun yang jadi pacar tetap hingga lulus SMA.
Laki-laki itu makhluk yang susah dimengerti apa maunya. Egois dan inginnya menang sendiri. Kadang kupikir kenapa Tuhan menciptakan mereka untuk kami para perempuan. Tapi seperti matahari yang kadang bersinar terik menjengkelkan, kami akan selalu membutuhkan mereka.
Satu lagi laki-laki hadir dalam kehidupan Eliza. Irul, teman kuliahnya di Sastra Inggris. Dia mungkin laki-laki yang baik dan penuh perhatian namun kadang lidahnya nyinyir seperti nenek-nenek. Entah apa yang diharapkannya dari perempuan. Irul memang care, sekaligus cerewet untuk urusan penampilan. Dia tak akan segan-segan mengomentari Eliza yang tomboy seperti aku atau terlalu ramah dan terbuka dengan teman-teman laki-laki lainnya. Kenapa cinta bisa menjadi belenggu ?. Tak terbayangkan oleh Eliza sebelumnya mereka akan terjebak cinta segitiga ala anak kuliahan.
Dengan dalih ingin kerja sambil kuliah, Eliza memilih kuliah malam, beda denganku yang siang-siang berkejaran dengan bus kota dan terik matahari, Eliza kadang-kadang harus nebeng mobil teman takut kemalaman. Dan itu menjadi awal hubungan Eliza dengan Irul.
Berawal dari acara pinjam buku, menyelesaikan assigment, cari buku bareng di perpustakaan, pulang bersama dan lain-lain mereka makin akrab. Apalagi Irul cukup manis, tinggi, gentleman, agak putih dan berkacamata. Komplit sudah sesuai kriteria pria idaman Eliza, karena itu Eliza rela ‘dipermak’ Irul. Eliza mulai berubah dari cara bicara, berpakaian dan sikap. Lebih feminin. Mungkin itu perubahan ke arah yang lebih baik. Tapi menurutku, tak perlu menjadi orang lain untuk bisa dicintai. Just love the way you are .
Lalu datanglah mimpi buruk itu. Irul berterus terang kalau dia sudah bertunangan dan masih berhubungan dengan mantan pacarnya yang dulu. Dan konyolnya dia berkata kalau sebenarnya ia ingin kembali dengan mantan pacarnya, pertunangan itu adalah rekayasa keluarga. Dan di mana Eliza ? siapa Eliza baginya ?. lagi-lagi Eliza harus patah.
Barangkali petualangan Eliza yang paling gila adalah ketika ia jatuh cinta pada seorang laki-laki yang sekalipun tak pernah bertemu dengannya. Cuma via SMS. Love is blind ? Atau cerita cinta ala Kahlil Gibran dan May Ziadah kembali berulang ?
Berawal dari sahabatku yang iseng menjodohkan Eliza dengan Dion, si playboy kampusku. Gayung bersambut, setelah saling bertukar nomer handphone, Eliza dan Dion pun saling kontak. Mulai dari SMS sekedar iseng bertanya kabar hingga yang isinya agak nyerempet ke arah serius, mereka janji untuk bertemu.
Aku sendiri tak yakin dengan hubungan jarak jauh semacam ini. Apalagi mereka belum pernah bertemu ditambah dengan reputasi Dion yang bagiku agak meragukan.
“Gimana kalau misalnya Dion itu jelek nggak ketulungan, panuan, berkutu dan lain-lain “, tanyaku.
“Katamu love is not just a physical attraction ? “, kata Eliza sambil cengengesan.
Tapi hari demi hari Dion berhasil meyakinkan Eliza kalau mereka sedang menuju ke arah hubungan yang serius meski belum punya kesempatan untuk bertemu langsung. Setiap kali mereka akan bertemu selalu saja ada halangan. Yang Dion harus mengantar kakaknya pergi keluar kota, ibunya sakit, teman lagi butuh bantuannya.
“Kucing tetangga beranaklah”, tambahku lagi ketika Dion membatalkan sekali lagi kencan mereka.
“Kamu yakin El, atas kesungguhan Dion ?”, tanyaku dan Eliza mengangguk mantap, aku Cuma bisa angkat bahu.
Dengan bantuanku, mereka bertukar foto, aku sampai tegang menanti reaksi Eliza setelah melihat tampang Dion yang jauh dari kriteria ‘perfect’ seperti yang Eliza inginkan. Cuma yang bikin aku heran, cowok yang termasuk kriteria ‘biasa-biasa’ ini ternyata digilai banyak perempuan di kampus.
Dan Eliza bisa menerima begitu saja. Ini keajaiban. Cinta memang ajaib sekaligus membingungkan.
Apa yang terjadi dengan Dion, sungguh di luar dugaanku. Sekali lagi ini adalah keajaiban, ternyata Dion malah mundur dan menghilang begitu saja dari kehidupan Eliza.
“Eliza terlalu cantik buatku”, begitu katanya padaku ketika kutanya kenapa dia pergi meninggalkan Eliza.
Aku mengerutkan dahi, berpikir keras, alasan apapula ini ?
”Bukannya kamu Cuma ingin memperpanjang daftar perempuan yang sudah kau buat patah hati ?”, tanyaku lagi
“Runa, kamu kok sinis banget sih!”. Setelah itu Dion pergi meninggalkanku dalam ketidakmengertian.
Itu adalah tamparan telak yang paling dirasakan Eliza, sekaligus membukakan mataku bahwa kesempurnaan fisik bukan segalanya. Eliza sempat kehilangan rasa percaya dirinya. Dia yang selama ini dianggap ratu, baik, cantik dan pintar ternyata ditolak oleh laki-laki biasa seperti Dion.
Laki-laki itu makhluk rumit serupa teka-teki yang sulit ditebak.
“Bukan salahmu El, Dion aja yang goblok. Emang di dunia ini persentase laki-laki bodoh dan pinter nggak jauh beda, sama banyak”.
Ketika Eliza bersedih hati, aku berusaha menghiburnya. Kata orang bijak, ketika pintu kebahagiaan yang satu tertutup, pintu yang lain dibukakan oleh-Nya. Meski Eliza belum memiliki pasangan hingga kini, tapi aku memintanya untuk yakin dan bersyukur atas apa yang telah dimilikinya sekarang. Fisik yang sempurna, keluarga dan teman-teman yang sangat menyayanginya. Meski dia pernah bertanya padaku suatu kali barangkali dia perlu diet, creambath, rebonding, pergi fitness atau ke spa, tampil seksi atau yang semacamnya, kukatakan padanya bahwa dia tak perlu memakai topeng untuk menarik perhatian laki-laki.
“Kita bukan merak yang kudu punya ekor yang bagus dan berwarna-warni untuk mendapatkan pejantan,” begitu kataku. Dan semua kejadian itu semoga tak berhenti membuatnya mencintai sesama. Meski cintanya sunyi tanpa gaung, tanpa gema.
Pagi ini ketika aku sedang mencabuti rumput liar di sela bunga- bunga di ‘rimba kecilku’, aku kembali mendengar sapaan centil itu
“Haii…..”.
Aku menoleh, Eliza ? dan olala…siapa lagi laki-laki yang sedang berdiri di sampingnya ?
“Stock baru ?”, tanyaku berbisik di telinganya. Eliza nyengir.
”Nemu di mana ?”, tanyaku lagi sambil melirik laki-laki itu.
”Ntar aku ceritain, sekarang ikut kami hang out yuk!”.
Jadilah hari itu aku harus menjadi obat nyamuk, istilah Eliza bila dia mengajakku jalan-jalan dengan pacarnya. Dia selalu meminta pendapatku bila ada laki-laki yang dekat dengannya. Kata Eliza dia percaya dengan instingku, apakah dia laki-laki baik atau tidak.
”Kalau kukatakan dia tidak baik, tapi kamu tetap cinta padanya gimana ?”, tanyaku
”Itu lain soal, dana bantuan politik saja bisa di mark-up, masak yang ini nggak bisa dibikin baik”, begitu komentarnya ringan.
Laki-laki itu namanya Rian, cukup manis dan lumayan enak untuk teman hang out dan ngobrol. Tapi kukatakan pada Eliza untuk tidak cepat-cepat jatuh cinta pada kesan pertama karena kita tidak pernah tahu apa yang ada di hati dan otak laki-laki. Namun itu adalah kelemahan Eliza, terlalu cepat percaya, terlalu cepat jatuh cinta dan terlalu mudah untuk dibuat jatuh cinta. Lagi-lagi cintanya berujung sunyi, karena Eliza harus kehilangan lagi.
Hiburanku satu-satunya hanya laptopku dan musik dari MP3 player. Kadang-kadang aku membaca buku hingga larut malam ketika aku tak bisa tidur. Sementara untuk acara kencan di malam minggu aku tak punya. Sesekali beberapa teman laki-laki mengajakku pergi, tapi jarang kuterima.
Seperti sabtu malam ini, hujan kembali turun. Aku terjaga di depan mejaku, kubuka jendela lebar-lebar, sambil menikmati secangkir kopi panas, aku melihat ke bawah. Sepasang remaja berusaha berteduh dari hujan dengan sebuah jaket milik sang cowok. Aku tersenyum.
Mereka mungkin bisa jadi telah mengalami berulang kali patah hati sebelum akhirnya menemukan cinta sejatinya.
Aku jadi teringat Eliza, sahabatku semasa sekolah dulu. Eliza cantik, bahkan nyaris sempurna dan juga pintar. Kulitnya putih bersih, rambutnya coklat kemerahan seperti cewek bule, matanya ? beautiful brown eyes yang bisa bikin para lelaki tergila-gila padanya. Menurutku dia mirip artis cilik Shirley Temple bahkan dalam usianya yang sudah bukan remaja lagi. Iseng-iseng aku dan Eliza menelusuri silsilah keluarganya. Pantes bau bule, buyutnya keturunan kompeni eh Belanda ding. Kadang-kadang bila sedang berjalan di sampingnya aku merasa jadi si itik buruk rupa. Tapi kata teman-temanku yang lain, aku lebih mirip bodyguard daripada itik.
Seharusnya dengan wajah cantik, hati yang baik dan otak yang encer Eliza bisa punya pacar, hanya anehnya hingga kini dia masih belum punya pacar tetap, hanya Tuhan Yang Maha Tahu kenapa tak satupun dari semua laki-laki yang pernah dekat dengannya menjadi pacarnya. Apa yang salah ? Entahlah.
Cinta memang kadang berlaku di luar logika. Cinta memang bukan matematika, satu ditambah satu sama dengan dua. Apa yang mungkin terjadi menurut nalar, bisa jadi mustahil kalau sudah berhubungan dengan cinta. Bahkan Lia yang sebenernya nggak cantik-cantik amat, nggak pinter banget eh malah punya suami dokter.
Kadang kupikir barangkali Eliza yang terlalu pemilih, terlalu idealis bahkan pernah kukatakan padanya seharusnya Eliza mencintai orangnya bukan deskripsi. Simak saja apa yang diinginkannya dalam diri laki-laki pilihannya, baik, ganteng, putih, tinggi, pinter dan berkacamata. Barangkali dia lebih cocok dengan mister Jambul, si Jepang gila rekan kerjaku yang lebih suka kupanggil Jambul daripada nama aslinya karena rambutnya berjambul seperti ayam jago. Aku tak menyalahkan Eliza, semua orang berhak memiliki seseorang yang diidamkan, bahkan aku pun punya penggambaran laki-laki yang aku inginkan jadi pasangan hidupku kelak.
Tapi yang aku kagumi dari Eliza, meski sering berganti pasangan dan sesekali putus nyambung dengan pacar-pacarnya, Eliza tetap ceria. Kadang-kadang memang aku nggak ngerti dengan kegilaan temenku cewek satu ini. Hari ini putus cinta, besok sudah ketawa-ketawa lagi, hari berikutnya sudah jalan dengan yang lain lagi, seolah tidak ada beban hidup yang berat buatnya. Hidupnya itu bagai air yang mengalir, jalanin aja apa adanya, gitu prinsipnya.
Cinta yang bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan. Namun lebih menyakitkan lagi bila saling mencintai namun tak bisa bersama.
Sesekali Eliza bersedih hati ketika dia bener-bener cinta mati dengan sang lelaki, namun ternyata bertepuk sebelah tangan, si lelaki Cuma menganggapnya teman ( tapi kok mereka mesra ya..), atau ketika mereka saling menyayangi, ada saja hal yang membuat mereka terpaksa harus berpisah.
Aku tak pernah keberatan menjadi teman curhatnya. Ada persamaan antara aku dan Eliza, sama-sama tak punya pacar, jadi malam minggu kami selalu bersama. Kadang-kadang aku ke rumahnya dan kita ngobrol berjam-jam, atau Eliza datang ke tempatku. Eliza pernah bertanya padaku kenapa aku bisa sesantai ini meski tak ada pacar.
“Tidakkah kamu ingin disayang dan diperhatikan seseorang ?”, tanya Eliza padaku suatu saat.
“Pacar itu penting ya ?”, aku malah balik bertanya yang kemudian malah menuai timpukan bantal, buku dan bolpen dari Eliza.
Sesekali aku memang ingin diperhatikan dan disayang seseorang, misalnya salah satu dari teman laki-laki yang selama ini dekat denganku. Tapi aku mungkin memang orang aneh seperti yang dikatakan Eliza padaku karena aku tak pernah menuntut untuk dijadikan pacar atau menjadikan mereka pacar. Mencintai dan dicintai itu kan nggak harus saling memiliki dan dimiliki, argumenku ketika Eliza menanyakan alasanku men-jomblo semasa sekolah dulu. Lagi pula aku dulu terlalu berambisi menjadi seorang penulis, jadi waktuku lebih banyak kupakai untuk banyak membaca buku, belajar menulis pada guru sastra Indonesia, jalan-jalan atau mengurusi mading sekolah. Lagi pula sebagian besar laki-laki yang dekat denganku lebih sering kujadikan sumber inspirasi puisi atau cerpenku. Mereka adalah orang-orang yang unik dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
“Sialan luh”, kata Eliza setelah mendengar alasanku dekat dengan mereka.
“Lho, emang salah ? Lha wong para cowok pelukis biasa dekat obyek lukisnya supaya lukisan mereka ‘hidup’, mana kadang-kadang disuruh bugil lagi, aku kan nggak sampe segitunya nyuruh mereka bugil”. Eliza tertawa ngakak lalu menjitak kepalaku.
Kukira, kalau seluruh kisah cinta Eliza dikumpulkan bisa jadi sebuah buku atau novel.
Kisah cinta pertama Eliza. Kami masih terlalu muda saat itu, awal masa remaja yang indah. Hingga kini aku masih saja selalu penasaran kenapa pada masa itu ada sebutan cinta monyet bukan ayam atau beruang ( emang yang bisa bercinta Cuma monyet doang ? )
Laki-laki itu bernama Dewa, laki-laki kelahiran pulau Dewata Bali, manis, pintar, baik, berkacamata ( walau tak berkulit putih ), apalagi dia punya suara merdu yang menjadikannya juara pertama lomba menyanyi di sekolah. Hampir semua teman perempuan menggilainya, terutama Eliza, kecuali aku yang saat itu sedang dekat dengan Joe, si pujangga sekolah yang terkenal dengan puisi-puisinya yang romantis dan banyak digilai cewek pula. Eliza dan Dewa memang cukup sering bertemu karena mereka satu kelompok belajar dan aku yakin sekali saat-saat yang dinantikan Eliza adalah ketika mereka belajar bersama. Aku barangkali memang tak terlalu pintar matematika dan agak payah dalam pelajaran fisika, tapi aku cukup jeli menangkap kedekatan mereka.
“Sejelas kamu melihat pensil ini, El”, kataku ketika Eliza bertanya bagaimana aku bisa tahu perasaannya pada Dewa sebelum Eliza sempat curhat denganku. Namun sayang, semuanya berakhir ketika kami lulus dan berpisah seiring dengan perbedaan keyakinan antara Dewa dan Eliza. Dewa dan aku masih satu sekolah, namun Eliza tidak. Jadi sesekali Eliza masih meminta informasi kepadaku dengan siapa Dewa sekarang berhubungan. Barangkali Eliza masih menyimpan kenangan manis pahit itu. Meski demikian ‘life must go on’, di sekolahnya yang baru Eliza telah menemukan pengganti Dewa, meski kembali tak satupun yang jadi pacar tetap hingga lulus SMA.
Laki-laki itu makhluk yang susah dimengerti apa maunya. Egois dan inginnya menang sendiri. Kadang kupikir kenapa Tuhan menciptakan mereka untuk kami para perempuan. Tapi seperti matahari yang kadang bersinar terik menjengkelkan, kami akan selalu membutuhkan mereka.
Satu lagi laki-laki hadir dalam kehidupan Eliza. Irul, teman kuliahnya di Sastra Inggris. Dia mungkin laki-laki yang baik dan penuh perhatian namun kadang lidahnya nyinyir seperti nenek-nenek. Entah apa yang diharapkannya dari perempuan. Irul memang care, sekaligus cerewet untuk urusan penampilan. Dia tak akan segan-segan mengomentari Eliza yang tomboy seperti aku atau terlalu ramah dan terbuka dengan teman-teman laki-laki lainnya. Kenapa cinta bisa menjadi belenggu ?. Tak terbayangkan oleh Eliza sebelumnya mereka akan terjebak cinta segitiga ala anak kuliahan.
Dengan dalih ingin kerja sambil kuliah, Eliza memilih kuliah malam, beda denganku yang siang-siang berkejaran dengan bus kota dan terik matahari, Eliza kadang-kadang harus nebeng mobil teman takut kemalaman. Dan itu menjadi awal hubungan Eliza dengan Irul.
Berawal dari acara pinjam buku, menyelesaikan assigment, cari buku bareng di perpustakaan, pulang bersama dan lain-lain mereka makin akrab. Apalagi Irul cukup manis, tinggi, gentleman, agak putih dan berkacamata. Komplit sudah sesuai kriteria pria idaman Eliza, karena itu Eliza rela ‘dipermak’ Irul. Eliza mulai berubah dari cara bicara, berpakaian dan sikap. Lebih feminin. Mungkin itu perubahan ke arah yang lebih baik. Tapi menurutku, tak perlu menjadi orang lain untuk bisa dicintai. Just love the way you are .
Lalu datanglah mimpi buruk itu. Irul berterus terang kalau dia sudah bertunangan dan masih berhubungan dengan mantan pacarnya yang dulu. Dan konyolnya dia berkata kalau sebenarnya ia ingin kembali dengan mantan pacarnya, pertunangan itu adalah rekayasa keluarga. Dan di mana Eliza ? siapa Eliza baginya ?. lagi-lagi Eliza harus patah.
Barangkali petualangan Eliza yang paling gila adalah ketika ia jatuh cinta pada seorang laki-laki yang sekalipun tak pernah bertemu dengannya. Cuma via SMS. Love is blind ? Atau cerita cinta ala Kahlil Gibran dan May Ziadah kembali berulang ?
Berawal dari sahabatku yang iseng menjodohkan Eliza dengan Dion, si playboy kampusku. Gayung bersambut, setelah saling bertukar nomer handphone, Eliza dan Dion pun saling kontak. Mulai dari SMS sekedar iseng bertanya kabar hingga yang isinya agak nyerempet ke arah serius, mereka janji untuk bertemu.
Aku sendiri tak yakin dengan hubungan jarak jauh semacam ini. Apalagi mereka belum pernah bertemu ditambah dengan reputasi Dion yang bagiku agak meragukan.
“Gimana kalau misalnya Dion itu jelek nggak ketulungan, panuan, berkutu dan lain-lain “, tanyaku.
“Katamu love is not just a physical attraction ? “, kata Eliza sambil cengengesan.
Tapi hari demi hari Dion berhasil meyakinkan Eliza kalau mereka sedang menuju ke arah hubungan yang serius meski belum punya kesempatan untuk bertemu langsung. Setiap kali mereka akan bertemu selalu saja ada halangan. Yang Dion harus mengantar kakaknya pergi keluar kota, ibunya sakit, teman lagi butuh bantuannya.
“Kucing tetangga beranaklah”, tambahku lagi ketika Dion membatalkan sekali lagi kencan mereka.
“Kamu yakin El, atas kesungguhan Dion ?”, tanyaku dan Eliza mengangguk mantap, aku Cuma bisa angkat bahu.
Dengan bantuanku, mereka bertukar foto, aku sampai tegang menanti reaksi Eliza setelah melihat tampang Dion yang jauh dari kriteria ‘perfect’ seperti yang Eliza inginkan. Cuma yang bikin aku heran, cowok yang termasuk kriteria ‘biasa-biasa’ ini ternyata digilai banyak perempuan di kampus.
Dan Eliza bisa menerima begitu saja. Ini keajaiban. Cinta memang ajaib sekaligus membingungkan.
Apa yang terjadi dengan Dion, sungguh di luar dugaanku. Sekali lagi ini adalah keajaiban, ternyata Dion malah mundur dan menghilang begitu saja dari kehidupan Eliza.
“Eliza terlalu cantik buatku”, begitu katanya padaku ketika kutanya kenapa dia pergi meninggalkan Eliza.
Aku mengerutkan dahi, berpikir keras, alasan apapula ini ?
”Bukannya kamu Cuma ingin memperpanjang daftar perempuan yang sudah kau buat patah hati ?”, tanyaku lagi
“Runa, kamu kok sinis banget sih!”. Setelah itu Dion pergi meninggalkanku dalam ketidakmengertian.
Itu adalah tamparan telak yang paling dirasakan Eliza, sekaligus membukakan mataku bahwa kesempurnaan fisik bukan segalanya. Eliza sempat kehilangan rasa percaya dirinya. Dia yang selama ini dianggap ratu, baik, cantik dan pintar ternyata ditolak oleh laki-laki biasa seperti Dion.
Laki-laki itu makhluk rumit serupa teka-teki yang sulit ditebak.
“Bukan salahmu El, Dion aja yang goblok. Emang di dunia ini persentase laki-laki bodoh dan pinter nggak jauh beda, sama banyak”.
Ketika Eliza bersedih hati, aku berusaha menghiburnya. Kata orang bijak, ketika pintu kebahagiaan yang satu tertutup, pintu yang lain dibukakan oleh-Nya. Meski Eliza belum memiliki pasangan hingga kini, tapi aku memintanya untuk yakin dan bersyukur atas apa yang telah dimilikinya sekarang. Fisik yang sempurna, keluarga dan teman-teman yang sangat menyayanginya. Meski dia pernah bertanya padaku suatu kali barangkali dia perlu diet, creambath, rebonding, pergi fitness atau ke spa, tampil seksi atau yang semacamnya, kukatakan padanya bahwa dia tak perlu memakai topeng untuk menarik perhatian laki-laki.
“Kita bukan merak yang kudu punya ekor yang bagus dan berwarna-warni untuk mendapatkan pejantan,” begitu kataku. Dan semua kejadian itu semoga tak berhenti membuatnya mencintai sesama. Meski cintanya sunyi tanpa gaung, tanpa gema.
Pagi ini ketika aku sedang mencabuti rumput liar di sela bunga- bunga di ‘rimba kecilku’, aku kembali mendengar sapaan centil itu
“Haii…..”.
Aku menoleh, Eliza ? dan olala…siapa lagi laki-laki yang sedang berdiri di sampingnya ?
“Stock baru ?”, tanyaku berbisik di telinganya. Eliza nyengir.
”Nemu di mana ?”, tanyaku lagi sambil melirik laki-laki itu.
”Ntar aku ceritain, sekarang ikut kami hang out yuk!”.
Jadilah hari itu aku harus menjadi obat nyamuk, istilah Eliza bila dia mengajakku jalan-jalan dengan pacarnya. Dia selalu meminta pendapatku bila ada laki-laki yang dekat dengannya. Kata Eliza dia percaya dengan instingku, apakah dia laki-laki baik atau tidak.
”Kalau kukatakan dia tidak baik, tapi kamu tetap cinta padanya gimana ?”, tanyaku
”Itu lain soal, dana bantuan politik saja bisa di mark-up, masak yang ini nggak bisa dibikin baik”, begitu komentarnya ringan.
Laki-laki itu namanya Rian, cukup manis dan lumayan enak untuk teman hang out dan ngobrol. Tapi kukatakan pada Eliza untuk tidak cepat-cepat jatuh cinta pada kesan pertama karena kita tidak pernah tahu apa yang ada di hati dan otak laki-laki. Namun itu adalah kelemahan Eliza, terlalu cepat percaya, terlalu cepat jatuh cinta dan terlalu mudah untuk dibuat jatuh cinta. Lagi-lagi cintanya berujung sunyi, karena Eliza harus kehilangan lagi.
Label:
true story
Saturday, 12 January 2008
Mawar dalam kaca

Dia cantik ( meski tak terlalu pintar ) punya segalanya, orang tua kaya yang agak keningrat-ningratan ( sering kuanggap rumahnya yang megah itu panggung ketoprak tertutup buat umum ), punya sopir setia dan pembantu yang patuh. Dia salah satu dari sekian banyak teman biasaku, tak ada yang dekat atau terlalu dekat. Aku yang punya prinsip ‘trust noone’ lebih suka menganggap mereka sekedar numpang lewat dalam kehidupanku, tak punya kekuasaan untuk mengatur aku. Anehnya mereka menganggapku sahabat, teman berbagi rasa meski aku tak pernah membagi rasa yang kupunya dengan mereka.
Teman-teman biasaku itu sering menceritakan masalah-masalah mereka seolah aku ini psikiater dan konsultan perkawinan yang handal, ahli menyelesaikan masalah. Kadang aku bosan, tapi mau gimana lagi ? Aku toh makhluk sosial dan so’sial yang butuh gaul dengan orang lain dalam frekuensi yang tak terlalu sering, meski aku selalu berusaha menyelesaikan masalahku sendiri.
Kawanku bercerita hanya Tuhan yang perwujudan-Nya bisa kulihat di mana saja, di gunung, laut, pantai, pohon, matahari, bulan, bintang bahkan pada secangkir kopi, perantara kesembuhan sakit migrenku.
Perempuan cantik itu bernama Tiara, seperti namanya, kesan elegan dan mahal terpancar dari tingkah laku yang dipoles dengan aturan tata krama yang telah digariskan oleh leluhurnya. Katanya perempuan tak boleh tertawa ngakak, nggak boleh pakai jeans belel dan sepatu kets, mesti tinggal di dalam rumah, jalannya harus anggun bak peragawati, bicaranya harus pelan dan sopan, tidak boleh berteriak , kudu nurut orang tua biar nggak kualat dan kalau berteman harus lihat bobot bebet bibit apalagi kalau nyari pacar bla bla bla. Cuma acara pencarian bobot bebet bibit ini jadi lebih condong ke dia anaknya siapa ? kaya nggak ? tinggal di real estate atau RSSS ? punya gelar apa ?. Dijamin laki-laki tak bermodal tak akan berani mendekati Tiara.
Seluruh hidupnya telah digariskan oleh kedua orang tuanya seperti petugas protokoler ngatur presiden, mulai bangun tidur hingga tidur lagi Tiara tak punya hak untuk menentukan pilihannya sendiri, selalu dianggap seperti anak kecil yang harus dilindungi, rapuh dan tak tahu apa-apa tentang hidup dan kehidupan ( unfortunately, mereka tak pernah mengajarkan hidup dan kehidupan itu sendiri ). Aku pun tak habis pikir bahkan Tuhan pun membebaskan hamba-Nya untuk memilih kehidupan macam apa yang diinginkannya. Kemanapun Tiara pergi harus selalu diantar, tidak boleh keluar rumah sembarangan bahkan untuk nonton konser musik klasik bersamaku pun harus melalui birokrasi yang maha sulit. Kutanyakan padanya kenapa ayahnya tak menyewa centeng atau bodyguard saja, Tiara hanya angkat bahu sambil nyengir.
" Kalaupun ayahku menyewa centeng, dia harus sekeren Kevin Costner", begitu candanya membayangkan si Whitney Houston dan Kevin Costner dalam film "The Bodyguard".
Aku sedang membaca buku di perpustakaan kampus yang sunyi ketika Tiara tiba-tiba muncul dan duduk di sebelahku. Tiga jilid buku tebal tertumpuk di meja bekal weekend. Sabtu malam aku lebih suka membaca buku, menulis puisi atau melamun bergumul dengan duniaku sendiri atau sesekali ke warnet chatting .
"Kau tak ada date nanti malam ?’, tanya Tiara sambil membolak-balik halaman sebuah buku tanpa selera.
" Kau tahu aku selalu sendiri", sahutku santai.
"Juan ?", tanyanya lagi.
Sejenak melintas di benakku wajah teroris nan cakep, si blasteran Spanyol, Juan, mahasiswa pendatang yang kebetulan murid Bahasa Indonesiaku itu..
"Weekend gini dia pasti sudah nongkrong di atas motornya, pergi entah ke mana dan Bahasa Indonesianya sudah cukup bagus untuk cari cewek. Tolong dicatat, dia bukan teman kencanku", aku menegaskan. Banyak perempuan di kampus ini yang mendambakan jadi pacar Juan, tapi yang jelas aku bukan satu dari mereka.
"Acara malam minggumu ? Disekap ibumu lagi, ya ?", tanyaku setelah melihat raut muka Tiara yang mirip baju minus setrika. Kusut.
"Seperti biasa dan aku selalu bosan di rumah. Selalu begini, harus begitu, itu nggak boleh, ini saru. Paling-paling nemenin nyokap belanja", keluhnya.
"Well, madame apa yang bisa kubantu?"
"Bantu aku lari dari rumah!". Mataku membulat tak percaya.
"Aku ingin kebebasan "
Dalam hati aku ketawa ngakak, burung kecil yang elegan itu merasa pengap dalam sangkar indahnya. Kebebasan macam apa yang diinginkannya ?
Satu waktu Tiara pernah berkata padaku kalau dia ingin sepertiku, bisa naik gunung, bepergian ke mana pun seperti yang aku mau, lari-lari mengejar bis ke kampus, bisa pulang malam ( padahal itu karena aku kerja part time usai kuliah ), kencan dengan pacar tersayang yang kupilih sendiri, nongkrong dengan teman-teman….
"Dan kekurangan duit, hahaha…", aku menyela mimpi-mimpinya tentang kebebasan. Keinginannya tadi adalah sesuatu yang wajar menurutku, tapi perundang-undangan yang berlaku di rumahnya melarang Tiara untuk melakukan itu semua. Kasihan.
"Aku mau minggat ! Pergi dari rumah !". Kali ini tampaknya Tiara tengah berada di puncak kekesalannya.
"Pergi kemana, Ra ?", tanyaku tak yakin Tiara mampu meninggalkan istananya. Tiara tak biasa hidup susah, selalu dilayani mulai dari nyisir rambut sampai hal kecil lainnya. Terbiasa makan enak, tidur di kasur empuk dan mahal serta liburan di tempat elit. Bisa kubayangkan kalau ia minggat, barangkali ia akan check-in di hotel mewah berbintang komplet dengan spa, salon kecantikan dan mall buat shopping. Ikut aku berpetualang atau pulang ke desa kakekku? I’m not sure kakinya yang sekecil lidi kuat menapaki bukit terjal yang biasa kudaki. Kulitnya yang halus dan bersih terawat karena rajin luluran dan mandi rempah tahan dengan panas matahari dan debu jalanan.
Apakah Tiara bisa kuajak makan di angkringan, makan mie ayam menikmati teh botol dingin sambil mengamati orang yang lalu lalang ? apa Tiara kuat memanggul ransel dan berjalan jauh sementara selama ini kemanapun dia pergi selalu diantar sopir ? Tiara seperti hidup dalam dunia mimpi. Putri dalam dongeng. Kadang aku iri juga, betapa enaknya bisa ongkang-ongkang kaki di rumah, segala fasilitas ada, tidak seperti aku yang harus kerja sambilan agar bisa melanjutkan kuliah. Masih kuingat dengan jelas Tiara hampir menangis ketika ibunya mengancam mencabut uang saku dan segala fasilitas ketika ketahuan pacaran dengan laki-laki bukan pilihan orang tuanya. Poor Tiara.
Dalam hati aku mengumpat panjang pendek. Kalau begitu buat apa mengeluh ingin bebas dari kekangan orang tuanya namun tak berani menjalani hidup yang nggak simpel dan manis seperti yang berlaku di istananya, semuanya tinggal perintah tinggal minta, selalu ingin dilayani bak ratu. Tiara tak kenal kondisi tidak ada atau tidak punya, apa yang dimintanya selalu dituruti. Bukannya aku ingin mengajarinya melawan orang tuanya atau menjadi pemberontak, tapi setidaknya Tiara mampu memperjuangkan keinginannya, her own life. Bahwa Tiara bukan boneka. Awalnya Tiara tak menyukai perjodohan yang telah diatur oleh keluarganya tapi toh akhirnya dia pasrah menerima karena calonnya ternyata ganteng, kaya raya, pinter, lulusan college bonafide di negeri ini dan berasal dari kalangan terhormat ( begitu mudahkah cinta di rekayasa ?)
Tiara tak beranjak dari tempatnya. Menanti jawaban dari sekian pertanyaan. Mengapa dia harus berbeda dari yang lain ? mengapa kebebasan yang sangat diinginkannya menjadi sangat mahal ? benarkah kebebasan yang dibutuhkan Tiara ?
Tiara membuatku bertanya-tanya, berjuta pertanyaan memenuhi ruang otakku yang tak seberapa besar ini. Tiara membuatku berpikir tentang arti kebebasan yang sesungguhnya. Seperti biasanya pikiranku melompat-lompat kadang-kadang keluar dari dimensi ruang dan waktu di mana kini aku berada. Apakah kebebasan itu seperti yang dikatakan Matt bahwa kita boleh melakukan segala hal sekehendak hati asal hati senang ? Do what you want to do, Do what you can do, Do everything that make you happy.
"Barangkali kita memang tak pernah bebas, Tiara. Hidup kita sebenarnya selalu terikat dengan aspek yang ada di sekitar kita baik yang kasat mata maupun tidak. Kita hidup di sangkar yanng maha luas bernama semesta. Kita di atur oleh sangkar abstrak bernama norma, nilai-nilai moral, ajaran agama dan sebagainya. Sutradara besar itu, Tuhan Yang maha Kuasa juga Maha arif dan Bijaksana memberikan pilihan kepada para pemainnya untuk berimprovisasi, memilih dialog dan gerak yang harus dilakukan sejauh tidak menyimpang dari skenario yang telah digariskan. Tuhan memberi kita pilihan bagaimana kita menjalani hidup ini dengan cara yang baik dan buruk.
"Tapi kau memilikinya, Runa ". Protes Tiara.
"Kau pun memilikinya Tiara, hanya saja tak pernah kau sadari. Kau mendapatkan apapun yang kau inginkan meski ada satu dua permintaan yang tak terkabulkan. Akupun begitu. Percayalah, Tuhan Maha Tahu yang terbaik untukmu".
Tiara nampak tak puas dan meninggalkan aku kembali sendiri di kesunyian perpustakaan kampus. Tiara, aku pun jadi takut membayangkan bahwa sebenarnya kebebasan itu tak pernah ada.
***
Teman-teman biasaku itu sering menceritakan masalah-masalah mereka seolah aku ini psikiater dan konsultan perkawinan yang handal, ahli menyelesaikan masalah. Kadang aku bosan, tapi mau gimana lagi ? Aku toh makhluk sosial dan so’sial yang butuh gaul dengan orang lain dalam frekuensi yang tak terlalu sering, meski aku selalu berusaha menyelesaikan masalahku sendiri.
Kawanku bercerita hanya Tuhan yang perwujudan-Nya bisa kulihat di mana saja, di gunung, laut, pantai, pohon, matahari, bulan, bintang bahkan pada secangkir kopi, perantara kesembuhan sakit migrenku.
Perempuan cantik itu bernama Tiara, seperti namanya, kesan elegan dan mahal terpancar dari tingkah laku yang dipoles dengan aturan tata krama yang telah digariskan oleh leluhurnya. Katanya perempuan tak boleh tertawa ngakak, nggak boleh pakai jeans belel dan sepatu kets, mesti tinggal di dalam rumah, jalannya harus anggun bak peragawati, bicaranya harus pelan dan sopan, tidak boleh berteriak , kudu nurut orang tua biar nggak kualat dan kalau berteman harus lihat bobot bebet bibit apalagi kalau nyari pacar bla bla bla. Cuma acara pencarian bobot bebet bibit ini jadi lebih condong ke dia anaknya siapa ? kaya nggak ? tinggal di real estate atau RSSS ? punya gelar apa ?. Dijamin laki-laki tak bermodal tak akan berani mendekati Tiara.
Seluruh hidupnya telah digariskan oleh kedua orang tuanya seperti petugas protokoler ngatur presiden, mulai bangun tidur hingga tidur lagi Tiara tak punya hak untuk menentukan pilihannya sendiri, selalu dianggap seperti anak kecil yang harus dilindungi, rapuh dan tak tahu apa-apa tentang hidup dan kehidupan ( unfortunately, mereka tak pernah mengajarkan hidup dan kehidupan itu sendiri ). Aku pun tak habis pikir bahkan Tuhan pun membebaskan hamba-Nya untuk memilih kehidupan macam apa yang diinginkannya. Kemanapun Tiara pergi harus selalu diantar, tidak boleh keluar rumah sembarangan bahkan untuk nonton konser musik klasik bersamaku pun harus melalui birokrasi yang maha sulit. Kutanyakan padanya kenapa ayahnya tak menyewa centeng atau bodyguard saja, Tiara hanya angkat bahu sambil nyengir.
" Kalaupun ayahku menyewa centeng, dia harus sekeren Kevin Costner", begitu candanya membayangkan si Whitney Houston dan Kevin Costner dalam film "The Bodyguard".
Aku sedang membaca buku di perpustakaan kampus yang sunyi ketika Tiara tiba-tiba muncul dan duduk di sebelahku. Tiga jilid buku tebal tertumpuk di meja bekal weekend. Sabtu malam aku lebih suka membaca buku, menulis puisi atau melamun bergumul dengan duniaku sendiri atau sesekali ke warnet chatting .
"Kau tak ada date nanti malam ?’, tanya Tiara sambil membolak-balik halaman sebuah buku tanpa selera.
" Kau tahu aku selalu sendiri", sahutku santai.
"Juan ?", tanyanya lagi.
Sejenak melintas di benakku wajah teroris nan cakep, si blasteran Spanyol, Juan, mahasiswa pendatang yang kebetulan murid Bahasa Indonesiaku itu..
"Weekend gini dia pasti sudah nongkrong di atas motornya, pergi entah ke mana dan Bahasa Indonesianya sudah cukup bagus untuk cari cewek. Tolong dicatat, dia bukan teman kencanku", aku menegaskan. Banyak perempuan di kampus ini yang mendambakan jadi pacar Juan, tapi yang jelas aku bukan satu dari mereka.
"Acara malam minggumu ? Disekap ibumu lagi, ya ?", tanyaku setelah melihat raut muka Tiara yang mirip baju minus setrika. Kusut.
"Seperti biasa dan aku selalu bosan di rumah. Selalu begini, harus begitu, itu nggak boleh, ini saru. Paling-paling nemenin nyokap belanja", keluhnya.
"Well, madame apa yang bisa kubantu?"
"Bantu aku lari dari rumah!". Mataku membulat tak percaya.
"Aku ingin kebebasan "
Dalam hati aku ketawa ngakak, burung kecil yang elegan itu merasa pengap dalam sangkar indahnya. Kebebasan macam apa yang diinginkannya ?
Satu waktu Tiara pernah berkata padaku kalau dia ingin sepertiku, bisa naik gunung, bepergian ke mana pun seperti yang aku mau, lari-lari mengejar bis ke kampus, bisa pulang malam ( padahal itu karena aku kerja part time usai kuliah ), kencan dengan pacar tersayang yang kupilih sendiri, nongkrong dengan teman-teman….
"Dan kekurangan duit, hahaha…", aku menyela mimpi-mimpinya tentang kebebasan. Keinginannya tadi adalah sesuatu yang wajar menurutku, tapi perundang-undangan yang berlaku di rumahnya melarang Tiara untuk melakukan itu semua. Kasihan.
"Aku mau minggat ! Pergi dari rumah !". Kali ini tampaknya Tiara tengah berada di puncak kekesalannya.
"Pergi kemana, Ra ?", tanyaku tak yakin Tiara mampu meninggalkan istananya. Tiara tak biasa hidup susah, selalu dilayani mulai dari nyisir rambut sampai hal kecil lainnya. Terbiasa makan enak, tidur di kasur empuk dan mahal serta liburan di tempat elit. Bisa kubayangkan kalau ia minggat, barangkali ia akan check-in di hotel mewah berbintang komplet dengan spa, salon kecantikan dan mall buat shopping. Ikut aku berpetualang atau pulang ke desa kakekku? I’m not sure kakinya yang sekecil lidi kuat menapaki bukit terjal yang biasa kudaki. Kulitnya yang halus dan bersih terawat karena rajin luluran dan mandi rempah tahan dengan panas matahari dan debu jalanan.
Apakah Tiara bisa kuajak makan di angkringan, makan mie ayam menikmati teh botol dingin sambil mengamati orang yang lalu lalang ? apa Tiara kuat memanggul ransel dan berjalan jauh sementara selama ini kemanapun dia pergi selalu diantar sopir ? Tiara seperti hidup dalam dunia mimpi. Putri dalam dongeng. Kadang aku iri juga, betapa enaknya bisa ongkang-ongkang kaki di rumah, segala fasilitas ada, tidak seperti aku yang harus kerja sambilan agar bisa melanjutkan kuliah. Masih kuingat dengan jelas Tiara hampir menangis ketika ibunya mengancam mencabut uang saku dan segala fasilitas ketika ketahuan pacaran dengan laki-laki bukan pilihan orang tuanya. Poor Tiara.
Dalam hati aku mengumpat panjang pendek. Kalau begitu buat apa mengeluh ingin bebas dari kekangan orang tuanya namun tak berani menjalani hidup yang nggak simpel dan manis seperti yang berlaku di istananya, semuanya tinggal perintah tinggal minta, selalu ingin dilayani bak ratu. Tiara tak kenal kondisi tidak ada atau tidak punya, apa yang dimintanya selalu dituruti. Bukannya aku ingin mengajarinya melawan orang tuanya atau menjadi pemberontak, tapi setidaknya Tiara mampu memperjuangkan keinginannya, her own life. Bahwa Tiara bukan boneka. Awalnya Tiara tak menyukai perjodohan yang telah diatur oleh keluarganya tapi toh akhirnya dia pasrah menerima karena calonnya ternyata ganteng, kaya raya, pinter, lulusan college bonafide di negeri ini dan berasal dari kalangan terhormat ( begitu mudahkah cinta di rekayasa ?)
Tiara tak beranjak dari tempatnya. Menanti jawaban dari sekian pertanyaan. Mengapa dia harus berbeda dari yang lain ? mengapa kebebasan yang sangat diinginkannya menjadi sangat mahal ? benarkah kebebasan yang dibutuhkan Tiara ?
Tiara membuatku bertanya-tanya, berjuta pertanyaan memenuhi ruang otakku yang tak seberapa besar ini. Tiara membuatku berpikir tentang arti kebebasan yang sesungguhnya. Seperti biasanya pikiranku melompat-lompat kadang-kadang keluar dari dimensi ruang dan waktu di mana kini aku berada. Apakah kebebasan itu seperti yang dikatakan Matt bahwa kita boleh melakukan segala hal sekehendak hati asal hati senang ? Do what you want to do, Do what you can do, Do everything that make you happy.
"Barangkali kita memang tak pernah bebas, Tiara. Hidup kita sebenarnya selalu terikat dengan aspek yang ada di sekitar kita baik yang kasat mata maupun tidak. Kita hidup di sangkar yanng maha luas bernama semesta. Kita di atur oleh sangkar abstrak bernama norma, nilai-nilai moral, ajaran agama dan sebagainya. Sutradara besar itu, Tuhan Yang maha Kuasa juga Maha arif dan Bijaksana memberikan pilihan kepada para pemainnya untuk berimprovisasi, memilih dialog dan gerak yang harus dilakukan sejauh tidak menyimpang dari skenario yang telah digariskan. Tuhan memberi kita pilihan bagaimana kita menjalani hidup ini dengan cara yang baik dan buruk.
"Tapi kau memilikinya, Runa ". Protes Tiara.
"Kau pun memilikinya Tiara, hanya saja tak pernah kau sadari. Kau mendapatkan apapun yang kau inginkan meski ada satu dua permintaan yang tak terkabulkan. Akupun begitu. Percayalah, Tuhan Maha Tahu yang terbaik untukmu".
Tiara nampak tak puas dan meninggalkan aku kembali sendiri di kesunyian perpustakaan kampus. Tiara, aku pun jadi takut membayangkan bahwa sebenarnya kebebasan itu tak pernah ada.
***
Label:
true story
Monday, 24 December 2007
Cinta ( tak selamanya mampu ) menyatukan perbedaan
Cerita kali ini agak berbau SARA, namun saya berharap tidak ada satupun yang merasa tersinggung dari kedua keyakinan yang berbeda tersebut. Apa yang saya tulis di bawah ini adalah pengalaman dan pendapat pribadi yang bisa jadi berbeda dengan orang lain.Terima kasih atas pengertiannya.Suatu sore di akhir pekan, seperti biasa saya menikmati secangkir Nescafe panas, memandangi hujan dari balik jendela, romantis sekali.
Sebenarnya saya tidak sedang melamun, namun memikirkan teman saya. Dia datang kepada saya dengan masalahnya yang cukup pelik, namun dia menjadi agak ‘sensitif’ dengan jawaban saya. Sahabat saya tadi sedang jatuh cinta dengan seseorang, nggak ada yang aneh, toh setiap orang termasuk saya pernah jatuh cinta, pernah menyukai dan disukai seseorang. Namun yang susah, dia ternyata jatuh cinta dengan seseorang yang memiliki beda keyakinan dengannya. Ada yang salah ? tanyanya pada saya. Tidak ada jawab saya, cinta tidak pernah salah, yang salah mungkin tempat, waktu dan orangnya, tapi cinta juga misteri karena kita ndak pernah bisa menyuruhnya agar berlaku sesuai dengan keinginan kita. Maunya sih jatuh cinta dengan si A ,eh lha kok saya malah naksir si B begitu seterusnya.
Lalu saya harus bagaimana ? tanyanya. Dia mengaku serba salah dalam situasi semacam ini. Saya menjawab, "kamu pasti sudah tahu jawaban saya tentang ini". Artinya sesuai keyakinan dan pengetahuan yang saya peroleh, saya tidak menyetujui hubungannya dengan laki – laki yang berbeda keyakinan dengannya. Sahabat saya nampak lesu seolah kurang darah.
"Teman", kata saya lagi" apa yang kamu sukai itu belum tentu disukai Tuhan begitu juga apa yang di sukai Tuhan belum tentu kamu suka, apa yang menurutmu baik belum tentu baik di mata Tuhan, dan seringkali apa yang menurut Tuhan baik untukmu belum tentu kamu anggap baik, lalu untuk apa kamu mengorbankan kehidupanmu sesudah kematian dengan sesuatu yang hanya berlangsung sesaat ? Seperti menikmati keindahan bintang, lalu ketika bintang itu mati dan padam yang akan kamu temui hanya kegelapan malam yang panjang".
"Kamu ngomong gitu kan karena ndak pernah mengalaminya", katanya sinis. Saya tertawa kecil, justru karena saya pernah mengalaminya saya bisa menjawab pertanyaannya. Teman saya terkejut tak menyangka, bagaimana mungkin orang seperti saya pernah mengalami hal yang sama dengannya.
Saya tak keberatan membagi cerita saya dengannya. Bertahun yang lalu saya mengalami apa yang teman saya rasakan. Sedih dan sakit rasanya ketika kita mencintai seseorang namun tak bisa bersama karena perbedaan keyakinan. Cinta yang bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan, namun yang lebih menyakitkan lagi adalah ketika kita saling mencintai namun tidak bisa bersatu.
Namun pada akhirnya saya disadarkan bahwa cinta tak selalu mampu menyatukan perbedaan, barangkali memang bisa sebuah cinta mampu menjembatani segala perbedaan, namun saya berpikir bahwa hidup tidak hanya melulu soal cinta, ada kehidupan lagi yang perlu kita jalani, ada tanggung jawab yang mesti kita pikul. Tanggung jawab kepada Tuhan, keluarga dan anak - anak kita.
Lama saya berpikir tentang hubungan itu, karena saya juga tak mau hidup ini berlalu tanpa ikatan yang jelas dengannya. Di mata saya dia adalah laki - laki yang nyaris sempurna, dia begitu baik, pengertian, sabar, gentle, romantis, benar - benar nyaris tanpa cela, dia adalah laki -laki idaman semua perempuan di dunia. Bahkan pernah terbetik dalam hati saya barangkali kalau saya menemukan satu saja kekurangan dia yang mampu membelokkan saya darinya. Tapi kok saya rasa dia sempurna ( atau saya telah buta oleh cinta ? hingga tak bisa melihat dia yang sebenarnya ).
Saya dan dia sama - sama memiliki keyakinan yang kuat yang tak mungkin kami lepas begitu saja, saya juga tak mungkin hidup bersamanya dalam ikatan pernikahan dengan segala perbedaan tersebut. Mampukah saya hidup bersamanya ?
Ditengah kegalauan saya, ternyata Tuhan menjawab keresahan jiwa saya. Suatu hari tiba - tiba saya ingin mampir ke tempat tinggal dia, dia sedang menjalani pendidikan S2nya dan tinggal terpisah dengan keluarganya. Saya kaget sekali menemukan dia dan beberapa botol minuman beralkohol di kamarnya, dia yang sedang nampak kusut itu juga kaget melihat saya yang tiba - tiba datang. Saya tanya padanya, apa yang dia lakukan ? Dia bilang melakukan itu semua, meminum minuman beralkohol untuk mencari jawaban yang terbaik untuk kami. Saya kecewa sekali padanya karena selama ini saya telah jatuh bangun di sepertiga malam dalam doa dan sholat saya untuk mencari jawaban itu, namun dia justru melakukan hal tersebut, saya pernah membayangkan bahwa dia akan bersujud di altar memohon yang terbaik. Saya berlari meninggalkannya sendiri.
Saya memang selama ini bertoleransi dengan kebiasaan - kebiasaan dia minum alkohol karena saya tahu keyakinannya tidak melarang hal tersebut. Namun detik yang sama ketika saya berlari meninggalkan dirinya, saya menyadari sesuatu. Bahwa saya memang tak akan pernah bisa hidup bersamanya. Terkuaklah segala kekurangan dia yang selama ini tak mau saya akui. Bagaimana mungkin dia akan menjadi ayah dari anak - anak saya dengan nilai - nilai yang berbeda dengan saya ? Bagaimana mungkin saya hidup dengannya sementara saya mengharamkan minuman yang memabukkan yang kerap dia minum dalam banyak kesempatan, bagaimana mungkin saya bisa mencintai seseorang yang menghalalkan hubungan di luar ikatan pernikahan yang resmi.
Butuh waktu cukup lama buat saya untuk melupakan dirinya. Saya harus memendam perasaan saya yang terdalam dan menekan ego saya. Kalau saya mau, saya mungkin akan menikah dengannya lalu kami bisa hidup bersama dengan bahagia. Itu kalau hanya ada saya dan dia. Bagaimana pertanggungjawaban saya kepada Tuhan apabila anak - anak saya mengikuti jejak ayahnya ? Bagaimana dengan keluarga saya ? Saya tidak bisa berpura -pura melupakan keluarga, karena bila terjadi apa - apa, keluarga adalah tempat kita kembali.
Karena itu saya tak sepenuhnya meyakini bahwa cinta mampu menjembatani segala perbedaan, ada saat - saat ketika kita harus berpegang teguh kembali kepada keyakinan kita, pengetahuan kita, melebihi kebutuhan kita akan cinta. Saya hanya takut bahwa Tuhan tak lagi mencintai saya. Apalah artinya bahagia di dunia namun sengsara di kehidupan sesudah kematian ?
Teman saya tak pernah bisa menerima pendapat saya, karena dia menunjuk beberapa pasangan yang mampu hidup bahagia hingga maut memisahkan. Saya berbalik bertanya kepadanya, apakah anda adalah seseorang yang memiliki kapasitas untuk bertahan dari serbuan gelombang terus menerus ? Karena tidak sedikit saya mendengar pasangan berbeda keyakinan yang akhirnya kandas dan menyisakan luka yang terlalu dalam. Apakah anda siap dipisahkan dari anak - anak anda ?
Label:
true story
Wednesday, 19 December 2007
Soulmate(s)
Pernahkah anda bertemu dengan seseorang yang begitu mirip dengan anda bukan secara fisik namun anda merasa dia adalah bagian dari diri anda ?. Kita sering menyebutnya soulmate atau sahabat jiwa.
Saya pernah, dan tidak cuma sekali namun berkali – kali seolah saya dulunya adalah sebuah benda langit besar lalu…bang! Meledak ( seperti ledakan supernova itu kali’ hehehe ). Lalu pecahan – pecahan benda langit itu adalah bagian – bagian dari diri saya. Saya adalah satu benda yang pecah yang direkatkan kembali keping demi keping.
Saya pernah, dan tidak cuma sekali namun berkali – kali seolah saya dulunya adalah sebuah benda langit besar lalu…bang! Meledak ( seperti ledakan supernova itu kali’ hehehe ). Lalu pecahan – pecahan benda langit itu adalah bagian – bagian dari diri saya. Saya adalah satu benda yang pecah yang direkatkan kembali keping demi keping.
Soulmate ‘versi’ saya bisa jadi lebih dari satu dan tidak harus lawan jenis walau dalam kenyataannya teman – teman dekat saya justru kebanyakan laki – laki. Ndak tau kenapa, kebanyakan mereka yang bisa lebih mengerti saya dan cara berpikir mereka pula yang lebih bisa saya pahami daripada sesama perempuan.
Seringkali, padahal saya dan dia hanya sekali bertemu namun kami langsung cocok atau kadang – kadang meski baru pertama bertemu tapi rasanya kok seperti sudah lama kenal ya….
‘Soulmate’ bagi saya adalah orang – orang yang sejiwa, sepemikiran, sehati, dan senasib sepenangungan. Seperti magnet, saya telah menarik kutub – kutub yang sama untuk berjalan beriringan dengan saya. Meski dia bukan pasangan kita, bukan ayah dari anak – anak kita.
Tapi bukan berarti saya selalu punya teman sejiwa yang identik dengan saya. Saya pernah punya sahabat yang justru bertolak belakang dengan saya.
Ada satu orang yang kalau bertemu selalu bertengkar dengan saya, sampai teman – teman yang lain menyebut kami seperti Tom and Jerry. Selalu ada saja yang kami ributkan. Anehnya kalau salah satu dari kami tidak ada, rasanya seperti ada yang kurang, saling menanyakan bila salah satunya tidak hadir dalam satu acara kumpul bareng.
Uniknya, saya ternyata juga menemukan ‘the missing pieces’ saya di negara lain karena pekerjaan saya memberi akses dengan dunia luar terutama Jepang. Dia adalah customer yang sering saya bantu dan kontak. Di luar urusan pekerjaan dia adalah orang yang baik, lucu dan menyenangkan.
Atau pernah pula saya memiliki seorang sahabat di dunia maya lewat chat dan email. Meski saya dan dia tak pernah bertemu secara fisik, namun saya dan dia seperti ‘terhubung’ satu sama lain. Meski kami berbeda keyakinan dan budaya ( kebetulan dia tinggal di Kanada ), namun kami memiliki kesamaan cara pandang nilai – nilai kehidupan, humanity, dan cinta. Dia sangat respek dengan keyakinan saya demikian pula saya juga menghormatinya.
Saya mendapat masukan dari seorang teman bahwa persahabatan antara laki – laki dan perempuan cuma berbeda tipis dengan perselingkuhan ( benar tidaknya bisa dibuktikan sendiri hehehe – saya ndak ngajarin selingkuh lho ) jadi buat yang sudah memiliki pasangan lebih baik memberikan batasan – batasan sejauh mana persahabatan antar lawan jenis itu boleh ada. Jangan sampai karena kita menemukan seseorang yang lebih care, lebih baik dan lebih perhatian dari pasangan kita, kita jadi lupa diri.
Kita bisa secara tak sengaja menemukan belahan jiwa kita, namun tak jarang pula banyak yang menghabiskan waktunya untuk mencari sang sahabat jiwa. Saya mendapatkan kata – kata bijak di bawah ini dari seorang kawan.
Tuhan berkata,
Tidaklah adil bagi-Ku untuk memberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam, atau seseorang yang mudah mengampuni tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam, seseorang yang sensitif,namun engkau sendiri tidak..."
"Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semuanya itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu. Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat tumbuh bersamamu."
Semoga bisa menjadi bahan introspeksi diri.
Label:
true story
Kecoa

Pernah ketemu kecoa ? pasti pernah, binatang ini adalah makhluk universal, dimana – mana ada, bahkan di Jepang yang konon katanya negara yang super bersih ( saya pernah nemu seekor di dekat selokan saat saya berkunjung ke sana ).
Saya sebenarnya ndak tertarik membicarakan kecoa karena saya membencinya. Namun malam itu ada yang menarik dalam seekor kecoa yang membuat saya terpaksa malu dengan makhluk menjijikkan itu.
Malam itu seperti biasa Lurik, kucing saya menemani saya nonton TV dan hobinya adalah menggigiti jempol kaki saya ( nyebelin kan ? padahal saya sudah siapin sapu lidi, eh tiap kali saya pukul kepalanya dia malah menjadikan sapu lidi saya mainan, dasar kucing! ), tapi beruntung tiba – tiba nongol seekor kecoa dari kamar mandi yang kemudian membuat Lurik teralih perhatiannya dari jempol kaki saya dan mulai mengejar kecoa tersebut. Saya melihatnya antara ingin tertawa sekaligus kasihan dengan si kecoa. Ternyata Lurik bukannya memakan kecoa itu namun hanya menjadikannya mainan. Waktu si kecoa terjungkal dan terbalik kakinya di atas, Lurik hanya memandangnya saja. Si kecoa tentu saja berjuang mati – matian agar bisa kembali ke posisi awal dan melarikan diri dari kejaran si Lurik karena setiap kali si kecoa berhasil tengkurap si Lurik akan mengejarnya lagi, biasanya akan berakhir dengan kematian kecoa, bukan karena digigit Lurik tapi mati stressi ( makanya jangan terlalu stress, cepet mati loh…)
Malem ini kecoa tersebut lebih beruntung dari temannya yang lalu yang saya temukan mati di bawah meja TV. Dia meronta-ronta, mengepakkan sayap kecilnya, berusaha untuk lepas dari Lurik. Dia akan berpura – pura mati bila Lurik memperhatikannya, namun akan kembali berusaha bangun ketika si Lurik lengah. Saya terus memperhatikannya sampai Lurik bosan dengan mainannya dan pergi meninggalkan sang kecoa, tidur di samping saya yang sedang nonton TV. Si kecoa pun melarikan diri ke halaman.
Yang membuat saya terkesan adalah usaha si kecoa untuk survive , untuk bertahan hidup. Kecoa mungkin nggak sepintar dan sekuat kita, namun berapa banyak dari kita yang mampu bangkit dari kesulitan dan kesukaran hidup ? putus asa dan mengaku lelah dengan hidup lalu mengakhirinya dengan kematian ?. Masa iya sih, kita kalah sama kecoa ? Saya mengamati teknik kecoa tersebut dalam usahanya untuk survive, dia berusaha mati – matian untuk bisa bangkit lagi, namun ketika dia lelah dia berhenti sejenak untuk mengumpulkan tenaga.
Seharusnya kita pun demikian, kita mesti bekerja maksimal semampu yang kita bisa, lalu ketika kita lelah dengan pekerjaan yang seolah tak ada habisnya, bos yang marah melulu, masalah yang datang bertubi - tubi, kita perlu jeda sesaat, menarik nafas dalam – dalam dan menghembuskannya perlahan. Setelah kondisi memungkinkan, kembali lagi bekerja dengan suka cita. Selama ini kebanyakan kita kan mengeluh melulu kalau dibebani terlalu banyak pekerjaan dan masalah, coba deh diselesaikan step by step dengan hati riang tanpa nggerundel. Harusnya kita bersyukur masih memiliki pekerjaan daripada orang lain yang susah payah untuk mendapatkan pekerjaan. Jangan dikira orang – orang yang sering ndak punya kerjaan sebanyak kita itu hidupnya menyenangkan. Pasti dia bosan juga bengong melulu, ngerumpi melulu, chat melulu yang belum tentu ada hubungannya dengan pekerjaan.
Saya juga belajar dari customer saya di Jepang, dia adalah seorang pekerja keras dan sering membuat saya kagum dengan daya tahan tubuh dan cara dia mengatasi kelelahan baik fisik maupun mental. Waktu saya tanya resepnya dia cuma bilang bahwa dia bekerja semampu dia namun pada saat jeda dia akan benar – benar menikmatinya. Waktu istirahat benar – benar dimanfaatkan dengan sebaik – baiknya untuk men-charge energinya termasuk bila ada libur kerja, jadi pada saat kembali bekerja dia benar – benar dalam keadaan fresh bahkan bila atasannya menuntut kerja lembur dia oke – oke saja. Kadang sepulang kerja, sebelum pulang ke rumah dia mampir dulu ke kafe bersama temannya untuk saling bertukar pikiran atau berkaraoke melepas stress ( katanya dia tidak ingin pulang ke rumah bertemu istri dan anaknya dalam keadaan kalut dan tertekan karena pekerjaan ). Kita manusia, bukan robot, bahkan mesin pun punya jangka waktu operasi. Jadi kalau mesin saja dibatasi jam operasionalnya apalagi manusia. Gunakan waktu sebaik mungkin, jangan menunda pekerjaan ( kalau bisa dikerjakan sekarang kenapa harus dikerjakan nanti ? ) dan gunakan waktu istirahat dengan sebaik – baiknya.
Saya sebenarnya ndak tertarik membicarakan kecoa karena saya membencinya. Namun malam itu ada yang menarik dalam seekor kecoa yang membuat saya terpaksa malu dengan makhluk menjijikkan itu.
Malam itu seperti biasa Lurik, kucing saya menemani saya nonton TV dan hobinya adalah menggigiti jempol kaki saya ( nyebelin kan ? padahal saya sudah siapin sapu lidi, eh tiap kali saya pukul kepalanya dia malah menjadikan sapu lidi saya mainan, dasar kucing! ), tapi beruntung tiba – tiba nongol seekor kecoa dari kamar mandi yang kemudian membuat Lurik teralih perhatiannya dari jempol kaki saya dan mulai mengejar kecoa tersebut. Saya melihatnya antara ingin tertawa sekaligus kasihan dengan si kecoa. Ternyata Lurik bukannya memakan kecoa itu namun hanya menjadikannya mainan. Waktu si kecoa terjungkal dan terbalik kakinya di atas, Lurik hanya memandangnya saja. Si kecoa tentu saja berjuang mati – matian agar bisa kembali ke posisi awal dan melarikan diri dari kejaran si Lurik karena setiap kali si kecoa berhasil tengkurap si Lurik akan mengejarnya lagi, biasanya akan berakhir dengan kematian kecoa, bukan karena digigit Lurik tapi mati stressi ( makanya jangan terlalu stress, cepet mati loh…)
Malem ini kecoa tersebut lebih beruntung dari temannya yang lalu yang saya temukan mati di bawah meja TV. Dia meronta-ronta, mengepakkan sayap kecilnya, berusaha untuk lepas dari Lurik. Dia akan berpura – pura mati bila Lurik memperhatikannya, namun akan kembali berusaha bangun ketika si Lurik lengah. Saya terus memperhatikannya sampai Lurik bosan dengan mainannya dan pergi meninggalkan sang kecoa, tidur di samping saya yang sedang nonton TV. Si kecoa pun melarikan diri ke halaman.
Yang membuat saya terkesan adalah usaha si kecoa untuk survive , untuk bertahan hidup. Kecoa mungkin nggak sepintar dan sekuat kita, namun berapa banyak dari kita yang mampu bangkit dari kesulitan dan kesukaran hidup ? putus asa dan mengaku lelah dengan hidup lalu mengakhirinya dengan kematian ?. Masa iya sih, kita kalah sama kecoa ? Saya mengamati teknik kecoa tersebut dalam usahanya untuk survive, dia berusaha mati – matian untuk bisa bangkit lagi, namun ketika dia lelah dia berhenti sejenak untuk mengumpulkan tenaga.
Seharusnya kita pun demikian, kita mesti bekerja maksimal semampu yang kita bisa, lalu ketika kita lelah dengan pekerjaan yang seolah tak ada habisnya, bos yang marah melulu, masalah yang datang bertubi - tubi, kita perlu jeda sesaat, menarik nafas dalam – dalam dan menghembuskannya perlahan. Setelah kondisi memungkinkan, kembali lagi bekerja dengan suka cita. Selama ini kebanyakan kita kan mengeluh melulu kalau dibebani terlalu banyak pekerjaan dan masalah, coba deh diselesaikan step by step dengan hati riang tanpa nggerundel. Harusnya kita bersyukur masih memiliki pekerjaan daripada orang lain yang susah payah untuk mendapatkan pekerjaan. Jangan dikira orang – orang yang sering ndak punya kerjaan sebanyak kita itu hidupnya menyenangkan. Pasti dia bosan juga bengong melulu, ngerumpi melulu, chat melulu yang belum tentu ada hubungannya dengan pekerjaan.
Saya juga belajar dari customer saya di Jepang, dia adalah seorang pekerja keras dan sering membuat saya kagum dengan daya tahan tubuh dan cara dia mengatasi kelelahan baik fisik maupun mental. Waktu saya tanya resepnya dia cuma bilang bahwa dia bekerja semampu dia namun pada saat jeda dia akan benar – benar menikmatinya. Waktu istirahat benar – benar dimanfaatkan dengan sebaik – baiknya untuk men-charge energinya termasuk bila ada libur kerja, jadi pada saat kembali bekerja dia benar – benar dalam keadaan fresh bahkan bila atasannya menuntut kerja lembur dia oke – oke saja. Kadang sepulang kerja, sebelum pulang ke rumah dia mampir dulu ke kafe bersama temannya untuk saling bertukar pikiran atau berkaraoke melepas stress ( katanya dia tidak ingin pulang ke rumah bertemu istri dan anaknya dalam keadaan kalut dan tertekan karena pekerjaan ). Kita manusia, bukan robot, bahkan mesin pun punya jangka waktu operasi. Jadi kalau mesin saja dibatasi jam operasionalnya apalagi manusia. Gunakan waktu sebaik mungkin, jangan menunda pekerjaan ( kalau bisa dikerjakan sekarang kenapa harus dikerjakan nanti ? ) dan gunakan waktu istirahat dengan sebaik – baiknya.
Label:
true story
Saturday, 1 December 2007
Putriku, malaikatku

Kahlil Gibran pernah berkata, kita tak akan pernah tahu betapa kita sangat mencintai seseorang sebelum kita kehilangan dia. Saya memang terlalu sering kehilangan, sejak kecil. Mulai dari kehilangan kedua orang tua ketika saya baru berusia 4 tahun, nenek, kakek, paman dan teman - teman. Namun tak ada yang seberat saya rasakan ketika saya kehilangan putri saya tercinta Fitria Jenie. Orang lain mungkin bilang saya perempuan tangguh yang terlihat tegar ketika harus mengurus pemakaman putri saya yang baru berusia 17 bulan, namun saya tetap seorang ibu yang kadang kala belum bisa menerima kepergiannya yang terlalu cepat. Saya masih ingin bersamanya, mengasuhnya, melihatnya tumbuh dewasa seperti ibu – ibu yang lain. Saya suka mengamati Grace yang baru berusia 1,5 tahun, putri tetangga sebelah sedang belajar berjalan dan berbicara.
Terlalu singkat rasanya saya mengasuhnya, bahkan mungkin tak sebanyak waktu yang dihabiskan oleh Fitri bersama pembantu saya. Kadangkala saya merasa iri dengannya, saya yang mengandung dan melahirkannya, namun putri saya lebih banyak menghabiskan waktunya bersama orang lain.
Namun saya juga bersyukur, meski kehadiran Fitri terlalu singkat, dia telah membuat saya sadar akan banyak hal, termasuk untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengan orang – orang tercinta karena kita tidak pernah tahu sampai kapan kita mendapat kesempatan untuk melihat dan bersamanya.
Saya masih sering memimpikannya dan seolah –olah itu kenyataan, saya masih bisa merasakan kehadirannya di rumah, saya masih bisa mencium bau bedak dan sabun bayi, masih melihat beberapa mainannya, bahkan fotonya masih saya pajang. Saya masih sering merasa bersalah karena tak bisa memberikan yang terbaik untuknya, dengan sakitnya yang berat kadang – kadang saya merasa terbebani karena harus membagi waktu antara bekerja dan merawatnya. Saya sangat menyayanginya karena hanya Fitri yang bisa menghibur ketika saya merasa suntuk dengan pekerjaan, dengan teman – teman yang kadang menjengkelkan, atau ketika saya kesepian saat suami jauh dari rumah. Kadang – kadang saya memang curhat dengan beberapa sahabat, namun saya menyadari bahwa mereka pun sebenarnya juga memiliki banyak masalah, egois rasanya kalau saya selalu meminta perhatian dan waktu mereka.
Rasanya saya ingin berteriak, mau gila saja. Suatu sore ketika saja mengunjungi makam Fitri dan berdoa untuknya, saya merasa dada saya penuh, antara ingin menangis dan berteriak, tapi yang saya lakukan hanya terdiam, bengong. Lalu tiba – tiba saya seperti merasa kehadiran Fitri di samping saya, menggenggam tangan saya dan berkata bahwa saya harus kuat meraih cita – cita dan keinginan saya untuk tetap menulis. Saya memang absen lama tidak meng-up date blog saya, merasa patah semangat. Seolah Fitri berkata, bahwa kepergiannya adalah memberi kesempatan kepada saya untuk menjadi seseorang yang lebih baik, lebih sabar, lebih dekat dengan Tuhan dan mengingatkan akan cita – cita saya yang sempat tertunda. Fitri, saat nanti kita bertemu di akhirat, apakah kamu masih mengingat saya sebagai ibumu ?
Soul therapy, itu judul blog saya yang baru, karena saya memang memerlukan menulis untuk menyembuhkan semua luka jiwa saya. Saya hanya ingin berbagi tanpa berkesan terlalu mengeluh karena saya juga tahu bahwa hidup itu berat dan tak mudah, maka curhat saya pun berganti media, sekaligus barangkali bisa menjadi pencerahan bagi yang membacanya. Saya memang telah kehilangan namun sekaligus saya juga menemukan.
Untuk para sahabat, jangan pernah menunda untuk mengungkapkan kasih sayang kalian pada mereka yang anda kasihi dan sayangi. Karena waktu tak akan pernah bisa kembali.
Terlalu singkat rasanya saya mengasuhnya, bahkan mungkin tak sebanyak waktu yang dihabiskan oleh Fitri bersama pembantu saya. Kadangkala saya merasa iri dengannya, saya yang mengandung dan melahirkannya, namun putri saya lebih banyak menghabiskan waktunya bersama orang lain.
Namun saya juga bersyukur, meski kehadiran Fitri terlalu singkat, dia telah membuat saya sadar akan banyak hal, termasuk untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengan orang – orang tercinta karena kita tidak pernah tahu sampai kapan kita mendapat kesempatan untuk melihat dan bersamanya.
Saya masih sering memimpikannya dan seolah –olah itu kenyataan, saya masih bisa merasakan kehadirannya di rumah, saya masih bisa mencium bau bedak dan sabun bayi, masih melihat beberapa mainannya, bahkan fotonya masih saya pajang. Saya masih sering merasa bersalah karena tak bisa memberikan yang terbaik untuknya, dengan sakitnya yang berat kadang – kadang saya merasa terbebani karena harus membagi waktu antara bekerja dan merawatnya. Saya sangat menyayanginya karena hanya Fitri yang bisa menghibur ketika saya merasa suntuk dengan pekerjaan, dengan teman – teman yang kadang menjengkelkan, atau ketika saya kesepian saat suami jauh dari rumah. Kadang – kadang saya memang curhat dengan beberapa sahabat, namun saya menyadari bahwa mereka pun sebenarnya juga memiliki banyak masalah, egois rasanya kalau saya selalu meminta perhatian dan waktu mereka.
Rasanya saya ingin berteriak, mau gila saja. Suatu sore ketika saja mengunjungi makam Fitri dan berdoa untuknya, saya merasa dada saya penuh, antara ingin menangis dan berteriak, tapi yang saya lakukan hanya terdiam, bengong. Lalu tiba – tiba saya seperti merasa kehadiran Fitri di samping saya, menggenggam tangan saya dan berkata bahwa saya harus kuat meraih cita – cita dan keinginan saya untuk tetap menulis. Saya memang absen lama tidak meng-up date blog saya, merasa patah semangat. Seolah Fitri berkata, bahwa kepergiannya adalah memberi kesempatan kepada saya untuk menjadi seseorang yang lebih baik, lebih sabar, lebih dekat dengan Tuhan dan mengingatkan akan cita – cita saya yang sempat tertunda. Fitri, saat nanti kita bertemu di akhirat, apakah kamu masih mengingat saya sebagai ibumu ?
Soul therapy, itu judul blog saya yang baru, karena saya memang memerlukan menulis untuk menyembuhkan semua luka jiwa saya. Saya hanya ingin berbagi tanpa berkesan terlalu mengeluh karena saya juga tahu bahwa hidup itu berat dan tak mudah, maka curhat saya pun berganti media, sekaligus barangkali bisa menjadi pencerahan bagi yang membacanya. Saya memang telah kehilangan namun sekaligus saya juga menemukan.
Untuk para sahabat, jangan pernah menunda untuk mengungkapkan kasih sayang kalian pada mereka yang anda kasihi dan sayangi. Karena waktu tak akan pernah bisa kembali.
Label:
true story
Dream Book – to Make Your Dream Come True
I like to write everything. And I want to make my dreams come true. Then I create THE DREAM BOOK. My dream book helps me to make it true when I read my dream book I always imagine what step I should take to make it true. Let me explain how it works. Previously, I did not believe that by writing my dreams on a book, you will keep in your mind how to reach your dream one by one, step by step. But I do proved it. My husband called it ‘PSYCHO CYBERNOTIC’, whatever he called it ;-))My first dream is I WANT TO BE A NOVELIST. I made a copy of my favourite novel’s cover ( It was Sidney Sheldon I choosed for my dream book ), She is one of my favourite novelist when I was in the senior high school. Though the magazine never published my story, I keep writing poems and story because everytime I read my dream book, I believe that someday a magazine will published it. In year 2003, my dream come true, a young famous novelist, Eka Kurniawan published my story together with his story in one booklet “Sirkus Senyum”. Though I got nothing, I did not got royalty but I was happy. I know I can do and I believe it. In year 2005, I won writing competition which held by local government and I became runner up with my writing “Saving Energy, why not ?”.And now I have my own blog, my online book, every one can read it, post any comments if any , also he or she can enjoy the photo gallery which contents great moments I got from my traveling.My second dream is I WANT TO BE A GOOD ORGANIZER , this is part of my job and I had proved to my previous bos ( now he moved to Slovakia ) that I can do what he wants me to do. I became an organizer for cutting dies warehouse lay out project, for special production support project and as of today as organizer for Technical Issue of Achilles Corporation. My third dream is I WANT TO GO TO JAPAN. I almost become desperate person when I failed to pass the Monbusho Scholarship ( a scholarship which provide by Japan Education Ministery ). I buried my dream to go to Japan until one day when there was Asian Conference in the office, Mr. Umezawa the General Manager of Ecco-Achilles Factory in Japan and Mr Flemming Larsen the President Director of Ecco Indonesia decided to give me opportunity to have Technical Training in Achilles Factory in Japan. I could not speak any single word, I could not believe it, until Mr. Umezawa said “this is real” and he smiled at me. I was an unimportant staff then suddenly Mr. Flemming Larsen asked me to join that Conference. On May 2004, I went to Ashikaga where Achilles Factory lies and got Technical Training for 2 weeks. Also, I did Market research at Tokyo ( Ginza, Shinjuku etc ).My fourth dream is I WANT TO HAVE A NOTE BOOK , a laptop I bought when I was in Japan, not new one ( my friend who live in Tokyo bought it for me from Akihabara, thanks mate ) but it is good enough to save my data, play my favourite CD etc. A COMPAQ ARMADA 1500 with Intel Celerone inside.See….all of my dreams come true. One of my dream….I put my best friend GMAT photo and I do hope that someday I can meet him. He is a good guy, wise and funny.Hmmm….my next dream ? I just thinking what’s next ;-))
Label:
true story
Thursday, 29 November 2007
Bintang dan Kegelapan
Kadang-kadang kalau sedang nggak ada kerjaan aku sering berpikir sambil memandang bintang dan kegelapan di atas sana. Mana yang lebih berarti dari mereka ? Bintang atau kegelapan itu ?
Pikiranku nakal melompat-lompat seperti bocah ingusan bermain dalam hujan. Barangkali bintang itu tak memerlukan kegelapan karena apapun yang terjadi bintang tetaplah bintang, bersinar karena punya kemampuan mengeluarkan cahayanya sendiri ( meski tak terlihat pada siang hari karena matahari yang angkuh itu ). Kupikir kegelapan tak memerlukan bintang untuk membuatnya lebih berarti. Kegelapan membuat kita menghargai sekecil apapun cahaya.
Kemudian aku beralih memikirkan dia. Seorang laki-laki biasa yang kutemui tanpa peristiwa yang luar biasa. Ia menyapaku, memperkenalkan diri dan berceloteh tentang pantai, karang dan semiotik, Cahiril Anwar, Gibran dan bla bla bla, mengganggu kesendirianku di pantai itu, tiga tahun yang lalu. Anehnya aku menatapnya penuh kekaguman ( tanpa bermaksud memasukkannya ke dalam hatiku ), melayani ajakannya berdiskusi. Dia semakin dekat denganku. Mungkin karena aku membiarkannya masuk begitu saja seperti bonek, supporter bola yang sering masuk ke stadion tanpa tiket lalu berteriak seenaknya memekakkan telinga. Dia memang bukan bonek, tak hobi nonton bola dan tak suka berteriak, tapi kehadirannya tanpa permisi telah mengubah hari-hariku yang kelabu dan selalu sedih menjadi lain ( atau malah lebih berantakan ? ).
Akhir-akhir ini aku sering memikirkannya. Lebih sering dari biasanya. Lazimnya aku memikirkan dia sangat bangun tidur pagi hari, sedikit waktu kala jam makan siang kantor dan semenit menjelang tidur. Kadang-kadang aku menelpon, mengirimi email atau membalas suranya via pos. Tapi kali ini lain. Aku sangat memikirkannya. Bukan rindu seperti biasanya, juga bukan untuk membayangkan senyumnya yang memabukkan atau bahunya tempat aku bersandar bila aku mulai ngantuk dan lelah dengan beban pekerjaan yang berat dan menjemukan. Bukan.
Pekerjaan “memikirkan dia lebih dari biasa” itu mulai kulakukan setelah pada suatu petang di sebuah kafe dia berkata padaku “aku ingin melamarmu jadi istriku”. Datar, sedatar juru masak ganteng di televisi mengatakan ‘setelah angkat, tiriskan..”. Entah apa maksudnya berkata dengan nada sedatar itu, apakah dia hendak mempermainkan aku, aku tak yakin. Dan aku tak tahu harus menjawab apa, tampangnya polos, jauh dari romantis dan aku tersenyum bodoh seperti gadis ingusan. Kemudian hari-hari berlalu tanpa ada jawaban yang pasti dariku. Kami tak sering bertemu, perjumpaanku dengannya tak pernah lebih dari jumlah jadi tangan, hanya surat-suratnya yang makin memenuhi kotak penyimpan surat. Aku selalu menyediakan tempat khusus untuk surat-suratnya.
Aku mencintainya ? Kurasa memang benar aku mencintainya. Aku menerima segala kelebihan dan kekurangannya seperti halnya dia menerimaku apa adanya, aku memberinya semangat dan perhatian, menemaninya, setidaknya aku ingat tanggal kelahirannya, hobinya, teman-teman dekatnya dan lain-lain.
Bagaimana ku mencintainya ? Itu juga sungguh tak bisa kumengerti, segalanya berjalan begitu saja seperti artis sinetron yang berimprovisasi tanpa menghiraukan skenario yang dibikin. Spontan. Kurasa dia juga demikian.
Yang kini kupikirkan adalah apakah aku membutuhkan dia ? Kadang-kadang egoku sering mengatakn ‘kau tak membutuhkan siapapun termasuk laki-laki itu”. Tapi sisi keperempuan-an ku yang lemah berbisik “kau membutuhkannya” Dan bila egoku yang menang aku akan membayangkan diriku seperti Xena, cewek jagoan yang perkasa dan berani menghadapi lawan-lawannya yang kebanyakan berjenis kelamin laki-laki seorang diri. Tak berminat pada seks dan kewajiban bereproduksi, walau dalam salah satu episode Xena dikisahkan memiliki anak hasil hubungan dengan Ares, si dewa perang Yunani. Dan aku suka sekali membayangkan diriku seperti Xena , bukan karena aku bisa memainkan peadang, melempar cakram ataupun menendang lawannya yang kebanyakan kaum adam itu, tapi semangat, kemandirian dan kemampuannya bertahan hidup.
Sejak kecil aku telah kehilangan kedua orang tua. Bapak dan ibuku meninggal dunia dalam selisih waktu yang tidak terlalu lama. Saat itu aku baru berumur lima tahun. Bagiku itu adalah kehilangan cinta yang terbesar dalam hidupku. Bertahun lamanya aku mencoba bertahan menerima kenyataan ini. Kuanggap ini adalah sebagian dari kekuranganku.
Berpikir kembali tentang Xena, tentang “the independent woman” , “apakah aku harus menikah ?” membuatku berpikir tentang alasan kebanyakan orang memilih menikah daripada melajang. Karena cinta ? Bagaimana kalau suatu saat nanti aku tak lagi mencintainya dan diapun lelah mencintaiku ? Karena kesamaan minat ? Kalau suatu hari kami berbeda pendapat dan tak lagi sejalan, apakah perkawinan kami dapat dipertahankan ? Karena aku membutuhkannya ?Sebagai apa ? Pelindung ? Bodyguard ? Yang akan menjagaku dari segala marabahaya ? Sebagai suami yang memberiku nafkah lahir dan batin ?. Aku kan bisa cari duit sendiri, aku toh bisa menjaga diri, tapi aku tak cukup punya nyali untuk menjadi seorang lesbian ! Ataukah perkawinan hanya sekedar pemuasan kebutuhan “itu”, lalu perselingkuhan akan merajalela dengan dalih pasanganya tak pernah bisa berhasil memuaskan hasratnya.
Dan bila khayalanku tentang Xena mulai kumat, aku akan dengan angkuh menolak ajakannya, tak membalas surat-suratnya, tak menelepon atau berlagak dingin kalau dia menelepon, tak mengiriminya email, menyingkirkan foto dan barang-barang yang mengingatkanku padanya. Tapi aku masih berusaha menjaga perasaanya meski aku harus mengiriminya greeting dengan rasa rindu yang hambar. Menyibukkan diri dengan pekerjaan hingga larut malam atau menerima ajakan nonton atau lunch teman pria sekantor. Benar-benar independent. Aku pun biasa mengambil keputusan sendiri. Perselingkuhan ? Kurasa tidak. Aku tak pernah memberi kepastian sikap pada teman-teman pria yang mengajakku pergi, aku lebih suka berjalan apa adanya tanpa harus mengikatkan diri denganku, terserah, setelah ini dia mengajak teman lain. It’s oke, I have my own life.
Suatu saat aku merasa rapuh, mungkin kali ini sisi ke-perempuan-anku yang berbicara. Aku membutuhkan dia ketika aku mulai lelah dan kesal dengan beban pekerjaan dan orang-orang yang menyebalkan yang sering menikamku dari belakang seperti pengecut berwajah malaikat. Dia selalu menghiburku, selalu ada di saat aku membutuhkannya, menyayangiku dengan kasihnya yang berlimpah. Kadang-kadang dia seperti orang tua yang bijaksana memberiku beragam petuah yang anehnya selalu aku turuti. Kadang-kadang dia seperti seorang ustadz yang sering berkotbah tiap hari jum’at menunjukkan jalan ke surga. Tapi dia juga bisa seperti seorang teman yang baik, mendengarkan keluhanku, memberiku solusi dan kadang-kadang materi. Kalau sudah begitu aku akan setengah mati merindukannya, meneleponnya, mengiriminya email dan sebagainya, seolah aku gadis ingusan baru berumur tujuh belas yang sedang jatuh cinta untuk pertama kali. Aku akan mengabaikan ajakan dinner dan nonton dengan teman-temanku, memilih menghabiskan waktu denganya berdiskusi, membaca buku dan puisi, nonton atau sekedar berjalan-jalan di taman kota bila dia punya banyak waktu untuk berkunjung ke kotaku. Lebih sering aku menulis surat yang panjang berkisah tentang banyak hal bila dia tak bisa datang.
Kebutuhan. Mungkin identik dengan segala sesuatu yang kita inginkan atau pernah hilang dalam hidup kita. Apa yang kurasakan ketika dia ada di saat-saat yang paling kubutuhkan adalah aku merasa dicintai, disayangi dan dihargai ( sesuatu yang pernah terampas dari masa kanak-kanaku ). Dan aku butuh itu. Ini adalah sisi ke-perempuan-an ku yang tengah berbicara, biarlah, aku kan perempuan. Bila dia menjadi suamiku kelak, aku akan bisa melihatnya tiap hari di sampingku, aku akan banyak bicara dengannya, ada tempat buatku berbagi beban hidup, teman diskusi yang asyik, yang akan mengawalku kemana aku pergi. Tapi akan lebih rumit lagi bila pikirannku kemballi nakal berujar “kalau aku sudah tak butuh dia lagi, bagaimana ?”
Mengapa Tuhan menciptakan bintang dan kegelapan ? Karena Tuhan tahu mereka saling membutuhkan, betapapun angkuh kegelapan itu.
Sda, April 2001
Pikiranku nakal melompat-lompat seperti bocah ingusan bermain dalam hujan. Barangkali bintang itu tak memerlukan kegelapan karena apapun yang terjadi bintang tetaplah bintang, bersinar karena punya kemampuan mengeluarkan cahayanya sendiri ( meski tak terlihat pada siang hari karena matahari yang angkuh itu ). Kupikir kegelapan tak memerlukan bintang untuk membuatnya lebih berarti. Kegelapan membuat kita menghargai sekecil apapun cahaya.
Kemudian aku beralih memikirkan dia. Seorang laki-laki biasa yang kutemui tanpa peristiwa yang luar biasa. Ia menyapaku, memperkenalkan diri dan berceloteh tentang pantai, karang dan semiotik, Cahiril Anwar, Gibran dan bla bla bla, mengganggu kesendirianku di pantai itu, tiga tahun yang lalu. Anehnya aku menatapnya penuh kekaguman ( tanpa bermaksud memasukkannya ke dalam hatiku ), melayani ajakannya berdiskusi. Dia semakin dekat denganku. Mungkin karena aku membiarkannya masuk begitu saja seperti bonek, supporter bola yang sering masuk ke stadion tanpa tiket lalu berteriak seenaknya memekakkan telinga. Dia memang bukan bonek, tak hobi nonton bola dan tak suka berteriak, tapi kehadirannya tanpa permisi telah mengubah hari-hariku yang kelabu dan selalu sedih menjadi lain ( atau malah lebih berantakan ? ).
Akhir-akhir ini aku sering memikirkannya. Lebih sering dari biasanya. Lazimnya aku memikirkan dia sangat bangun tidur pagi hari, sedikit waktu kala jam makan siang kantor dan semenit menjelang tidur. Kadang-kadang aku menelpon, mengirimi email atau membalas suranya via pos. Tapi kali ini lain. Aku sangat memikirkannya. Bukan rindu seperti biasanya, juga bukan untuk membayangkan senyumnya yang memabukkan atau bahunya tempat aku bersandar bila aku mulai ngantuk dan lelah dengan beban pekerjaan yang berat dan menjemukan. Bukan.
Pekerjaan “memikirkan dia lebih dari biasa” itu mulai kulakukan setelah pada suatu petang di sebuah kafe dia berkata padaku “aku ingin melamarmu jadi istriku”. Datar, sedatar juru masak ganteng di televisi mengatakan ‘setelah angkat, tiriskan..”. Entah apa maksudnya berkata dengan nada sedatar itu, apakah dia hendak mempermainkan aku, aku tak yakin. Dan aku tak tahu harus menjawab apa, tampangnya polos, jauh dari romantis dan aku tersenyum bodoh seperti gadis ingusan. Kemudian hari-hari berlalu tanpa ada jawaban yang pasti dariku. Kami tak sering bertemu, perjumpaanku dengannya tak pernah lebih dari jumlah jadi tangan, hanya surat-suratnya yang makin memenuhi kotak penyimpan surat. Aku selalu menyediakan tempat khusus untuk surat-suratnya.
Aku mencintainya ? Kurasa memang benar aku mencintainya. Aku menerima segala kelebihan dan kekurangannya seperti halnya dia menerimaku apa adanya, aku memberinya semangat dan perhatian, menemaninya, setidaknya aku ingat tanggal kelahirannya, hobinya, teman-teman dekatnya dan lain-lain.
Bagaimana ku mencintainya ? Itu juga sungguh tak bisa kumengerti, segalanya berjalan begitu saja seperti artis sinetron yang berimprovisasi tanpa menghiraukan skenario yang dibikin. Spontan. Kurasa dia juga demikian.
Yang kini kupikirkan adalah apakah aku membutuhkan dia ? Kadang-kadang egoku sering mengatakn ‘kau tak membutuhkan siapapun termasuk laki-laki itu”. Tapi sisi keperempuan-an ku yang lemah berbisik “kau membutuhkannya” Dan bila egoku yang menang aku akan membayangkan diriku seperti Xena, cewek jagoan yang perkasa dan berani menghadapi lawan-lawannya yang kebanyakan berjenis kelamin laki-laki seorang diri. Tak berminat pada seks dan kewajiban bereproduksi, walau dalam salah satu episode Xena dikisahkan memiliki anak hasil hubungan dengan Ares, si dewa perang Yunani. Dan aku suka sekali membayangkan diriku seperti Xena , bukan karena aku bisa memainkan peadang, melempar cakram ataupun menendang lawannya yang kebanyakan kaum adam itu, tapi semangat, kemandirian dan kemampuannya bertahan hidup.
Sejak kecil aku telah kehilangan kedua orang tua. Bapak dan ibuku meninggal dunia dalam selisih waktu yang tidak terlalu lama. Saat itu aku baru berumur lima tahun. Bagiku itu adalah kehilangan cinta yang terbesar dalam hidupku. Bertahun lamanya aku mencoba bertahan menerima kenyataan ini. Kuanggap ini adalah sebagian dari kekuranganku.
Berpikir kembali tentang Xena, tentang “the independent woman” , “apakah aku harus menikah ?” membuatku berpikir tentang alasan kebanyakan orang memilih menikah daripada melajang. Karena cinta ? Bagaimana kalau suatu saat nanti aku tak lagi mencintainya dan diapun lelah mencintaiku ? Karena kesamaan minat ? Kalau suatu hari kami berbeda pendapat dan tak lagi sejalan, apakah perkawinan kami dapat dipertahankan ? Karena aku membutuhkannya ?Sebagai apa ? Pelindung ? Bodyguard ? Yang akan menjagaku dari segala marabahaya ? Sebagai suami yang memberiku nafkah lahir dan batin ?. Aku kan bisa cari duit sendiri, aku toh bisa menjaga diri, tapi aku tak cukup punya nyali untuk menjadi seorang lesbian ! Ataukah perkawinan hanya sekedar pemuasan kebutuhan “itu”, lalu perselingkuhan akan merajalela dengan dalih pasanganya tak pernah bisa berhasil memuaskan hasratnya.
Dan bila khayalanku tentang Xena mulai kumat, aku akan dengan angkuh menolak ajakannya, tak membalas surat-suratnya, tak menelepon atau berlagak dingin kalau dia menelepon, tak mengiriminya email, menyingkirkan foto dan barang-barang yang mengingatkanku padanya. Tapi aku masih berusaha menjaga perasaanya meski aku harus mengiriminya greeting dengan rasa rindu yang hambar. Menyibukkan diri dengan pekerjaan hingga larut malam atau menerima ajakan nonton atau lunch teman pria sekantor. Benar-benar independent. Aku pun biasa mengambil keputusan sendiri. Perselingkuhan ? Kurasa tidak. Aku tak pernah memberi kepastian sikap pada teman-teman pria yang mengajakku pergi, aku lebih suka berjalan apa adanya tanpa harus mengikatkan diri denganku, terserah, setelah ini dia mengajak teman lain. It’s oke, I have my own life.
Suatu saat aku merasa rapuh, mungkin kali ini sisi ke-perempuan-anku yang berbicara. Aku membutuhkan dia ketika aku mulai lelah dan kesal dengan beban pekerjaan dan orang-orang yang menyebalkan yang sering menikamku dari belakang seperti pengecut berwajah malaikat. Dia selalu menghiburku, selalu ada di saat aku membutuhkannya, menyayangiku dengan kasihnya yang berlimpah. Kadang-kadang dia seperti orang tua yang bijaksana memberiku beragam petuah yang anehnya selalu aku turuti. Kadang-kadang dia seperti seorang ustadz yang sering berkotbah tiap hari jum’at menunjukkan jalan ke surga. Tapi dia juga bisa seperti seorang teman yang baik, mendengarkan keluhanku, memberiku solusi dan kadang-kadang materi. Kalau sudah begitu aku akan setengah mati merindukannya, meneleponnya, mengiriminya email dan sebagainya, seolah aku gadis ingusan baru berumur tujuh belas yang sedang jatuh cinta untuk pertama kali. Aku akan mengabaikan ajakan dinner dan nonton dengan teman-temanku, memilih menghabiskan waktu denganya berdiskusi, membaca buku dan puisi, nonton atau sekedar berjalan-jalan di taman kota bila dia punya banyak waktu untuk berkunjung ke kotaku. Lebih sering aku menulis surat yang panjang berkisah tentang banyak hal bila dia tak bisa datang.
Kebutuhan. Mungkin identik dengan segala sesuatu yang kita inginkan atau pernah hilang dalam hidup kita. Apa yang kurasakan ketika dia ada di saat-saat yang paling kubutuhkan adalah aku merasa dicintai, disayangi dan dihargai ( sesuatu yang pernah terampas dari masa kanak-kanaku ). Dan aku butuh itu. Ini adalah sisi ke-perempuan-an ku yang tengah berbicara, biarlah, aku kan perempuan. Bila dia menjadi suamiku kelak, aku akan bisa melihatnya tiap hari di sampingku, aku akan banyak bicara dengannya, ada tempat buatku berbagi beban hidup, teman diskusi yang asyik, yang akan mengawalku kemana aku pergi. Tapi akan lebih rumit lagi bila pikirannku kemballi nakal berujar “kalau aku sudah tak butuh dia lagi, bagaimana ?”
Mengapa Tuhan menciptakan bintang dan kegelapan ? Karena Tuhan tahu mereka saling membutuhkan, betapapun angkuh kegelapan itu.
Sda, April 2001
Label:
true story
Subscribe to:
Comments (Atom)