Pemesanan Produk Oriflame :
Hubungi saya, NIKEN via SMS/Whatsapp Msg di 085643172023, Telp : 08885210403

Cara Order : SMS kan nama atau kode barang dan jumlah beserta alamat pengiriman. Jumlah total pembayaran termasuk ongkir akan diinformasikan.

Barang yang dipesan akan dikirim sesuai alamat yang anda berikan setelah melakukan transfer melalui rek BCA.

Harga berubah sesuai Katalog terbaru.

#KELUHAN TENTANG PEMAKAIAN PRODUK YANG DIBELI SELAINDAI BLOG, SILAHKAN DITUJUKAN KE COSTUMER CARE ORIFLAME CABANG TERDEKAT

Sunday, 3 February 2008

Buku Laskar Pelangi oleh Andrea Hirata


Sewaktu saya masih di SD, saya memiliki buku favorit yang benar – benar membuat saya terinspirasi untuk menjadi seseorang yang kuat, tegar, bahagia meski dengan kondisi yang serba kekurangan namun selalu penuh syukur. Buku – buku itu adalah Keluarga Cemara karya Arswendo dan Padang Ilalang Di Belakang Rumah Kami yang ditulis oleh NH. Dini. Bersama kawan karib saya, biasanya saya menghabiskan waktu di perpustakaan kecil sekolah. Dia adalah Awan, yang suka sekali membaca buku – buku sains dan sangat cerdas, karena itu tak heran bila dia mendapat beasiswa S2 bahkan S3 ke Jepang dari Panasonic.
Buku Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata kurang lebih memiliki kemiripan dan genre yang sama dengan buku – buku di atas yang menceritakan perjuangan dan pengalaman masa kecil yang indah, sedih sekaligus mengesankan. Selain buku – buku di atas, karena pengaruh Awan ( seorang teman yang kini tinggal di Jepang ) saya menggemari cerita – cerita petualangan Lima Sekawan.
Buku Laskar Pelangi menceritakan kehidupan sepuluh orang anak kampung yang tinggal di Pulau Belitung yang bersekolah di sebuah gedung sekolah kampung yang nyaris roboh. Namun dengan kesederhanaan dan segala keterbatasan tersebut mereka tetap menjalani hidup dengan optimisme kanak – kanak yang mencerahkan.
Saya kadang – kadang bertanya – tanya, seperti inikah cermin pendidikan bangsa kita ? Di satu sisi kita memanjakan beberapa golongan dengan membanjirnya fasilitas yang bisa mempermudah hidup mereka seperti mobil dan rumah dinas serta berbagai tunjangan hidup lainnya di luar gaji pokok, namun di sisi lain kita mengabaikan fasilitas – fasilitas pendidikan yang sebenarnya merupakan aset masa depan bangsa kita. Bagaimana kita bisa menjadi bangsa yang sukses seperti Cina dan Jepang kalau pendidikan kita tak pedulikan. Fasilitas tidak hanya melulu secara fisik berupa bangunan gedung, namun juga beasiswa untuk membantu anak – anak yang kurang mampu secara finansial.
Saya ikut sedih melihat Lintang yang tidak bisa melanjutkan sekolahnya padahal dia adalah anak jenius yang terlahir dari keluarga miskin di pesisir Pulau Belitung. Saya mengagumi semangatnya bersekolah meski dia harus menempuh jarak pulang pergi sejauh 80 km dengan mengendarai sepeda butut dan harus melintas sungai yang penuh dengan buaya. Betapa sedihnya saya bila membandingkan dengan anak – anak muda sekarang yang terlahir dengan kondisi berkecukupan namun malas belajar. Saya pun ikut terbawa khayalan liar Mahar, tokoh anak yang punya bakat dalam bidang seni dan hal – hal berbau klenik. Bahkan saya pun ikut tertawa ketika Tulak Bayan Tula seorang dukun terkenal yang dimintai tolong oleh Mahar dan Flo agar nilai rapornya bagus namun sang dukun malah menjawab “ Bila ingin pintar, buka buku, belajar”. Ada banyak pengalaman – pengalaman lucu, menarik, kadang membuat saya terharu, menangis bahkan tertawa ketika membaca buku ini.
Dari buku – buku di atas, seolah saya sedang membaca buku tentang pengembangan diri yang inspiratif, mampu menggerakan dan mencerahkan, dahsyat dengan bahasa yang sederhana namun tidak menggurui tapi kaya akan makna. Seperti belajar tentang kehidupan yang bersumber dari kehidupan itu sendiri.
Membaca buku Laskar Pelangi saya bersyukur bahwa nasib saya tidak setragis Lintang, si cerdas jenius yang terpaksa putus sekolah karena kekurangan biaya dan harus menjadi tulang pungung keluarga, meski dulu saya pun harus berjibaku, menerima berbagai macam pekerjaan sambilan agar bisa meneruskan kuliah. Agaknya, tokoh Ikal dalam buku tersebut seperti mewakili saya. Terutama keras kepala dan tekat dia untuk tetap bersekolah. Masih teringat saya, ketika masa kuliah dulu saya nyambi bekerja di sebuah wartel dan rental komputer, mengetik skripsi dan tesis pelanggan hingga jam 2 malam, sementara keesokan harinya saya harus berkuliah. Melupakan masa hura – hura bersama teman – teman, pulang kuliah langsung cabut bekerja hingga malam. Untungnya saya sempat mendapat beasiswa dari The Japan Foundation selama satu tahun yang cukup meringankan beban saya dan keluarga.
Sewaktu saya menonton acara Kick Andy dan Andrea Hirata si penulis Laskar Pelangi diwawancarai oleh Andy F Noya, saya seperti melihat diri saya dalam dirinya. Ada satu titik dalam hidupnya yang membuatnya ingin menjadi penulis, yaitu ketika dia melihat Ibunda Guru Muslimah berpayungkan daun pisang dalam hujan yang lebat dan pergi ke sekolah untuk mengajar murid – muridnya. Dia ingin menulis kisah perjuangan gurunya tersebut. Tepat seperti kata Gde Pramana yang juga hadir dalam acara itu yang mengatakan bahwa buku Laskar Pelangi adalah wujud cinta dan hormat seorang murid kepada gurunya. Sedangkan saya, ingin menjadi penulis ketika kelas 6 SD saya menemukan buku harian almarhumah ibu. Saya ingin menjadi penulis karena menghormati ibu saya yang hanya sebentar saya lihat di dunia ini.
So, read this book and get inspired !!.

Cinta Sunyi

Aku senang sekali mendengarkan suara hujan di malam hari ketika aku sendiri dan suasana hening hanya suara air menimpa atap dan jalanan di depan rumah. Membaui aroma tanah dan rerumputan basah. 
Hiburanku satu-satunya hanya laptopku dan musik dari MP3 player. Kadang-kadang aku membaca buku hingga larut malam ketika aku tak bisa tidur. Sementara untuk acara kencan di malam minggu aku tak punya. Sesekali beberapa teman laki-laki mengajakku pergi, tapi jarang kuterima.
Seperti sabtu malam ini, hujan kembali turun. Aku terjaga di depan mejaku, kubuka jendela lebar-lebar, sambil menikmati secangkir kopi panas, aku melihat ke bawah. Sepasang remaja berusaha berteduh dari hujan dengan sebuah jaket milik sang cowok. Aku tersenyum.
Mereka mungkin bisa jadi telah mengalami berulang kali patah hati sebelum akhirnya menemukan cinta sejatinya.
Aku jadi teringat Eliza, sahabatku semasa sekolah dulu. Eliza cantik, bahkan nyaris sempurna dan juga pintar. Kulitnya putih bersih, rambutnya coklat kemerahan seperti cewek bule, matanya ? beautiful brown eyes yang bisa bikin para lelaki tergila-gila padanya. Menurutku dia mirip artis cilik Shirley Temple bahkan dalam usianya yang sudah bukan remaja lagi. Iseng-iseng aku dan Eliza menelusuri silsilah keluarganya. Pantes bau bule, buyutnya keturunan kompeni eh Belanda ding. Kadang-kadang bila sedang berjalan di sampingnya aku merasa jadi si itik buruk rupa. Tapi kata teman-temanku yang lain, aku lebih mirip bodyguard daripada itik.
Seharusnya dengan wajah cantik, hati yang baik dan otak yang encer Eliza bisa punya pacar, hanya anehnya hingga kini dia masih belum punya pacar tetap, hanya Tuhan Yang Maha Tahu kenapa tak satupun dari semua laki-laki yang pernah dekat dengannya menjadi pacarnya. Apa yang salah ? Entahlah.
Cinta memang kadang berlaku di luar logika. Cinta memang bukan matematika, satu ditambah satu sama dengan dua. Apa yang mungkin terjadi menurut nalar, bisa jadi mustahil kalau sudah berhubungan dengan cinta. Bahkan Lia yang sebenernya nggak cantik-cantik amat, nggak pinter banget eh malah punya suami dokter.
Kadang kupikir barangkali Eliza yang terlalu pemilih, terlalu idealis bahkan pernah kukatakan padanya seharusnya Eliza mencintai orangnya bukan deskripsi. Simak saja apa yang diinginkannya dalam diri laki-laki pilihannya, baik, ganteng, putih, tinggi, pinter dan berkacamata. Barangkali dia lebih cocok dengan mister Jambul, si Jepang gila rekan kerjaku yang lebih suka kupanggil Jambul daripada nama aslinya karena rambutnya berjambul seperti ayam jago. Aku tak menyalahkan Eliza, semua orang berhak memiliki seseorang yang diidamkan, bahkan aku pun punya penggambaran laki-laki yang aku inginkan jadi pasangan hidupku kelak.
Tapi yang aku kagumi dari Eliza, meski sering berganti pasangan dan sesekali putus nyambung dengan pacar-pacarnya, Eliza tetap ceria. Kadang-kadang memang aku nggak ngerti dengan kegilaan temenku cewek satu ini. Hari ini putus cinta, besok sudah ketawa-ketawa lagi, hari berikutnya sudah jalan dengan yang lain lagi, seolah tidak ada beban hidup yang berat buatnya. Hidupnya itu bagai air yang mengalir, jalanin aja apa adanya, gitu prinsipnya.
Cinta yang bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan. Namun lebih menyakitkan lagi bila saling mencintai namun tak bisa bersama.
Sesekali Eliza bersedih hati ketika dia bener-bener cinta mati dengan sang lelaki, namun ternyata bertepuk sebelah tangan, si lelaki Cuma menganggapnya teman ( tapi kok mereka mesra ya..), atau ketika mereka saling menyayangi, ada saja hal yang membuat mereka terpaksa harus berpisah.
Aku tak pernah keberatan menjadi teman curhatnya. Ada persamaan antara aku dan Eliza, sama-sama tak punya pacar, jadi malam minggu kami selalu bersama. Kadang-kadang aku ke rumahnya dan kita ngobrol berjam-jam, atau Eliza datang ke tempatku. Eliza pernah bertanya padaku kenapa aku bisa sesantai ini meski tak ada pacar.
“Tidakkah kamu ingin disayang dan diperhatikan seseorang ?”, tanya Eliza padaku suatu saat.
“Pacar itu penting ya ?”, aku malah balik bertanya yang kemudian malah menuai timpukan bantal, buku dan bolpen dari Eliza.
Sesekali aku memang ingin diperhatikan dan disayang seseorang, misalnya salah satu dari teman laki-laki yang selama ini dekat denganku. Tapi aku mungkin memang orang aneh seperti yang dikatakan Eliza padaku karena aku tak pernah menuntut untuk dijadikan pacar atau menjadikan mereka pacar. Mencintai dan dicintai itu kan nggak harus saling memiliki dan dimiliki, argumenku ketika Eliza menanyakan alasanku men-jomblo semasa sekolah dulu. Lagi pula aku dulu terlalu berambisi menjadi seorang penulis, jadi waktuku lebih banyak kupakai untuk banyak membaca buku, belajar menulis pada guru sastra Indonesia, jalan-jalan atau mengurusi mading sekolah. Lagi pula sebagian besar laki-laki yang dekat denganku lebih sering kujadikan sumber inspirasi puisi atau cerpenku. Mereka adalah orang-orang yang unik dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
“Sialan luh”, kata Eliza setelah mendengar alasanku dekat dengan mereka.
“Lho, emang salah ? Lha wong para cowok pelukis biasa dekat obyek lukisnya supaya lukisan mereka ‘hidup’, mana kadang-kadang disuruh bugil lagi, aku kan nggak sampe segitunya nyuruh mereka bugil”. Eliza tertawa ngakak lalu menjitak kepalaku.
Kukira, kalau seluruh kisah cinta Eliza dikumpulkan bisa jadi sebuah buku atau novel.
Kisah cinta pertama Eliza. Kami masih terlalu muda saat itu, awal masa remaja yang indah. Hingga kini aku masih saja selalu penasaran kenapa pada masa itu ada sebutan cinta monyet bukan ayam atau beruang ( emang yang bisa bercinta Cuma monyet doang ? )
Laki-laki itu bernama Dewa, laki-laki kelahiran pulau Dewata Bali, manis, pintar, baik, berkacamata ( walau tak berkulit putih ), apalagi dia punya suara merdu yang menjadikannya juara pertama lomba menyanyi di sekolah. Hampir semua teman perempuan menggilainya, terutama Eliza, kecuali aku yang saat itu sedang dekat dengan Joe, si pujangga sekolah yang terkenal dengan puisi-puisinya yang romantis dan banyak digilai cewek pula. Eliza dan Dewa memang cukup sering bertemu karena mereka satu kelompok belajar dan aku yakin sekali saat-saat yang dinantikan Eliza adalah ketika mereka belajar bersama. Aku barangkali memang tak terlalu pintar matematika dan agak payah dalam pelajaran fisika, tapi aku cukup jeli menangkap kedekatan mereka.
“Sejelas kamu melihat pensil ini, El”, kataku ketika Eliza bertanya bagaimana aku bisa tahu perasaannya pada Dewa sebelum Eliza sempat curhat denganku. Namun sayang, semuanya berakhir ketika kami lulus dan berpisah seiring dengan perbedaan keyakinan antara Dewa dan Eliza. Dewa dan aku masih satu sekolah, namun Eliza tidak. Jadi sesekali Eliza masih meminta informasi kepadaku dengan siapa Dewa sekarang berhubungan. Barangkali Eliza masih menyimpan kenangan manis pahit itu. Meski demikian ‘life must go on’, di sekolahnya yang baru Eliza telah menemukan pengganti Dewa, meski kembali tak satupun yang jadi pacar tetap hingga lulus SMA.
Laki-laki itu makhluk yang susah dimengerti apa maunya. Egois dan inginnya menang sendiri. Kadang kupikir kenapa Tuhan menciptakan mereka untuk kami para perempuan. Tapi seperti matahari yang kadang bersinar terik menjengkelkan, kami akan selalu membutuhkan mereka.
Satu lagi laki-laki hadir dalam kehidupan Eliza. Irul, teman kuliahnya di Sastra Inggris. Dia mungkin laki-laki yang baik dan penuh perhatian namun kadang lidahnya nyinyir seperti nenek-nenek. Entah apa yang diharapkannya dari perempuan. Irul memang care, sekaligus cerewet untuk urusan penampilan. Dia tak akan segan-segan mengomentari Eliza yang tomboy seperti aku atau terlalu ramah dan terbuka dengan teman-teman laki-laki lainnya. Kenapa cinta bisa menjadi belenggu ?. Tak terbayangkan oleh Eliza sebelumnya mereka akan terjebak cinta segitiga ala anak kuliahan.
Dengan dalih ingin kerja sambil kuliah, Eliza memilih kuliah malam, beda denganku yang siang-siang berkejaran dengan bus kota dan terik matahari, Eliza kadang-kadang harus nebeng mobil teman takut kemalaman. Dan itu menjadi awal hubungan Eliza dengan Irul.
Berawal dari acara pinjam buku, menyelesaikan assigment, cari buku bareng di perpustakaan, pulang bersama dan lain-lain mereka makin akrab. Apalagi Irul cukup manis, tinggi, gentleman, agak putih dan berkacamata. Komplit sudah sesuai kriteria pria idaman Eliza, karena itu Eliza rela ‘dipermak’ Irul. Eliza mulai berubah dari cara bicara, berpakaian dan sikap. Lebih feminin. Mungkin itu perubahan ke arah yang lebih baik. Tapi menurutku, tak perlu menjadi orang lain untuk bisa dicintai. Just love the way you are .
Lalu datanglah mimpi buruk itu. Irul berterus terang kalau dia sudah bertunangan dan masih berhubungan dengan mantan pacarnya yang dulu. Dan konyolnya dia berkata kalau sebenarnya ia ingin kembali dengan mantan pacarnya, pertunangan itu adalah rekayasa keluarga. Dan di mana Eliza ? siapa Eliza baginya ?. lagi-lagi Eliza harus patah.
Barangkali petualangan Eliza yang paling gila adalah ketika ia jatuh cinta pada seorang laki-laki yang sekalipun tak pernah bertemu dengannya. Cuma via SMS. Love is blind ? Atau cerita cinta ala Kahlil Gibran dan May Ziadah kembali berulang ?
Berawal dari sahabatku yang iseng menjodohkan Eliza dengan Dion, si playboy kampusku. Gayung bersambut, setelah saling bertukar nomer handphone, Eliza dan Dion pun saling kontak. Mulai dari SMS sekedar iseng bertanya kabar hingga yang isinya agak nyerempet ke arah serius, mereka janji untuk bertemu.
Aku sendiri tak yakin dengan hubungan jarak jauh semacam ini. Apalagi mereka belum pernah bertemu ditambah dengan reputasi Dion yang bagiku agak meragukan.
“Gimana kalau misalnya Dion itu jelek nggak ketulungan, panuan, berkutu dan lain-lain “, tanyaku.
“Katamu love is not just a physical attraction ? “, kata Eliza sambil cengengesan.
Tapi hari demi hari Dion berhasil meyakinkan Eliza kalau mereka sedang menuju ke arah hubungan yang serius meski belum punya kesempatan untuk bertemu langsung. Setiap kali mereka akan bertemu selalu saja ada halangan. Yang Dion harus mengantar kakaknya pergi keluar kota, ibunya sakit, teman lagi butuh bantuannya.
“Kucing tetangga beranaklah”, tambahku lagi ketika Dion membatalkan sekali lagi kencan mereka.
“Kamu yakin El, atas kesungguhan Dion ?”, tanyaku dan Eliza mengangguk mantap, aku Cuma bisa angkat bahu.
Dengan bantuanku, mereka bertukar foto, aku sampai tegang menanti reaksi Eliza setelah melihat tampang Dion yang jauh dari kriteria ‘perfect’ seperti yang Eliza inginkan. Cuma yang bikin aku heran, cowok yang termasuk kriteria ‘biasa-biasa’ ini ternyata digilai banyak perempuan di kampus.
Dan Eliza bisa menerima begitu saja. Ini keajaiban. Cinta memang ajaib sekaligus membingungkan.
Apa yang terjadi dengan Dion, sungguh di luar dugaanku. Sekali lagi ini adalah keajaiban, ternyata Dion malah mundur dan menghilang begitu saja dari kehidupan Eliza.
“Eliza terlalu cantik buatku”, begitu katanya padaku ketika kutanya kenapa dia pergi meninggalkan Eliza.
Aku mengerutkan dahi, berpikir keras, alasan apapula ini ?
”Bukannya kamu Cuma ingin memperpanjang daftar perempuan yang sudah kau buat patah hati ?”, tanyaku lagi
“Runa, kamu kok sinis banget sih!”. Setelah itu Dion pergi meninggalkanku dalam ketidakmengertian.
Itu adalah tamparan telak yang paling dirasakan Eliza, sekaligus membukakan mataku bahwa kesempurnaan fisik bukan segalanya. Eliza sempat kehilangan rasa percaya dirinya. Dia yang selama ini dianggap ratu, baik, cantik dan pintar ternyata ditolak oleh laki-laki biasa seperti Dion.
Laki-laki itu makhluk rumit serupa teka-teki yang sulit ditebak.
“Bukan salahmu El, Dion aja yang goblok. Emang di dunia ini persentase laki-laki bodoh dan pinter nggak jauh beda, sama banyak”.
Ketika Eliza bersedih hati, aku berusaha menghiburnya. Kata orang bijak, ketika pintu kebahagiaan yang satu tertutup, pintu yang lain dibukakan oleh-Nya. Meski Eliza belum memiliki pasangan hingga kini, tapi aku memintanya untuk yakin dan bersyukur atas apa yang telah dimilikinya sekarang. Fisik yang sempurna, keluarga dan teman-teman yang sangat menyayanginya. Meski dia pernah bertanya padaku suatu kali barangkali dia perlu diet, creambath, rebonding, pergi fitness atau ke spa, tampil seksi atau yang semacamnya, kukatakan padanya bahwa dia tak perlu memakai topeng untuk menarik perhatian laki-laki.
“Kita bukan merak yang kudu punya ekor yang bagus dan berwarna-warni untuk mendapatkan pejantan,” begitu kataku. Dan semua kejadian itu semoga tak berhenti membuatnya mencintai sesama. Meski cintanya sunyi tanpa gaung, tanpa gema.
Pagi ini ketika aku sedang mencabuti rumput liar di sela bunga- bunga di ‘rimba kecilku’, aku kembali mendengar sapaan centil itu
“Haii…..”.
Aku menoleh, Eliza ? dan olala…siapa lagi laki-laki yang sedang berdiri di sampingnya ?
“Stock baru ?”, tanyaku berbisik di telinganya. Eliza nyengir.
”Nemu di mana ?”, tanyaku lagi sambil melirik laki-laki itu.
”Ntar aku ceritain, sekarang ikut kami hang out yuk!”.
Jadilah hari itu aku harus menjadi obat nyamuk, istilah Eliza bila dia mengajakku jalan-jalan dengan pacarnya. Dia selalu meminta pendapatku bila ada laki-laki yang dekat dengannya. Kata Eliza dia percaya dengan instingku, apakah dia laki-laki baik atau tidak.
”Kalau kukatakan dia tidak baik, tapi kamu tetap cinta padanya gimana ?”, tanyaku
”Itu lain soal, dana bantuan politik saja bisa di mark-up, masak yang ini nggak bisa dibikin baik”, begitu komentarnya ringan.
Laki-laki itu namanya Rian, cukup manis dan lumayan enak untuk teman hang out dan ngobrol. Tapi kukatakan pada Eliza untuk tidak cepat-cepat jatuh cinta pada kesan pertama karena kita tidak pernah tahu apa yang ada di hati dan otak laki-laki. Namun itu adalah kelemahan Eliza, terlalu cepat percaya, terlalu cepat jatuh cinta dan terlalu mudah untuk dibuat jatuh cinta. Lagi-lagi cintanya berujung sunyi, karena Eliza harus kehilangan lagi.

Saturday, 2 February 2008

Calo Berseragam

Ini adalah pengalaman saya ketika pada suatu hari saya membayar pajak motor saya di kantor SAMSAT Sidoarjo. Sempat lega karena akhirnya saya terbebas dari kepungan para calo dan dengan pe-denya saya mengurus sendiri. Sebenarnya simpel dan tidak memakan banyak waktu asal kita tahu prosedurnya dan berkas – berkas yang mesti kita bawa, termasuk sewaktu saya terpaksa juga harus mengganti STNK yang ancur gara – gara terendam di bak cucian, saya pun diarahkan oleh petugas resmi SAMSAT untuk mendatangi loket ini dan itu, bila ada pertanyaan harap mendatangi petugas di bagian informasi. Saya tidak ada kesulitan dengan semua itu, namun ada beberapa hal yang kemudian menjadi pertanyaan di benak saya. Benar kalau saya perlu menggesek nomer mesin sesuai ketentuan dan harus mendatangi bagian check fisik kendaraan tapi saya harus membayar sebesar 15 ribu rupiah pada petugas ( dia berseragam hitam dengan tulisan “CHECK PHISIK KENDARAAN ) dan waktu saya tanya namanya siapa katanya namanya Pak Blender ( ndak ada kuitansi tanda bukti untuk pembayaran check fisik kendaraan ), dan saya ndak bisa menggesek sendiri karena ada kertas khusus dari SAMSAT dengan tanda hologram. Kertas berhologram tersebut kemudian ditempel di sebuah kertas semacam formulir, namun anehnya petugas tersebut enggan menandatangani sekaligus menulis nama terangnya ketika saya minta. Kepalang tanggung karena toh akhirnya saya terjerumus dalam lingkaran mafia calo di SAMSAT meski saya berusaha untuk tidak terlibat, akhirnya saya pun mengikuti aturan permainan mereka.
Berikutnya ketika STNK sudah di tangan, saya check ternyata STNK saya yang rusak dianggap tak berlaku lagi dan saya diberi STNK baru dengan nomer baru pula. Tentu setelah itu saya harus mendapat plat nomer baru, sewaktu saya check di bagian workshop dan pengajuan plat nomer kendaraan ternyata persediaan plat nomer kendaraan sudah habis hingga satu bulan ke depan. Melihat saya yang sempat tertegun karena saya harus berpikir bagaimana motor saya nanti tanpa plat nomer resmi, bapak tadi yang mengaku bernama Pak Blender mendatangi saya dan memberikan penawaran kalau mengurusnya ke dia dalam waktu setengah jam sudah jadi sementara kalau mengurus sendiri harus menunggu hingga bulan depan. Saya jadi curiga, karena ingin tahu bagaimana dia mendapatkan plat nomer kendaraan sementara persediaan di kantor SAMSAT sudah habis untuk bulan ini ( baca attachement kliping koran berikut ini tertanggal 4 Januari 2008 ) saya akhirnya mengiyakan penawarannya. Waktu saya tanya berapa harganya, katanya kalau yang resmi sekitar 15 ribu rupiah dan karena saya khusus melalui Pak Blender saya harus menambah sekian rupiah untuk uang rokok katanya. Akhirnya kita deal, harganya 20 ribu rupiah.
Saya diminta menunggu kira – kira setengah jam lagi. Akhirnya saya pergi ke kantin dan mengamatinya dari sana. Sebelumnya Pak Blender telah mencatat NOPOL motor saya dan pergi ke bagian pengajuan plat nomer. Namun tak lama kemudian saya melihatnya pergi ke luar kantor, entah kemana dan sekitar 15 menit kemudian dia sudah kembali langsung menuju ke workshop SAMSAT. Saya akhirnya keluar dari kantin dan mendatangi dia yang berubah jadi kaget dan bilang kalau lupa sedang mengurus plat nomer saya. Akhirnya dia masuk lagi ke workshop. Lima belas menit kemudian dia sudah mendatangi saya dengan plat nomer baru sesuai dengan STNK saya yang terbaru. Saya bertanya darimana dia mendapatkan plat nomer baru itu padahal di sini sedang habis. Dia tidak bisa memberikan jawaban yang jelas dan waktu saya tanya lagi, apakah dia membuat plat nomer itu di luar ? Dia berkata bahwa dia ndak pernah membawa bahan plat nomer ke kantor, lagi pula plat nomernya kan harus ada cap dari kepolisian. Saya memeriksa plat nomer baru tersebut, memang ada capdan saya tidak melihat dia keluar dari kantor SAMSAT dengan membawa plat. Akhirnya karena saya sudah terlalu lama terlambat masuk kerja untuk mengurus pembuatan STNK baru maka saya pun buru-buru mengucapkan terima kasih dan meninggalkan dia. Bapak itu berpesan kalau memerlukan mengurus apa – apa supaya menghubungi dia lagi nanti. Saya pun mengiyakan.
Saya jadi ragu, apakah dia benar – benar petugas resmi SAMSAT atau calo ? Dan apakah pimpinan di kantor SAMSAT mengetahui permainan ini ?
Semoga kalo ada INTEL yang membaca tulisan di blog saya tentang hal ini tidak menuduh saya sedang melakukan tindakan subversif .

Saturday, 12 January 2008

Mawar dalam kaca


Dia cantik ( meski tak terlalu pintar ) punya segalanya, orang tua kaya yang agak keningrat-ningratan ( sering kuanggap rumahnya yang megah itu panggung ketoprak tertutup buat umum ), punya sopir setia dan pembantu yang patuh. Dia salah satu dari sekian banyak teman biasaku, tak ada yang dekat atau terlalu dekat. Aku yang punya prinsip ‘trust noone’ lebih suka menganggap mereka sekedar numpang lewat dalam kehidupanku, tak punya kekuasaan untuk mengatur aku. Anehnya mereka menganggapku sahabat, teman berbagi rasa meski aku tak pernah membagi rasa yang kupunya dengan mereka.
Teman-teman biasaku itu sering menceritakan masalah-masalah mereka seolah aku ini psikiater dan konsultan perkawinan yang handal, ahli menyelesaikan masalah. Kadang aku bosan, tapi mau gimana lagi ? Aku toh makhluk sosial dan so’sial yang butuh gaul dengan orang lain dalam frekuensi yang tak terlalu sering, meski aku selalu berusaha menyelesaikan masalahku sendiri.
Kawanku bercerita hanya Tuhan yang perwujudan-Nya bisa kulihat di mana saja, di gunung, laut, pantai, pohon, matahari, bulan, bintang bahkan pada secangkir kopi, perantara kesembuhan sakit migrenku.
Perempuan cantik itu bernama Tiara, seperti namanya, kesan elegan dan mahal terpancar dari tingkah laku yang dipoles dengan aturan tata krama yang telah digariskan oleh leluhurnya. Katanya perempuan tak boleh tertawa ngakak, nggak boleh pakai jeans belel dan sepatu kets, mesti tinggal di dalam rumah, jalannya harus anggun bak peragawati, bicaranya harus pelan dan sopan, tidak boleh berteriak , kudu nurut orang tua biar nggak kualat dan kalau berteman harus lihat bobot bebet bibit apalagi kalau nyari pacar bla bla bla. Cuma acara pencarian bobot bebet bibit ini jadi lebih condong ke dia anaknya siapa ? kaya nggak ? tinggal di real estate atau RSSS ? punya gelar apa ?. Dijamin laki-laki tak bermodal tak akan berani mendekati Tiara.
Seluruh hidupnya telah digariskan oleh kedua orang tuanya seperti petugas protokoler ngatur presiden, mulai bangun tidur hingga tidur lagi Tiara tak punya hak untuk menentukan pilihannya sendiri, selalu dianggap seperti anak kecil yang harus dilindungi, rapuh dan tak tahu apa-apa tentang hidup dan kehidupan ( unfortunately, mereka tak pernah mengajarkan hidup dan kehidupan itu sendiri ). Aku pun tak habis pikir bahkan Tuhan pun membebaskan hamba-Nya untuk memilih kehidupan macam apa yang diinginkannya. Kemanapun Tiara pergi harus selalu diantar, tidak boleh keluar rumah sembarangan bahkan untuk nonton konser musik klasik bersamaku pun harus melalui birokrasi yang maha sulit. Kutanyakan padanya kenapa ayahnya tak menyewa centeng atau bodyguard saja, Tiara hanya angkat bahu sambil nyengir.
" Kalaupun ayahku menyewa centeng, dia harus sekeren Kevin Costner", begitu candanya membayangkan si Whitney Houston dan Kevin Costner dalam film "The Bodyguard".
Aku sedang membaca buku di perpustakaan kampus yang sunyi ketika Tiara tiba-tiba muncul dan duduk di sebelahku. Tiga jilid buku tebal tertumpuk di meja bekal weekend. Sabtu malam aku lebih suka membaca buku, menulis puisi atau melamun bergumul dengan duniaku sendiri atau sesekali ke warnet chatting .
"Kau tak ada date nanti malam ?’, tanya Tiara sambil membolak-balik halaman sebuah buku tanpa selera.
" Kau tahu aku selalu sendiri", sahutku santai.
"Juan ?", tanyanya lagi.
Sejenak melintas di benakku wajah teroris nan cakep, si blasteran Spanyol, Juan, mahasiswa pendatang yang kebetulan murid Bahasa Indonesiaku itu..
"Weekend gini dia pasti sudah nongkrong di atas motornya, pergi entah ke mana dan Bahasa Indonesianya sudah cukup bagus untuk cari cewek. Tolong dicatat, dia bukan teman kencanku", aku menegaskan. Banyak perempuan di kampus ini yang mendambakan jadi pacar Juan, tapi yang jelas aku bukan satu dari mereka.
"Acara malam minggumu ? Disekap ibumu lagi, ya ?", tanyaku setelah melihat raut muka Tiara yang mirip baju minus setrika. Kusut.
"Seperti biasa dan aku selalu bosan di rumah. Selalu begini, harus begitu, itu nggak boleh, ini saru. Paling-paling nemenin nyokap belanja", keluhnya.
"Well, madame apa yang bisa kubantu?"
"Bantu aku lari dari rumah!". Mataku membulat tak percaya.
"Aku ingin kebebasan "
Dalam hati aku ketawa ngakak, burung kecil yang elegan itu merasa pengap dalam sangkar indahnya. Kebebasan macam apa yang diinginkannya ?
Satu waktu Tiara pernah berkata padaku kalau dia ingin sepertiku, bisa naik gunung, bepergian ke mana pun seperti yang aku mau, lari-lari mengejar bis ke kampus, bisa pulang malam ( padahal itu karena aku kerja part time usai kuliah ), kencan dengan pacar tersayang yang kupilih sendiri, nongkrong dengan teman-teman….
"Dan kekurangan duit, hahaha…", aku menyela mimpi-mimpinya tentang kebebasan. Keinginannya tadi adalah sesuatu yang wajar menurutku, tapi perundang-undangan yang berlaku di rumahnya melarang Tiara untuk melakukan itu semua. Kasihan.
"Aku mau minggat ! Pergi dari rumah !". Kali ini tampaknya Tiara tengah berada di puncak kekesalannya.
"Pergi kemana, Ra ?", tanyaku tak yakin Tiara mampu meninggalkan istananya. Tiara tak biasa hidup susah, selalu dilayani mulai dari nyisir rambut sampai hal kecil lainnya. Terbiasa makan enak, tidur di kasur empuk dan mahal serta liburan di tempat elit. Bisa kubayangkan kalau ia minggat, barangkali ia akan check-in di hotel mewah berbintang komplet dengan spa, salon kecantikan dan mall buat shopping. Ikut aku berpetualang atau pulang ke desa kakekku? I’m not sure kakinya yang sekecil lidi kuat menapaki bukit terjal yang biasa kudaki. Kulitnya yang halus dan bersih terawat karena rajin luluran dan mandi rempah tahan dengan panas matahari dan debu jalanan.
Apakah Tiara bisa kuajak makan di angkringan, makan mie ayam menikmati teh botol dingin sambil mengamati orang yang lalu lalang ? apa Tiara kuat memanggul ransel dan berjalan jauh sementara selama ini kemanapun dia pergi selalu diantar sopir ? Tiara seperti hidup dalam dunia mimpi. Putri dalam dongeng. Kadang aku iri juga, betapa enaknya bisa ongkang-ongkang kaki di rumah, segala fasilitas ada, tidak seperti aku yang harus kerja sambilan agar bisa melanjutkan kuliah. Masih kuingat dengan jelas Tiara hampir menangis ketika ibunya mengancam mencabut uang saku dan segala fasilitas ketika ketahuan pacaran dengan laki-laki bukan pilihan orang tuanya. Poor Tiara.
Dalam hati aku mengumpat panjang pendek. Kalau begitu buat apa mengeluh ingin bebas dari kekangan orang tuanya namun tak berani menjalani hidup yang nggak simpel dan manis seperti yang berlaku di istananya, semuanya tinggal perintah tinggal minta, selalu ingin dilayani bak ratu. Tiara tak kenal kondisi tidak ada atau tidak punya, apa yang dimintanya selalu dituruti. Bukannya aku ingin mengajarinya melawan orang tuanya atau menjadi pemberontak, tapi setidaknya Tiara mampu memperjuangkan keinginannya, her own life. Bahwa Tiara bukan boneka. Awalnya Tiara tak menyukai perjodohan yang telah diatur oleh keluarganya tapi toh akhirnya dia pasrah menerima karena calonnya ternyata ganteng, kaya raya, pinter, lulusan college bonafide di negeri ini dan berasal dari kalangan terhormat ( begitu mudahkah cinta di rekayasa ?)
Tiara tak beranjak dari tempatnya. Menanti jawaban dari sekian pertanyaan. Mengapa dia harus berbeda dari yang lain ? mengapa kebebasan yang sangat diinginkannya menjadi sangat mahal ? benarkah kebebasan yang dibutuhkan Tiara ?
Tiara membuatku bertanya-tanya, berjuta pertanyaan memenuhi ruang otakku yang tak seberapa besar ini. Tiara membuatku berpikir tentang arti kebebasan yang sesungguhnya. Seperti biasanya pikiranku melompat-lompat kadang-kadang keluar dari dimensi ruang dan waktu di mana kini aku berada. Apakah kebebasan itu seperti yang dikatakan Matt bahwa kita boleh melakukan segala hal sekehendak hati asal hati senang ? Do what you want to do, Do what you can do, Do everything that make you happy.
"Barangkali kita memang tak pernah bebas, Tiara. Hidup kita sebenarnya selalu terikat dengan aspek yang ada di sekitar kita baik yang kasat mata maupun tidak. Kita hidup di sangkar yanng maha luas bernama semesta. Kita di atur oleh sangkar abstrak bernama norma, nilai-nilai moral, ajaran agama dan sebagainya. Sutradara besar itu, Tuhan Yang maha Kuasa juga Maha arif dan Bijaksana memberikan pilihan kepada para pemainnya untuk berimprovisasi, memilih dialog dan gerak yang harus dilakukan sejauh tidak menyimpang dari skenario yang telah digariskan. Tuhan memberi kita pilihan bagaimana kita menjalani hidup ini dengan cara yang baik dan buruk.
"Tapi kau memilikinya, Runa ". Protes Tiara.
"Kau pun memilikinya Tiara, hanya saja tak pernah kau sadari. Kau mendapatkan apapun yang kau inginkan meski ada satu dua permintaan yang tak terkabulkan. Akupun begitu. Percayalah, Tuhan Maha Tahu yang terbaik untukmu".
Tiara nampak tak puas dan meninggalkan aku kembali sendiri di kesunyian perpustakaan kampus. Tiara, aku pun jadi takut membayangkan bahwa sebenarnya kebebasan itu tak pernah ada.
***

DJOGJAKARTA SATU EPISODE

terhanyut aku akan nostalgia
saat kita sering luangkan waktu
nikmati bersama suasana Jogja.... ( KLA, Jogjakarta )
Hi All readers, nambah label baru nih buat menampung semua puisi - puisi saya yang sebelumnya tak pernah terpublikasikan, semoga cukup menghibur.....

Mendung bergelayut
Bergulung hitam menabur jelaga pada awan
Gerimis
Akhirnya lelah penat
Terpuruk aku di sini
Rindu
Membawaku kembali
Kenangan itu masih terbingkai
Menyisa perih
Yogya, 17 Oktober 1998

Semula cuma kudapati karang, pasir dan ombak
Lihat!
Ada ikan – ikan kecil, rumput laut dan kerang
Lalu....kutemukan dirimu
Pantai Krakal Yogya, 18 Oktober 1998

Lama tak kuceritakan mimpi – mimpiku pada hujan
Kupandangi dia dari balik jendela
Yang basah oleh titik – titik airnya
Tak kuceritakan tentang kerang – kerang yang mulai melumut
Melapuk menggurat waktu
Aku hanya menatap titik – titik air melompat – lompat
Diatas genangan air
20 November 1998

Ada saatnya rumput – rumput hijau itu
Kering meranggas
Dan dirinya merunduk lelah tanpa asa
Kala akar – akarnya tak mampu menjangkau
Air berada
Rumput – rumput cuma bisa rindu
8 Desember 1998

Ada lentera kecil
Mencoba menguak jelaga malam
Sinar redupnya menari – nari
Diterpa angin
Lalu padam
24 Desember 1998

Ada satu rindu pada terlalu banyak kenangan
Malioboro yang riuh
Pada alun – alun Yogya malam selepas rinai
Pada sapa ramah kawan
Pada laut, pasir, kerang, karang-karang terjal
Pada ombak pantai selatan
Misteri yang tersimpan
Kuselipkan sedikit rindu
Untuk senyum manis milikmu
28 Desember 1998

Ini adalah kuntum flamboyan yang terakhir
Pucat lesi tiada berseri
Aku takut bila ini suatu pertanda
Hujan tak lagi menyanyikan lagu riangnya
Aku cemas pada kecemasanku
28 Desember 1998

Ukiran pada batu – batu
Cinta terpahat teguh
Menjulang tinggi
Stupa candi
Di altarmu kesetiaanku jadi persembahan.
18 Januari 1999

Siapakah yang lebih dicintai matahari ?
Pada bulan diberikan sinar perak purnama
Bumi menerima anugrah keemasan pagi
Senja ?
Bulan murka lalu mencipta bayang – bayang sekujur cakrawala.
27 Januari 1999





Tuesday, 8 January 2008

Cerita seorang kakek tentang cucunya

Seorang kakek yang bertemu saya di sebuah acara wedding party bercerita tentang salah seorang cucunya. Beliau memilki dua orang cucu, laki –laki dan perempuan. Cucu pertama adalah perempuan yang dilahirkan dari istri putra pertamanya yang kebetulan memutuskan untuk tinggal jauh terpisah dari si kakek karena pekerjaannya. Cucu kedua seorang laki – laki yang kebetulan tinggal serumah dengannya bersama anak perempuan dan menantunya.
Si kakek berkata bahwa beliau sebenarnya sangat menyayangi cucu perempuannya meski jarang bisa bertemu karena perjalanan yang cukup jauh harus ditempuhnya di usianya yang sudah tidak muda lagi, sedangkan si nenek sering kali kelelahan ‘momong’ cucu laki – lakinya yang sedang nakal – nakalnya. Namun mereka masih selalu saling berhubungan lewat telepon. Putranya mengirim foto si cucu perempuan yang sedang lucu – lucunya belajar berbicara dan berjalan.
Suatu ketika si kakek mendengar bahwa cucu perempuannya mengalami kelainan jantung dan harus segera dioperasi agar bisa hidup dengan normal seperti anak – anak lainnya. Hati si kakek sangat hancur karena dia tidak bisa mendampingi putra pertamanya yang sangat terpukul dengan kondisi anak perempuan pertamanya. Sambil menangis si kakek sering menelepon putra pertama dan menantunya menanyakan perkembangan si kecil. Tak ada hentinya dia berdoa semoga cucu perempuannya baik – baik saja dan bisa bertahan hidup.
Suatu ketika, ternyata Tuhan berkehendak memanggil si cucu perempuan, batita mungil yang baru berumur kurang dari 2 tahun itu akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di ruang ICU tanpa kehadiran sang kakek yang sangat merindukan ingin bertemu dengannya. Yang sangat memilukan, sang cucu ternyata meninggal dunia hanya selang sehari sebelum si kakek tiba di kota tempat tinggal cucunya.
Maka, ketika sang kakek akhirnya datang, dia hanya mendapati tubuh mungil yang telah terbungkus kain kafan dan si kakek tidak mampu lagi membendung air matanya. Diciumnya wajah cucu perempuannya untuk terakhir kalinya. Nenek yang kebetulan juga datang sambil membawa hadiah baju – baju bayi yang cantik – cantik pun histeris memeluk sang cucu yang sudah tidak bernyawa lagi. Sang nenek selalu ingat setiap kali dia menelepon sang cucu dan bernyanyi di telepon, si kecil akan tertawa – tawa senang meski mereka tidak bertemu muka. Bahkan hingga kini, nenek masih menyimpan baju – baju dan mainan yang seharusnya dihadiahkan kepada cucu perempuannya, setiap kali nenek merindukannya dia akan mengeluarkan baju – baju dan mainan itu dari lemari dan memandanginya. Seolah cucu perempuannya tengah memakai baju itu dan bermain dengannya. Menyedihkan sekali.
Akhirnya kira – kira setengah tahun setelah meninggalnya sang cucu, si kakek datang lagi ke kota tempat putra pertamanya tinggal yang hingga saat itu istrinya masih belum juga menunjukkan tanda – tanda kehamilan berikutnya.
Kakek bercerita bahwa beberapa hari sebelum berencana pergi mengunjungi putra laki – lakinya sekaligus menghadiri pernikahan seorang putra kerabatnya dia bermimpi bertemu dengan sang cucu perempuan yang telah tiada.
Kata kakek itu, dia merasa bermimpi sedang berada di tengah pasar yang ramai dan kehilangan cucunya ( yang dimaksud adalah cucu laki – lakinya ). Suatu saat, dia bertemu dengan seorang perempuan penjual makanan dalam mimpi tersebut dan bertanya apakah dia melihat cucunya ? tanpa banyak bertanya perempuan itu menjawab ya dan menunjuk ke sebuah atap bangunan. Lalu kakek berlari ke sana dan menemukan sang cucu sedang tiduran di dalam ruangan kecil di loteng. Tapi alangkah terkejutnya ketika yang dilihat sedang tiduran itu bukan cucu laki – lakinya namun cucu perempuannya yang telah meninggal dunia. Si perempuan yang berada di bawah berkata cucunya tersebut berulang kali ingin dijenguk. Begitulah mimpi kakek tersebut, beliau bercerita kepada saya dengan menitikkan air mata. Saya pun tanpa terasa ikut terbawa suasana dan mata saya berkaca – kaca memandang kakek itu. Katanya sepulang dari acara wedding party ini, si kakek akan langsung pergi ke makam cucunya.
Saya masih menitikkan air mata ketika kakek itu berpamitan kepada saya siang itu dan berterima kasih karena berkenan mendengarkan ceritanya.
Semoga kakek tidak lagi bersedih........

Ruang As Shofa Masjid Al Akbar Surabaya 5 Januari 2008.

Thursday, 3 January 2008

Tea World



Saya penggemar berat kopi dan teh. Apapun jenis tehnya, saya menyukainya. Ada black tea, jasmine tea, green tea dan sebagainya. Adapula Rosella tea yang terbuat dari kelopak bunga rosella yang dikeringkan, rasanya asam segar, yang memilki khasiat menurunkan kadar kolesterol dalam darah.
Saya punya pengalaman lucu karena menemukan teh dengan sensasi rasa mengejutkan. Tehnya dicampur soda. Saya sampai terkaget – kaget dengan rasanya. Salah seorang teman saya menyukainya hanya karena tehnya berwarna mirip wisky, jadi kadang – kadang dia mengkhayal kalau sedang minum teh bersoda tersebut dia seakan – akan minum wisky, ada – ada saja. Saya kurang menyukainya karena memang saya tidak terlalu suka minum minuman bersoda.


Waktu saya berkunjung ke Jepang, saya menemukan banyak ragam teh dan banyak cara mereka dalam menikmatinya. Teh tersebut dikemas dalam botol siap minum dan bisa dibeli di vending machine ( jidoohanbaiki ) baik panas maupun dingin atau di supermarket terdekat. Ada green tea yang murni tanpa dicampur apa – apa termasuk gula, ada pula green tea yang dicampur aroma buah dan melati, ada teh oolong ( urong cha ) yang saking senengnya saya, hampir tiap hari pas makan di Jepang saya selalu minum teh ini ( customer saya yang di Jepang sampai hapal dengan kesukaan saya dan langsung memesankan teh ini bila sedang makan bareng dengan saya ), ada teh yang lebih nikmat kalau ditambah susu dan perasan air lemon dan sebagainya. Sebenarnya teh oolong mirip dengan teh hitam yang sering kita minum di Indonesia, tapi rasanya lebih enak, ndak pahit, tawar tapi enak. Diminum dingin atau panas sama enaknya.

Saking sukanya saya dengan teh, saya kadang - kadang nitip pada teman – teman yang sering pergi keluar negeri untuk membelikan teh khas negara yang mereka kunjungi.
Kalau teh hijau Jepang, saya sering dibawakan customer saya dari Jepang yang berkunjung ke Indonesia, mereka sangat menghargai teh bahkan menjadikannya suvenir khas Jepang dengan mengemasnya sangat elegan dan indah. Saya malah menjadikan kaleng tempat teh tersebut sebagai wadah menyimpan perhiasan karena saking bagusnya.

Ada pula Earl Grey Green Tea, teh asal Inggris yang dibawakan salah seorang teman, waktu saya tuangi air panas, aroma lemon yang segar segera tercium padahal rasa tehnya tawar seperti teh hijau pada umumnya.. Saya sempat pula dibawakan berbagai macam teh dari hotel tempat dia tinggal yang dikemas dalam bungkus satuan. Ada teh yang dicampur lemon dan jahe, ada pula teh yang dicampur rashberry dan peppermint dan lain – lain. Tapi kalau saya perhatikan sebenarnya apa yang orang Inggris sebut teh ternyata bukan daun teh beneran Waktu teh dengan rasa lemon dan jahe saya buka, ternyata di dalamnya tidak ada daun teh, melainkan potongan –potongan jahe dan lemon yang dikeringkan. Rasanya sama nikmatnya dengan wedang jahe namun juga beraroma lemon segar.
Ingredients ( keterangan bahan ) yang ada dalam bungkus teh masih saya simpan, supaya saat saya kepengen lagi minum teh ini saya bisa membuat sendiri tanpa harus jauh – jauh pergi ke Inggris hehehe.
Beberapa teh yang saya punya, menurut keterangan di kemasannya, biasanya dinikmati dengan susu. Tapi saya lebih suka menikmatinya begitu saja tanpa campuran apa – apa termasuk gula ( menurut saya gula justru merusak aroma dan rasa tehnya ).


Ada cerita lagi tentang cara menikmati teh di Jepang. Di sana, ada seni menikmati teh yang disebut cha no yu. Kalau anda pernah melihat film Karate Kid II, pasti anda paham apa yang disebut cha no yu atau upacara minum teh. Tehnya berwarna hijau kental dan agak berbusa kalau diaduk. Kebetulan saat masih mahasiswa dulu saya berkesempatan mengikuti ritual upacara minum teh ini bersama seorang perempuan warga Jepang yang tinggal di Surabaya dan beberapa mahasiswi Universitas Dr. Soetomo Jurusan Sastra Jepang. Waktu itu upacaranya digelar outdoor di Gedung Cak Durasim Surabaya dalam rangka Pameran Budaya Jepang ( Bunkasai ). Karena masih pagi dan tidak banyak yang mengikuti maka saya bisa merasakan suasana sakral dari upacara minum teh ini. Bayangkan saja, di pagi yang hening dan hanya terdengar suara kicau burung, mencium bau teh hijau dan denting porselen peralatan minum teh Jepang yang cantik. Kabarnya untuk bisa melakukan upacara ini seseorang harus menjalani pelatihan khusus, makanya saya sangat terkesan ketika seorang mahasiswi yang mengenakan yuukata ( kimono katun khas Jepang ), mampu memperagakan cha no yu tersebut. Gerakan yang dilakukan ketika menjumput daun teh, mengambil air dan menuangnya ke dalam ketel dan mangkuk minum, semuanya telah diatur, tidak berlebihan namun sangat anggun. Waktu kita disodori mangkuk tehnya, kita melakukan gerakan memutar mangkuk minum tersebut sebelum meminumnya. Keseluruhan upacara ini menghabiskan waktu sekitar 15 menit, rasanya saya seperti bermeditasi, namun seorang teman yang duduk bersimpuh di sebelah saya malah terkantuk – kantuk dan sempat menitip pesan agar membangunkan dia begitu tehnya siap, dasar !

Menurut sejarahnya, kebiasaan minum teh Jepang ini pertama kali dibawa oleh pendeta dari Cina ke Jepang pada sekitar abad ke delapan. Sehingga, kebiasaan minum teh ini pada awalnya sangat populer di kalangan para pendeta saat itu. Baru pada abad ke 12, seorang pendeta bernama Eizai mendemonstrasikan upacara minum teh ini kepada Minamoto Sanetomo sehingga menyebar ke kalangan samurai. Kemudian pada abad ke 14, kebiasaan minum teh ini mulai populer di kalangan rakyat biasa.

Upacara minum teh, selain disebut sebagai cha no yu sering pula disebut sebagai cha do, dan dianggap mewakili ajaran Budha dan Zen.
Cha do tidak hanya sekedar upacara minum teh biasa, namun di dalamnya terdapat nilai filosofi yang tinggi terhadap kesetaraan , harmoni dan kemurnian.
Mengandung nilai kesetaraan karena pada saat anda mengikuti ritual minum teh ini, tidak peduli jenderal, pejabat tinggi atau orang biasa akan memulainya dengan saling membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan. Di dalam ritual minum teh ini tidak ada lagi batasan kasta atau kelas seseorang dengan orang lain. Sedangkan nilai harmony ditunjukkan dengan aspek – aspek yang mengiringi upacara minum teh tersebut seperti hubungan antara orang – orang yang melaksanakan ritual tersebut, rangkaian bunga ( ikebana ), mangkuk teh beserta peralatan lain dan sebagainya.
Kemurnian jiwa sangat penting dalam cha do, karena hanya dengan kemurnian hati dan jiwa kedamaian pikiran bisa diperoleh. Sederhananya, coba saja anda menikmati secangkir teh anda dengan jiwa dan hati yang tenang dan bandingkan ketika anda menikmatinya ketika anda terburu – buru dengan urusan pekerjaan, anak, istri, suami dan kerumitan hidup lainnya.

Ini adalah pengalaman pribadi saya, mungkin bisa jadi berbeda dengan orang lain, tapi baik di kantor dan di rumah, saya memilki cangkir keramik wadah biasa saya menikmati teh atau kopi. Perasaan saya mungkin terasa lain bila saya terpaksa minum tidak menggunakan alat tersebut. Ini mungkin sugesti atau tidak, tapi menikmati teh dengan wadah dari keramik akan terasa berbeda bila saya menikmatinya dengan gelas kaca atau bahkan gelas plastik. Sesibuk apapun, saya selalu menyempatkan diri menikmati secangkir teh meski hanya 5 menit, rasanya seperti usai bermeditasi.
Sering kali pula saya mendapat ide – ide menulis sambil menikmati secangkir teh.
Tepat seperti yang diucapkan oleh master teh Sen Soushitsu XV yang mengajarkan sebuah pemikiran the thought of " Peacefulness through a Bowl of Tea." Chado is also deeply influenced by Zen thought. In a sense, the ideal spirit of chado is a kind of religious mind. The essence of chado can be understood as the guiding principle for life for each person. The spirit of chado is universal.

Untuk lebih detail mengetahui bagaimana ritual teh ini, anda bisa mencarinya di wikipedia.com atau lewat search di yahoo dengan memasukkan kata ‘cha no yu’. Nah selamat bersurfing ria dan menikmati teh anda...hmmmm.........


Buku Sumber
"THE WAY OF TEA" Copyright ・1993 by Tankou-sha