Pemesanan Produk Oriflame :
Hubungi saya, NIKEN via SMS/Whatsapp Msg di 085643172023, Telp : 08885210403
Cara Order : SMS kan nama atau kode barang dan jumlah beserta alamat pengiriman. Jumlah total pembayaran termasuk ongkir akan diinformasikan.
Barang yang dipesan akan dikirim sesuai alamat yang anda berikan setelah melakukan transfer melalui rek BCA.
Harga berubah sesuai Katalog terbaru.
Cara Order : SMS kan nama atau kode barang dan jumlah beserta alamat pengiriman. Jumlah total pembayaran termasuk ongkir akan diinformasikan.
Barang yang dipesan akan dikirim sesuai alamat yang anda berikan setelah melakukan transfer melalui rek BCA.
Harga berubah sesuai Katalog terbaru.
#KELUHAN TENTANG PEMAKAIAN PRODUK YANG DIBELI SELAINDAI BLOG, SILAHKAN DITUJUKAN KE COSTUMER CARE ORIFLAME CABANG TERDEKAT
Showing posts with label motivation. Show all posts
Showing posts with label motivation. Show all posts
Tuesday, 15 January 2013
Don`t worry be happy..
Ingin memulai bisnis namun sudah mundur duluan karena orang lain sudah memulai atau sukses ? Takut kita ndak kebagian sukses? lalu beralasan aku tidak bisa berhasil karena orang lain sudah banyak yang melakukan ( dan kadang-kadang banyak yang pula yang gagal ). Mengapa kita tidak belajar dari mereka? Belajar dari kegagalan dan keberhasilan orang lain lalu lakukan dengan caramu? Buat perbedaan yang akan membuatmu berhasil.
Label:
motivation
Wednesday, 26 December 2012
The Acute Heptagram of Impact
Label:
motivation
20 Tips for a Positive New Year sunshineveryday@2012
Label:
motivation
Thursday, 9 February 2012
Pygmalion = berpikiran positif
( gambar diambil dari situs semuaunik.info )
Thanks to seorang teman FB, Oyi Priyo yang mengijinkan saya share tentang artikel bagus ini di blog saya
Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik. Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi Pygmalion berkata, “Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini.” Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, “Kikir betul orang itu.” Tetapi Pygmalion berkata, “Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu”. Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, “Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya.”
Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.
Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik.
Kawan-kawan Pygmalion berkata, “Ah,sebagus- bagusnya patung, itu cuma patung, bukan isterimu.”
Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya.
Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion, yaitu mengubah patung itu menjadi manusia betul. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani. Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif. Misalnya, Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.
Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion. Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif. Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes. Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur, akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.
Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.
Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain.
Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikir buruk,kita akan menjadi curiga, “Barangkali ia sedang mencoba membujuk,” atau kita mengomel, “Ah, hadiahnya cuma barang murah.” Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri.Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak bahagia. Sebaliknya, kalau kita berpikir positif, kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur, “Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita.”
Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai. Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam. Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.
Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan. Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah.
MAKE SURE YOU ARE PYGMALION and the world will be filled with positive people only…….. ….how nice!!!!
DIKUTIP DARI CERITA SEORANG TEMAN UTK DICERITAKAN KE TEMAN YANG LAINNYA
Thanks to seorang teman FB, Oyi Priyo yang mengijinkan saya share tentang artikel bagus ini di blog saya
Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik. Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi Pygmalion berkata, “Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini.” Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, “Kikir betul orang itu.” Tetapi Pygmalion berkata, “Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu”. Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, “Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya.”
Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.
Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik.
Kawan-kawan Pygmalion berkata, “Ah,sebagus- bagusnya patung, itu cuma patung, bukan isterimu.”
Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya.
Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion, yaitu mengubah patung itu menjadi manusia betul. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani. Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif. Misalnya, Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.
Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion. Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif. Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes. Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur, akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.
Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.
Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain.
Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikir buruk,kita akan menjadi curiga, “Barangkali ia sedang mencoba membujuk,” atau kita mengomel, “Ah, hadiahnya cuma barang murah.” Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri.Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak bahagia. Sebaliknya, kalau kita berpikir positif, kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur, “Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita.”
Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai. Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam. Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.
Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan. Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah.
MAKE SURE YOU ARE PYGMALION and the world will be filled with positive people only…….. ….how nice!!!!
DIKUTIP DARI CERITA SEORANG TEMAN UTK DICERITAKAN KE TEMAN YANG LAINNYA
Label:
motivation
Thursday, 27 November 2008
Keinginan dan kebutuhan
Ketika keinginan – keinginan kita tidak juga terpenuhi dan do`a – do`a yang selalu kita panjatkan tidak kunjung dikabulkan Tuhan, apa pernah kita berpikir bahwa itu semua Dia lakukan demi kebaikan kita ?
Kita selalu merasa yakin bahwa kita mengetahui apa yang kita butuhkan. Tapi kebutuhan seringkali keliru dengan keinginan dan hal – hal yang kita inginkan tapi tidak kita butuhkan.
Tentu saja jika kita melihat apa yang disimpan oleh masa depan untuk kita, kita tidak akan pernah salah dalam mengajukan sebuah keinginan.
Tapi masa depan adalah hal yang tersembunyi dari pandangan kita, benang takdir seseorang terbentang jauh melebihi dunia kasat mata, kita tidak dapat melihat kemana ia akan berujung.
Siapakah yang dapat mengetahui bahwa kenikmatan pada hari ini dapat membawa kesengsaraan di keesokan hari atau kesengsaraan pada hari ini akan membuahkan kenikmatan di hari esok ?
( unknown )
Kita selalu merasa yakin bahwa kita mengetahui apa yang kita butuhkan. Tapi kebutuhan seringkali keliru dengan keinginan dan hal – hal yang kita inginkan tapi tidak kita butuhkan.
Tentu saja jika kita melihat apa yang disimpan oleh masa depan untuk kita, kita tidak akan pernah salah dalam mengajukan sebuah keinginan.
Tapi masa depan adalah hal yang tersembunyi dari pandangan kita, benang takdir seseorang terbentang jauh melebihi dunia kasat mata, kita tidak dapat melihat kemana ia akan berujung.
Siapakah yang dapat mengetahui bahwa kenikmatan pada hari ini dapat membawa kesengsaraan di keesokan hari atau kesengsaraan pada hari ini akan membuahkan kenikmatan di hari esok ?
( unknown )
Label:
motivation
Wednesday, 6 February 2008
It’s a Wonderful Life - A good Motivation
Bukan karena kehabisan inspirasi kalau kali ini saya share sebuah artikel bagus dari harian KOMPAS, namun karena sesuai dengan tema ‘soul therapy’ yang lebih cocok untuk menyembuhkan dan sekaligus bayar utang karena sudah janji mau nulis sesuatu yang bisa memberi inspirasi, karena seorang teman pernah komplain, dia malah tambah gila setelah membaca blog saya ;-). Sorry rek....kali ini serius deh.
Sekalian menjawab pertanyaan mengapa tulisan di blog saya pakai bahasa Indonesia bukan bahasa Inggris meski plang namanya pake bahasa Inggris--> nipu, kata temen saya. Tapi saya ndak bermaksud nipu, cuma kemampuan bahasa Inggris saya terbatas ( jawaban yang jujur hiks..hiks....salut man! ) dan klien saya ( baca : orang-orang gila ) yang juga sama ndak ngerti banyak bahasa Inggris ( hua..ha..ha..ha.. )
Buat yang pinter berbahasa Inggris....sesekali “down to earth” boleh dong......
KOMPAS SABTU, 5 JANUARI 2008
It’s a Wonderful Life
Eileen Rachman & Sylvina Savitri ( Experd Growth & Soft Skill Training )
Teman saya pernah mengajarkan,”Bila menghadapi kehilangan, kematian dan suasana duka, ucapkanlah “Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun”.Sebaliknya, bila takjub dengan keajaiban dan keindahan alam, menghadapi situasi dan pengalaman yang menyenangkan, ucapkan juga kalimat tersebut, yang juga berarti “Segala yang berasal dari Allah yang Maha Kuasa akan kembali kepada Allah. Bagi saya kalimat ini sangat membantu di saat –saat sangat susah atau sangat senang, karena pada saat itulah kita seakan diingatkan kembali bahwa adik, kakak, anak, pasangan, rizki, keindahan alam, jabatan, karir dan sehebat – hebatnya ikhtiar kita, adalah “pinjaman” dan “amanah”
Meski sadar bahwa roda kehidupan memang harus berputar, namun begitu cepatnya dan semakin sulitnya kita memprediksi future benar – benar membuat kita panik, kehilangan pegangan. Kematian Benazir Butto, banjir yang melanda kota – kota yang biasanya tidak kenal banjir, air pasang yang menyebabkan bisnis pariwisata sekitar Kuta terpuruk, global warming dan belum lagi ramalan – ramalan mengenai semakin “edan”-nya dunia di masa mendatang benar – benar membuat kita galau. Bagi saya, kata “change” yang dikumandangkan para ahli manajemen dan futuris mulai terdengar basi. Baru saja merencanakan action, perubahan, lapangan dan pasar seakan belut, licin dan sudah berubah lagi. Tak bisa menghindar, kita memang sudah beranggapan dengan hal – hal tak terduga.
Dalam situasi serba tak terprediksi, bahkan kekacauan yang mengerikan begini, bisakah dan bagaimanakah kita bisa bersikap positif pada dunia kehidupan kita ?
Be “Present”
Kata “present”, berarti “hadiah” dan juga berarti “saat ini”. Seorang ahli time management mengatakan bahwa “being present” ( keberadaan kita saat ini ) adalah “present” ( hadiah ) terbesar dalam hidup kita. “Being present” berarti realistis dan sadar apa yang ada di hadapan kita, menghargai dan memanfaatkan semua resources yang kita miliki. Being present atau “live your life”, adalah nasihat Richard Branson, pemilik Virgin Group pada putra – putrinya ketika ia tengah menghadapi maut, agar mereka menghayati betul kehidupan yang tengah dilalui sekarang, tidak menyesali masa lalu dan tidak kuatir akan masa depan. Tidak pelak lagi, inilah pilihan sikap yang paling sehat dalam menghadapi hidup ini.
Memiliki sikap “being present” memang mudah dikatakan, tetapi tidak mudah dilakukan. Berapa sering pikiran kita melayang dan tidak konsen bila sedang rapat, mengikuti pelatihan, menghadapi klien bahkan menghadapi anak sendiri ? Kita sangat sadar bahwa orang yang paling penting adalah orang dihadapan kita, tetapi berapa sering kita menerima panggilan telepon genggam ketika menghadapi orang secara bertatap muka ? Rasanya kita memang masih bisa lebih menghargai momen – momen yang sebenarnya sudh diberikan kepada kita dan lebih memanfaatkan sebaik –sebaiknya.
Kita dibutuhkan oleh Orang lain
Teman saya yang bermukim di Inggris, tiba – tiba mencari pekerjaan di Indonesia. Ketika saya tanyakan alasannya, ia berkata bahwa ia menemani ibunya, yang semakin meningkat percepatan “layu”-nya sepeninggal ayahnya. Keluarga, teman yang bahkan sudah lebih dekat daripada anggota keluarga, kolega yang bersusah – senang bersama kita adalah ‘kekuatan” bahkan “mistik” tersendiri yang membuat kita bisa lebih kokoh berdiri menghadapi kekacauan, badai serta cobaan. Kita sebenarnya bisa menghitung betapa beruntungnya kita bila masih ada teman, kakak, adik, suami, istri, anak atau tetangga yang bisa kita ajak merapatkan barisan ataupun “holding hands” di kala gundah. Sebaliknya kesadaran bahwa kita bisa member support mental kepada anggota keluarga lain, saudara, teman, tetangga, akan membuat kita mendapatkan kekuatan dan semangat menolong dobel karena keyakinan bahwa kita dibutuhkan.
Niat Baik adalah Fondasi
Dalam suatu pertemuan, saya mengajak para peserta yang hadir untuk mengungkap misi dan niat utama dalam bekerja dan dalam hidupnya.
Saya cukup terkejut karena ternyata sangat sedikit yang bisa dengan lantang menyebutkan niatnya. Entah karena malu, jarang melakukan introspeksi diri atau sekedar tidak ingin terbuka. Yang jelas, bila niat kita tidak terbaca, tidak jelas atau tidak dimengerti, maka gerak dan langkah kita pasti juga tidak jelas dan mengambang.
Niat seperti “ Saya ingin belajar terus sampai usia 70 tahun”, “Saya ingin anak buah saya sukses”, Saya ingin jadi orang tua yang baik, ketimbang jadi profesional yang sukses”, atau “Saya ingin berwirausaha bila tabungan saya cukup”, sebenarnya tidak perlu disembunyikan atau ditutup – tutupi. Asalkan niat kita lantang, lurus, bersih, dan tidak diwarnai dengan “vested interest” maka biasanya kita akan punya pengikut, mendapatkan kawan seperjuangan, bahkan bisa melihat persamaan arah dengan orang lain, perusahaan bahkan negara. Niat yang baik dan kuat bisa menjadi fondasi kita agar tetap berdiri bagai batu karang dalam hempasan ombak. Apalagi kalau kita betul – betul berniat untuk mencerdaskan, membersihkan dan membela lingkungan apalagi bangsa.
Jatuh, bangun, terpuruk, sukses, akan selalu kita alami sepanjang perjalanan hidup kita. Tapi masih ingatkah anda film getir Life is Beautiful ( La Vita é Bella ) karya sutradara dan aktor kondang Roberto Benigni ? kalau dalam keadaan terjepit, hampir terbunuh begitu, ia masih bisa melihat indahnya kehidupan, kita pun pastinya bisa menghadapi kompleksitas situasi dunia kita dengan sikap yang lebih optimis dan menghayati betapa berharganya hidup ini.
Just open your eyes and see that life is beautiful ( Roberto Benigni )
Sekalian menjawab pertanyaan mengapa tulisan di blog saya pakai bahasa Indonesia bukan bahasa Inggris meski plang namanya pake bahasa Inggris--> nipu, kata temen saya. Tapi saya ndak bermaksud nipu, cuma kemampuan bahasa Inggris saya terbatas ( jawaban yang jujur hiks..hiks....salut man! ) dan klien saya ( baca : orang-orang gila ) yang juga sama ndak ngerti banyak bahasa Inggris ( hua..ha..ha..ha.. )
Buat yang pinter berbahasa Inggris....sesekali “down to earth” boleh dong......
KOMPAS SABTU, 5 JANUARI 2008
It’s a Wonderful Life
Eileen Rachman & Sylvina Savitri ( Experd Growth & Soft Skill Training )
Teman saya pernah mengajarkan,”Bila menghadapi kehilangan, kematian dan suasana duka, ucapkanlah “Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun”.Sebaliknya, bila takjub dengan keajaiban dan keindahan alam, menghadapi situasi dan pengalaman yang menyenangkan, ucapkan juga kalimat tersebut, yang juga berarti “Segala yang berasal dari Allah yang Maha Kuasa akan kembali kepada Allah. Bagi saya kalimat ini sangat membantu di saat –saat sangat susah atau sangat senang, karena pada saat itulah kita seakan diingatkan kembali bahwa adik, kakak, anak, pasangan, rizki, keindahan alam, jabatan, karir dan sehebat – hebatnya ikhtiar kita, adalah “pinjaman” dan “amanah”
Meski sadar bahwa roda kehidupan memang harus berputar, namun begitu cepatnya dan semakin sulitnya kita memprediksi future benar – benar membuat kita panik, kehilangan pegangan. Kematian Benazir Butto, banjir yang melanda kota – kota yang biasanya tidak kenal banjir, air pasang yang menyebabkan bisnis pariwisata sekitar Kuta terpuruk, global warming dan belum lagi ramalan – ramalan mengenai semakin “edan”-nya dunia di masa mendatang benar – benar membuat kita galau. Bagi saya, kata “change” yang dikumandangkan para ahli manajemen dan futuris mulai terdengar basi. Baru saja merencanakan action, perubahan, lapangan dan pasar seakan belut, licin dan sudah berubah lagi. Tak bisa menghindar, kita memang sudah beranggapan dengan hal – hal tak terduga.
Dalam situasi serba tak terprediksi, bahkan kekacauan yang mengerikan begini, bisakah dan bagaimanakah kita bisa bersikap positif pada dunia kehidupan kita ?
Be “Present”
Kata “present”, berarti “hadiah” dan juga berarti “saat ini”. Seorang ahli time management mengatakan bahwa “being present” ( keberadaan kita saat ini ) adalah “present” ( hadiah ) terbesar dalam hidup kita. “Being present” berarti realistis dan sadar apa yang ada di hadapan kita, menghargai dan memanfaatkan semua resources yang kita miliki. Being present atau “live your life”, adalah nasihat Richard Branson, pemilik Virgin Group pada putra – putrinya ketika ia tengah menghadapi maut, agar mereka menghayati betul kehidupan yang tengah dilalui sekarang, tidak menyesali masa lalu dan tidak kuatir akan masa depan. Tidak pelak lagi, inilah pilihan sikap yang paling sehat dalam menghadapi hidup ini.
Memiliki sikap “being present” memang mudah dikatakan, tetapi tidak mudah dilakukan. Berapa sering pikiran kita melayang dan tidak konsen bila sedang rapat, mengikuti pelatihan, menghadapi klien bahkan menghadapi anak sendiri ? Kita sangat sadar bahwa orang yang paling penting adalah orang dihadapan kita, tetapi berapa sering kita menerima panggilan telepon genggam ketika menghadapi orang secara bertatap muka ? Rasanya kita memang masih bisa lebih menghargai momen – momen yang sebenarnya sudh diberikan kepada kita dan lebih memanfaatkan sebaik –sebaiknya.
Kita dibutuhkan oleh Orang lain
Teman saya yang bermukim di Inggris, tiba – tiba mencari pekerjaan di Indonesia. Ketika saya tanyakan alasannya, ia berkata bahwa ia menemani ibunya, yang semakin meningkat percepatan “layu”-nya sepeninggal ayahnya. Keluarga, teman yang bahkan sudah lebih dekat daripada anggota keluarga, kolega yang bersusah – senang bersama kita adalah ‘kekuatan” bahkan “mistik” tersendiri yang membuat kita bisa lebih kokoh berdiri menghadapi kekacauan, badai serta cobaan. Kita sebenarnya bisa menghitung betapa beruntungnya kita bila masih ada teman, kakak, adik, suami, istri, anak atau tetangga yang bisa kita ajak merapatkan barisan ataupun “holding hands” di kala gundah. Sebaliknya kesadaran bahwa kita bisa member support mental kepada anggota keluarga lain, saudara, teman, tetangga, akan membuat kita mendapatkan kekuatan dan semangat menolong dobel karena keyakinan bahwa kita dibutuhkan.
Niat Baik adalah Fondasi
Dalam suatu pertemuan, saya mengajak para peserta yang hadir untuk mengungkap misi dan niat utama dalam bekerja dan dalam hidupnya.
Saya cukup terkejut karena ternyata sangat sedikit yang bisa dengan lantang menyebutkan niatnya. Entah karena malu, jarang melakukan introspeksi diri atau sekedar tidak ingin terbuka. Yang jelas, bila niat kita tidak terbaca, tidak jelas atau tidak dimengerti, maka gerak dan langkah kita pasti juga tidak jelas dan mengambang.
Niat seperti “ Saya ingin belajar terus sampai usia 70 tahun”, “Saya ingin anak buah saya sukses”, Saya ingin jadi orang tua yang baik, ketimbang jadi profesional yang sukses”, atau “Saya ingin berwirausaha bila tabungan saya cukup”, sebenarnya tidak perlu disembunyikan atau ditutup – tutupi. Asalkan niat kita lantang, lurus, bersih, dan tidak diwarnai dengan “vested interest” maka biasanya kita akan punya pengikut, mendapatkan kawan seperjuangan, bahkan bisa melihat persamaan arah dengan orang lain, perusahaan bahkan negara. Niat yang baik dan kuat bisa menjadi fondasi kita agar tetap berdiri bagai batu karang dalam hempasan ombak. Apalagi kalau kita betul – betul berniat untuk mencerdaskan, membersihkan dan membela lingkungan apalagi bangsa.
Jatuh, bangun, terpuruk, sukses, akan selalu kita alami sepanjang perjalanan hidup kita. Tapi masih ingatkah anda film getir Life is Beautiful ( La Vita é Bella ) karya sutradara dan aktor kondang Roberto Benigni ? kalau dalam keadaan terjepit, hampir terbunuh begitu, ia masih bisa melihat indahnya kehidupan, kita pun pastinya bisa menghadapi kompleksitas situasi dunia kita dengan sikap yang lebih optimis dan menghayati betapa berharganya hidup ini.
Just open your eyes and see that life is beautiful ( Roberto Benigni )
Label:
motivation
Saturday, 15 December 2007
Renungan hari ini
Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia.... Allah SWT tahu betapa keras engkau sudah berusaha. Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih.... Allah SWT sudah menghitung air matamu. Ketika kau fikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berjalan begitu saja... Allah SWT sedang menunggu bersamamu. Ketika kau berfikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi... Allah SWT sudah punya jawabannya. Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan... Allah SWT dapat menenangkanmu. Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelpon... Allah SWT selalu berada disampingmu Ketika kau mendambakan sebuah cinta sejati yang tak kunjung datang... Allah SWT mempunyai Cinta dan Kasih yang lebih besar dari segalanya dan Dia telah menciptakan seseorang yang akan menjadi pasangan hidupmu kelak. Ketika kau merasa bahwa kau mencintai seseorang, namun kau tahu cintamu tak terbalas... Allah SWT tahu apa yang ada di depanmu dan Dia sedang mempersiapkan segala yang terbaik untukmu. Ketika kau merasa telah dikhianati dan dikecewakan.... Allah SWT dapat menyembuhkan lukamu dan membuatmu tersenyum Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan Allah SWT sedang berbisik kepadamu Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur.... Allah SWT telah memberkahimu Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban.... Allah SWT telah tersenyum padamu. Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi.... Allah SWT sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu Ingat dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap.... Allah SWT Maha Mengetahui.
Label:
motivation
Why Soul Therapy
Salah satu pertanyaan menggelitik seorang teman setelah membaca blog saya adalah mengapa tema blog saya adalah soul therapy, apakah karena sang penulis adalah ahli jiwa yang kerap menyembuhkan banyak pasien sampai – sampai buka praktik on line ? ( hehehe ) atau malah si penulis adalah mantan penderita sakit jiwa yang mencoba share dengan orang lain ? Dengan bercanda saya menjawab karena penulisnya ‘gila’ bukan mantan gila, karena kalau sudah mantan berarti saya akan berhenti menulis. Saya butuh tetap gila agar tetap bisa menulis. Teman kerja ada yang menyebut kegilaan saya sudah ‘stadium 4’. Maklum saja saya harus meladeni customer yang super cerewet yang maunya serba perfect, sehingga di akhir hari biasanya saya sudah kusut dan stress.
Saya memang suka menulis sejak kecil, namun untuk mengirimnya ke media massa menurut saya terlalu rumit, mesti melalui seleksi dan kalau tidak memenuhi kriteria harus rela menghuni keranjang sampah dewan redaksi yang terhormat. Karena itu saya menciptakan blog yang ‘gue banget’ tanpa harus khawatir di sensor atau dikatakan ‘nggak mutu banget’. Toh tujuan utama saya menulis bukan untuk mencari ketenaran, uang atau mendapat kritik dari kritikus sastra dan ahli media. Namun lebih untuk proses ‘katarsis’ dan menerapi jiwa saya sendiri. Di dalam kamus, katarsis artinya proses untuk melepaskan perasaan yang kuat melalui kegiatan seni sebagai salah satu jalan untuk keluar dari kemarahan, kesedihan, penderitaan dan lain – lain.
Saya penggemar berat acara talk show yang dipandu oleh Oprah Winfrey melalui stasiun TV favorit saya Metro TV. Di sana para peserta yang diwawancarai kebanyakan adalah warga biasa yang tentu saja ndak terkenal seperti Tom Cruise atau Julia Robert atau George Clooney. Memang dalam beberapa episode ada selebrity yang di wawancarai, namun kebanyakan adalah warga biasa dengan masalah – masalah mereka yang dianggap memiliki kasus istimewa semacam kasus pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, kelaparan, korban perang dari sebuah negara, atau seseorang yang cacat namun mampu mandiri yang tentu saja semua itu membuat kita terinspirasi untuk menjadi orang yang selalu bersyukur dan berbuat lebih baik kepada sesama. Peserta yang membuat saya terkesan adalah seorang penulis pemula yang sebenarnya tidak memiliki background sebagai penulis, dia adalah seorang ibu rumah tangga biasa, namun kekerasan yang menimpanya justru membuatnya tegar dan mendorongnya untuk menulis dengan tujuan agar orang lain tidak mengalami kejadian yang sama dan bagaimana menjadi ibu yang kuat bila akhirnya kita terpaksa menghadapinya. Seorang terapis yang turut hadir bersamanya menyarankan dia untuk menulis, setiap kali dia merasa sedih, teraniaya, sendiri, bahkan ketika ada sedikit kebahagiaan ketika ada teman – teman dan keluarga yang mendukung. Akhirnya curahan hatinya menjadi sebuah buku yang kemudian diterbitkan. Salah satu buku yang saya ingat judulnya adalah The Silent Partner.
Saya tertegun, saya jadi ingat almarhum nenek saya, waktu kecil saya adalah anak yang susah dikendalikan, disuruh tidur siang malah main, dikurung malah berhasil melarikan diri dan ketika pulang siap untuk dihukum. Teman main saya kebanyakan laki – laki karena saya selalu berantem dengan teman perempuan. Pemberontakan – pemberontakan kecil saya tersebut memang bermula dari ketidakmampuan saya menerima kenyataan, bahwa ketika sebagian besar teman saya masih memiliki ayah dan ibu, namun saya tidak dan saya tidak memiliki jawaban yang cukup memuaskan untuk ukuran anak seusia 7 – 8 tahun mengapa ayah dan ibu meninggal dunia. Di makam pun kerap saya tak mengerti mengapa orang – orang berdoa di depan gundukan tanah dengan batu nisan bertuliskan nama orang yang meninggal.
Nenek saya nyaris putus asa karena saya selalu berantem dengan teman – teman perempuan. Lalu suatu siang saya dikurung di kamar bersamanya, lalu beliau memutar musik klasik Beethoven, memberi saya kertas dan pensil, menyuruh saya menulis, menggambar, apa saja. Beliau duduk di depan saya, menunggu. Saya mencoret, menulis, menggambar, apa saja dan ternyata justru kegiatan tersebut mengasyikkan. Lama – lama saya jadi agak malas main keluar. Siang hari, saya lebih suka berada di dalam kamar ( dengan musik ajaib Beethoven ) menulis, itu awal saya memiliki buku harian ( saya merasa seolah – olah Tuhan mendengar semua keluh kesah saya melalui tulisan saya ). Saya menulis apa saja, kesedihan saya, kegembiraan saya, harapan dan doa saya bahkan saya menulis cerita teman – teman saya. Sesekali saya memang keluar main, namun tidak lagi seliar dulu. Ketika nenek menyerahkan saya kepada ustadz untuk belajar mengaji saya tidak lagi protes.
Kalau ingat saat itu, saya jadi berterima kasih kepada nenek yang telah berusaha keras untuk ’menyembuhkan’ saya. Setiap kali saya ingin menjadi ’pemberontak’ seperti dulu, saya melampiaskannya dengan menulis.
Saya memang awam tentang ilmu jiwa, psikologi dan hal – hal yang berhubungan dengan terapi jiwa, namun saya berharap, dengan menulis pengalaman –pengalaman saya termasuk beberapa kisah perjalanan saya, yang membacanya bisa merasa terhibur, syukur kalo ternyata bisa memberikan inspirasi dan motivasi. Saran seorang teman yang ingin blog saya memuat banyak artikel tentang motivasi diri juga saya dengarkan, meski belum sempat saya posting ke blog.
Thanks a lot guys………
Saya memang suka menulis sejak kecil, namun untuk mengirimnya ke media massa menurut saya terlalu rumit, mesti melalui seleksi dan kalau tidak memenuhi kriteria harus rela menghuni keranjang sampah dewan redaksi yang terhormat. Karena itu saya menciptakan blog yang ‘gue banget’ tanpa harus khawatir di sensor atau dikatakan ‘nggak mutu banget’. Toh tujuan utama saya menulis bukan untuk mencari ketenaran, uang atau mendapat kritik dari kritikus sastra dan ahli media. Namun lebih untuk proses ‘katarsis’ dan menerapi jiwa saya sendiri. Di dalam kamus, katarsis artinya proses untuk melepaskan perasaan yang kuat melalui kegiatan seni sebagai salah satu jalan untuk keluar dari kemarahan, kesedihan, penderitaan dan lain – lain.
Saya penggemar berat acara talk show yang dipandu oleh Oprah Winfrey melalui stasiun TV favorit saya Metro TV. Di sana para peserta yang diwawancarai kebanyakan adalah warga biasa yang tentu saja ndak terkenal seperti Tom Cruise atau Julia Robert atau George Clooney. Memang dalam beberapa episode ada selebrity yang di wawancarai, namun kebanyakan adalah warga biasa dengan masalah – masalah mereka yang dianggap memiliki kasus istimewa semacam kasus pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, kelaparan, korban perang dari sebuah negara, atau seseorang yang cacat namun mampu mandiri yang tentu saja semua itu membuat kita terinspirasi untuk menjadi orang yang selalu bersyukur dan berbuat lebih baik kepada sesama. Peserta yang membuat saya terkesan adalah seorang penulis pemula yang sebenarnya tidak memiliki background sebagai penulis, dia adalah seorang ibu rumah tangga biasa, namun kekerasan yang menimpanya justru membuatnya tegar dan mendorongnya untuk menulis dengan tujuan agar orang lain tidak mengalami kejadian yang sama dan bagaimana menjadi ibu yang kuat bila akhirnya kita terpaksa menghadapinya. Seorang terapis yang turut hadir bersamanya menyarankan dia untuk menulis, setiap kali dia merasa sedih, teraniaya, sendiri, bahkan ketika ada sedikit kebahagiaan ketika ada teman – teman dan keluarga yang mendukung. Akhirnya curahan hatinya menjadi sebuah buku yang kemudian diterbitkan. Salah satu buku yang saya ingat judulnya adalah The Silent Partner.
Saya tertegun, saya jadi ingat almarhum nenek saya, waktu kecil saya adalah anak yang susah dikendalikan, disuruh tidur siang malah main, dikurung malah berhasil melarikan diri dan ketika pulang siap untuk dihukum. Teman main saya kebanyakan laki – laki karena saya selalu berantem dengan teman perempuan. Pemberontakan – pemberontakan kecil saya tersebut memang bermula dari ketidakmampuan saya menerima kenyataan, bahwa ketika sebagian besar teman saya masih memiliki ayah dan ibu, namun saya tidak dan saya tidak memiliki jawaban yang cukup memuaskan untuk ukuran anak seusia 7 – 8 tahun mengapa ayah dan ibu meninggal dunia. Di makam pun kerap saya tak mengerti mengapa orang – orang berdoa di depan gundukan tanah dengan batu nisan bertuliskan nama orang yang meninggal.
Nenek saya nyaris putus asa karena saya selalu berantem dengan teman – teman perempuan. Lalu suatu siang saya dikurung di kamar bersamanya, lalu beliau memutar musik klasik Beethoven, memberi saya kertas dan pensil, menyuruh saya menulis, menggambar, apa saja. Beliau duduk di depan saya, menunggu. Saya mencoret, menulis, menggambar, apa saja dan ternyata justru kegiatan tersebut mengasyikkan. Lama – lama saya jadi agak malas main keluar. Siang hari, saya lebih suka berada di dalam kamar ( dengan musik ajaib Beethoven ) menulis, itu awal saya memiliki buku harian ( saya merasa seolah – olah Tuhan mendengar semua keluh kesah saya melalui tulisan saya ). Saya menulis apa saja, kesedihan saya, kegembiraan saya, harapan dan doa saya bahkan saya menulis cerita teman – teman saya. Sesekali saya memang keluar main, namun tidak lagi seliar dulu. Ketika nenek menyerahkan saya kepada ustadz untuk belajar mengaji saya tidak lagi protes.
Kalau ingat saat itu, saya jadi berterima kasih kepada nenek yang telah berusaha keras untuk ’menyembuhkan’ saya. Setiap kali saya ingin menjadi ’pemberontak’ seperti dulu, saya melampiaskannya dengan menulis.
Saya memang awam tentang ilmu jiwa, psikologi dan hal – hal yang berhubungan dengan terapi jiwa, namun saya berharap, dengan menulis pengalaman –pengalaman saya termasuk beberapa kisah perjalanan saya, yang membacanya bisa merasa terhibur, syukur kalo ternyata bisa memberikan inspirasi dan motivasi. Saran seorang teman yang ingin blog saya memuat banyak artikel tentang motivasi diri juga saya dengarkan, meski belum sempat saya posting ke blog.
Thanks a lot guys………
Label:
motivation
Thursday, 29 November 2007
Dream Book – Menulis Masa Depan
Ketika kuliah, saya sering mengamati kebiasaan seseorang. Dia suka sekali menulis dan menempelkan kertas berisi cita – cita dan harapan dia di mana – mana, di lemari, di tembok meja belajarnya, di dinding dan sebagainya . Dia juga punya semacam ‘dream book’ berisi tentang peta hidup dan harapan – harapannya.
Selama ini sejak saya SD hingga sekarang, saya memang punya buku harian, namun tak pernah menuliskan apa cita – cita saya, impian saya dan harapan – harapan saya agar sukses dalam hidup. Saya memang suka menulis, namun hanya cerita sehari – hari dan puisi. Lalu dia memberi saya buku tentang Psycho Cybernotic dan menyuruh saya membacanya. Kata buku itu, kita adalah apa yang kita tulis, kalau kita punya cita – cita, harapan dan keinginan, tulis saja, karena kita juga tak bisa mengandalkan melulu otak untuk mengingat. Dengan menulis harapan dan cita – cita kita akan makin termotivasi untuk mewujudkannya. Sering kali kita lupa akan cita –cita, lelah dengan beban kerja dan hidup. Lalu di saat senggang kita membaca lagi ‘dream book’ kita, semangat baru pun kembali datang dan jangan terkejut bahwa kita akan mendapatkan inspirasi, ide – ide segar untuk meraih dan mewujudkan cita – cita dan harapan kita.
Agak ragu waktu saya mencobanya. Namun saya pikir tidak ada salahnya. Saya membeli buku jurnal yang bagus dan mulai menulis semua keinginan saya. Salah satunya, waktu itu saya baru saja lulus kuliah dan sedang mencari kerja. Ketika saya membaca koran dan melihat iklan lowongan pekerjaan saya pun memasukkan aplikasi. Setelah itu saya gunting iklan lowongan kerjanya dan saya tempel di ‘dream book’ saya, selama menunggu panggilan saya selalu sempatkan diri membaca ‘dream book’ tersebut, selain keinginan agar segera mendapatkan pekerjaan, saya juga menulis impian saya yang lain, misalnya ingin pergi ke Jepang ( saya menempel foto seseorang yang sedang berpose di Yasuda Hall of Tokyo University ), saya juga menempel gambar laptop dari sebuah majalah karena saya ingin mengganti PC saya yang cuma pentium 2. Rasanya saya hampir tak percaya sewaktu saya diterima kerja di tempat tersebut. Satu persatu saya meraih impian saya, misalnya setelah 2 tahun bekerja, akhirnya saya berkesempatan bisa pergi ke Jepang karena perusahaan mengirim saya untuk program training, sekaligus membeli laptop bekas seharga hanya 850 ribu rupiah bila dikonversi dari yen ke rupiah dalam kondisi yang masih sangat bagus. Di sini, laptop bekas dari Jepang biasanya paling murah seharga 2.5 - 3 juta rupiah.
Memiliki ‘dream book’ kesannya jadi menulis masa depan kita sendiri, bukannya bermaksud ‘mendikte’ Tuhan namun sejalan dengan pemikiran bahwa tidak ada yang mampu mengubah nasib seseorang selain dia sendiri. Tuhan hanya akan mengabulkan do’a dan keinginan kita. Menulisnya, membuat kita lebih fokus.
Selama ini sejak saya SD hingga sekarang, saya memang punya buku harian, namun tak pernah menuliskan apa cita – cita saya, impian saya dan harapan – harapan saya agar sukses dalam hidup. Saya memang suka menulis, namun hanya cerita sehari – hari dan puisi. Lalu dia memberi saya buku tentang Psycho Cybernotic dan menyuruh saya membacanya. Kata buku itu, kita adalah apa yang kita tulis, kalau kita punya cita – cita, harapan dan keinginan, tulis saja, karena kita juga tak bisa mengandalkan melulu otak untuk mengingat. Dengan menulis harapan dan cita – cita kita akan makin termotivasi untuk mewujudkannya. Sering kali kita lupa akan cita –cita, lelah dengan beban kerja dan hidup. Lalu di saat senggang kita membaca lagi ‘dream book’ kita, semangat baru pun kembali datang dan jangan terkejut bahwa kita akan mendapatkan inspirasi, ide – ide segar untuk meraih dan mewujudkan cita – cita dan harapan kita.
Agak ragu waktu saya mencobanya. Namun saya pikir tidak ada salahnya. Saya membeli buku jurnal yang bagus dan mulai menulis semua keinginan saya. Salah satunya, waktu itu saya baru saja lulus kuliah dan sedang mencari kerja. Ketika saya membaca koran dan melihat iklan lowongan pekerjaan saya pun memasukkan aplikasi. Setelah itu saya gunting iklan lowongan kerjanya dan saya tempel di ‘dream book’ saya, selama menunggu panggilan saya selalu sempatkan diri membaca ‘dream book’ tersebut, selain keinginan agar segera mendapatkan pekerjaan, saya juga menulis impian saya yang lain, misalnya ingin pergi ke Jepang ( saya menempel foto seseorang yang sedang berpose di Yasuda Hall of Tokyo University ), saya juga menempel gambar laptop dari sebuah majalah karena saya ingin mengganti PC saya yang cuma pentium 2. Rasanya saya hampir tak percaya sewaktu saya diterima kerja di tempat tersebut. Satu persatu saya meraih impian saya, misalnya setelah 2 tahun bekerja, akhirnya saya berkesempatan bisa pergi ke Jepang karena perusahaan mengirim saya untuk program training, sekaligus membeli laptop bekas seharga hanya 850 ribu rupiah bila dikonversi dari yen ke rupiah dalam kondisi yang masih sangat bagus. Di sini, laptop bekas dari Jepang biasanya paling murah seharga 2.5 - 3 juta rupiah.
Memiliki ‘dream book’ kesannya jadi menulis masa depan kita sendiri, bukannya bermaksud ‘mendikte’ Tuhan namun sejalan dengan pemikiran bahwa tidak ada yang mampu mengubah nasib seseorang selain dia sendiri. Tuhan hanya akan mengabulkan do’a dan keinginan kita. Menulisnya, membuat kita lebih fokus.
Label:
motivation
Subscribe to:
Comments (Atom)





