Pemesanan Produk Oriflame :
Hubungi saya, NIKEN via SMS/Whatsapp Msg di 085643172023, Telp : 08885210403

Cara Order : SMS kan nama atau kode barang dan jumlah beserta alamat pengiriman. Jumlah total pembayaran termasuk ongkir akan diinformasikan.

Barang yang dipesan akan dikirim sesuai alamat yang anda berikan setelah melakukan transfer melalui rek BCA.

Harga berubah sesuai Katalog terbaru.

#KELUHAN TENTANG PEMAKAIAN PRODUK YANG DIBELI SELAINDAI BLOG, SILAHKAN DITUJUKAN KE COSTUMER CARE ORIFLAME CABANG TERDEKAT

Wednesday, 3 December 2008

Melawan Dunia

song by PETERPAN

Kita adalah hati yang tertindas

Kitalah langkah yang berhenti berjalan

Kitalah mimpi yang tak terwujudkan

Senandungkan nada – nada yang hilang

Kita memahami yang sesungguhnya tanpa harus menjelaskan semua

Tanpa pedulikan kata mereka

Kita berjalan melawan dunia

Hanya bisa bicara, mereka tak beri jawaban

Tak perlu dengar kata mereka, teruslah berjalan

kadang - kadang komentar orang disekitar kita bikin kita malah down dan lalai berkarya, jadi dengarkan saja lagu ini, saya jadi semangat lagi

Cinta tak mengenal expired date

Dulunya saya menganggap bahwa tidak pernah ada cinta yang abadi, orang boleh bilang saya pesimistis, barangkali karena saya terlalu banyak nonton acara infotaintment yang isinya berita cerai artis selebritis. Jadi cinta itu semacam makanan kaleng yang mengenal expired date, kalau sudah kadaluarsa dengan berat hati mesti didepak, cari lagi yang lebih fresh ( daripada sakit perut, hehehe ). Seringkali alasan yang klise sih sudah ndak cocok lagi ( tapi dulu kok cocok ya ).
  
Tapi setelah saya pikir – pikir lagi, sebenarnya yang expired itu bukan cinta, tapi pasangan kita sendiri atau bahkan kita sendiri. Seringkali pasangan kita atau bahkan diri kita sendiri berubah menjadi sosok yang nyebelin, membosankan, dan ngeselin ( termasuk manja, pemalas, cerewet, posesif, botak, gembrot, jerawatan dsb ), itu yang membuat kita berhenti mencintai pasangan kita dan memilih untuk berpisah. Mestinya sebelum ambil keputusan berpisah setiap orang harusnya berpikir bahwa kita pun bisa berubah menjadi orang yang nyebelin, membosankan, dan ngeselin bagi pasangan kita.
 
Seorang penulis, Mignon McLaughlin berkata , “sebuah pernikahan yang berhasil membutuhkan perasaan jatuh cinta berulang – ulang pada orang yang sama yaitu pasangan kita”. Mungkin mudah buat kita untuk jatuh cinta dengan orang lain apalagi bila dia jauh lebih baik daripada suami atau istri kita yang tiap hari, tiap saat kita jumpai masih tetap dengan wajah, dandanan dan sifat yang telah lama kita kenal ( yang tetep itu – itu saja ). Bisa jadi kita pernah bosan dan ingin bersama dengan orang yang benar – benar beda dengan pasangan kita. Bisa jadi just for fun cuma sesaat atau bila perlu diteruskan ( atau keterusan ). Kayaknya diperlukan usaha yang keras sekaligus tekad ( baca : niat ) yang kuat supaya bisa jatuh cinta tiap hari dengan orang yang sama ( baca : cerewet, posesif, botak, gembrot, jerawatan,manja dan pemales hehehe ).
  
Ada yang menarik ketika saya membaca satu cerpen yang ditulis Dee berjudul PELUK dalam bukunya RECTO VERSO, saya mendapatkan sebuah kisah perpisahan yang ( dibikin ) indah, ada kalimat – kalimat ; Aku tidak ingin bersamamu cuma karena enggan sendiri. Kau tidak layak untuk itu. Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukannya ketakutannya akan sepi.( Peluk, halaman 56 ) . Ternyata sebagian orang memilih untuk berpasangan karena enggan sendiri, bahwa kesepian dan kesendirian itu bisa menjadi begitu menyiksa ( termasuk demi memperoleh kenyamanan finansial darinya ). Tapi pernahkah anda bertanya pada diri sendiri bahwa anda memilihnya karena dia adalah bagian dari diri anda ? . Untuk apa dia mesti menjadi bagian dari diri anda kini kalau di kemudian hari dia tak lagi sama ? 
Ketika cermin itu terbelah, apakah akhirnya anda akan memilih untuk mencari cermin lain yang utuh ?
Setiap orang bisa berubah, ketika kita tak lagi sejalan,seirama, mampukah kita untuk tetap bersama ? apakah anda akan mencari pasangan lain untuk menggantikannya ? Kalau dia sama dengan saya lalu untuk apa saya mencari pasangan ? 

Simak pula paragraph berikut ;
Hati adalah air, aku lantas menyimpulkan. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berkali – kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar dan hatiku berhenti mengalir. Siapa yang mengatur itu ? aku pun tahu. Barangkali kita berdua, tanpa kita sadari. Barangkali hidup itu sendiri, sehingga sia – sia menyalahkan siapa – siapa.
Aku ingin mengalir. Hatiku belum mau mati. Aliran ini harus kembali memecah dua agar kita sama – sama bergerak. Sebelum kita terlalu jengah dan akhirnya pisah dalam amarah
( Peluk,halaman 56 – 57 )
Mungkin dengan membaca cerita Dee di atas, kita bisa paham alasan mengapa Dee memutuskan untuk bercerai dari Marcel dan menikah dengan Reza Gunawan ( sorry, sekarang saya jadi agak rajin nonton infotainment hehehe )
.
Seringkali dalam perjumpaan dan perpisahan orang sama – sama menunjuk Tuhan, bahwa karena takdir-Nya lah kita bertemu dan berpisah. Dalam sebagian kasus memang benar. Namun tak adil rasanya ketika kita menjadikan takdir Tuhan sebagai alasan kita menentukan perpisahan, sebab kita punya kemampuan untuk memilih. Memilih untuk tetap bersama dengan segala perbedaan dan menyelesaikan masalah yang ada atau memilih untuk jalan sendiri – sendiri.
Adakalanya kita berhenti mencintai pasangan kita seperti air yang berhenti mengalir, lalu membeku serupa stalagmit dan stalagtit, kita butuh untuk tetap mengalir agar kita tetap hidup dengan mencintai orang lain. Sebagian orang menganggap bertahan dalam kepalsuan ketika kita tetap mempertahankan sebuah hubungan yang hambar. Barangkali suatu saat nanti saya akan memilih jalan yang sama,  namun semoga saja tidak, karena saya tak yakin, ketika menjalani kehidupan bersama orang lain saya tak akan mendapati masalah yang sama. Apakah saya akan meninggalkan begitu banyak luka diatas kebahagiaan saya terbebas darinya ?
 
Bukan cinta atau hubungan yang expired, namun pribadi yang tak lagi sama seperti awal kita memutuskan untuk melangkah bersama.  


Thursday, 27 November 2008

First Love ( will be ) never die

Saya tak pernah bisa memiliki dirinya yang menjadi cinta pertama saya. Namun bila saya memaksakan diri mendapatkan seorang pengganti yang sama persis dengan dirinya, saya yakin saya tak akan pernah bahagia dengannya, karena saya tidak mencintainya dengan sesungguhnya, itu karena saya mencintai masa lalu saya dan cinta pertama saya. Maka kini yang saya lakukan adalah menjaga semua kenangan manis pahit tentang cinta pertama saya, tentang seseorang dan cinta yang tak akan pernah saya miliki selamanya.
Seorang sahabat lama masih kerap mengunjungi saya via email. Dilihat dari foto terakhirnya penampilannya tak jauh berbeda dengan jaman kuliah dulu, tetap kasual masih tetap semanis dulu meski kini kelihatan lebih matang. Masih single meski saya tahu dia sukses berat dengan pekerjaan dan kehidupan sosialnya, namun tidak dengan kehidupan pribadi dan cintanya. Sayalah satu-satunya sahabat yang mengetahui apa yang terjadi dengannya, seorang perempuan yang sangat terobsesi dengan laki – laki pertama yang dia cintai, berbeda dengan saya yang sudah lupa pria mana yang pertama kali saya cintai atau kapan tepatnya pertama kali saya jatuh cinta. Terlalu banyak yang datang dan pergi dalam kehidupan saya, banyak kehilangan sekaligus menemukan ( yang ini lebih puitis daripada umgkapan 'mati satu tumbuh seribu' hehehe ).
Dengan kemampuan bicara multi lingual, Jepang, Inggris dan tentu saja bahasa Indonesia, dia berhasil mendapatkan pekerjaan yang sangat bagus, seorang pengajar di sebuah Universitas di negeri seberang, sekaligus pekerjaan sampingan menjadi penerjemah sesekali, mestinya dia telah menemukan banyak pria yang baik dan berprospek cerah, namun dia tetap memilih hidup melajang.
“Let me die in virgin”, katanya ( wah mubazir amat )
Saya masih ingat percakapan bertahun – tahun yang lalu, ketika kami masih kuliah, tinggal bersama di kamar kos yang sempit, malam minggu berstatus jomblo-er sambil menikmati kopi rasa mocha bikinan sendiri yang seringkali agak pahit karena kebanyakan kopi, ngobrol tentang banyak hal termasuk tentang cinta pertama kami. Suatu ketika dia bertanya pada saya siapa dan kapan first love saya.
Saya nyengir dan balik bertanya,” apa sih cinta pertama itu karena terus terang saya ndak jelas,ndak ingat kapan tepatnya.” Waktu masih SD dulu saya memang sempat naksir temen cowok yang ganteng dan hobi sekali menulis puisi, tapi itu kan cinta monyet, apa itu bisa disebut cinta pertama ? Lalu saat SMA saya pernah naksir seorang pria yang beda usia 8 tahun dari saya, namun kandas alias tidak jadian karena si cowok melarikan diri setelah saya nekat menyatakan perasaan saya padanya, mungkin dipikirnya saya alien. Lalu saat awal masuk kuliah saya jatuh cinta berat dengan ketua senat fakultas yang manis dan Jogja banget hehehe…. Lha wong dia asal Sleman, namun ndak juga jadian karena ternyata dia sudah bertunangan dan Cuma menganggap saya mahasiswa baru yang layak diplonco hahaha…..
“Jadi yang mana dong cinta pertama saya?”.
Semuanya berarti buat saya meski tak pernah bisa saya miliki diri mereka secara fisik, namun karena merekalah saya banyak belajar tentang mencintai tanpa harus memiliki. Sahabat saya tadi tak menjawab pertanyaan saya, malah bercerita tentang laki – laki pertama sekaligus satu – satunya pria yang ada di hatinya hingga kini yang sayangnya tak pernah bisa sahabat saya miliki. Laki – laki itu adalah teman semasa kecilnya, yang sangat ia cintai hingga dewasa, hanya sayangnya karena mereka bersahabat sedari kecil, si cowok tidak ngeh kalo ditaksir berat oleh sahabat saya, si laki – laki hanya menganggap perhatian dan kasih sayang sahabat tadi sebagai sebuah persahabatan abadi, hingga akhirnya mereka beranjak dewasa dan akhirnya si cowok menemukan pasangan sementara sahabat saya masih sendiri dan tentu saja patah hati.
Cinta pertama yang tak akan pernah mati, begitu kisahnya, hingga setiap pria yang datang mendekatinya selalu dia tolak dengan halus, dia tak akan pernah bisa mencintai orang lain lagi katanya.
Malam ini saya telah menghabiskan dua mug kopi rasa mocha instan ( bukan bikinan sendiri, karena memang beneran rasa mocha ) sambil membaca kembali email dari sahabat. Cintanya rupanya tak pernah mengenal kata expired,masih juga cerita tentang laki – laki yang sama yang tak pernah ia miliki, padahal di sana, di negara tempatnya tinggal, berjubel laki – laki dari berbagai bangsa yang bersedia menemaninya hingga akhir hayat.
Kali ini dia bercerita, pernah suatu ketika dia bertemu dengan seseorang yang mirip dengan cowok pertamanya dan kebetulan mereka saling mencintai, namun sahabat saya akhirnya memutuskan berpisah dengan laki – laki itu.
“Aku tak benar-benar mencintainya, aku hanya mencintai masa laluku yang kebetulan ada padanya, oh, seandainya aku tak ( pernah ) jatuh cinta pertama kali, barangkali aku sudah menemukan pendamping hidup yang bisa kucintai apa adanya, tak perlu ia mirip dengan siapapun”.
Tak adil bila saya memintanya untuk melupakan kekasih pertamanya, namun saya juga tak setuju bila hidupnya terbelenggu masa lalu.
“Enak ya jadi kamu,” tulisnya suatu hari tentang saya. Karena saya tak pernah ambil pusing dengan cowok pertama yang saya cintai padahal saya pernah sakit berat gara – gara putus cinta, tapi toh akhirnya saya memutuskan untuk memilih menikah dengan laki – laki yang melamar saya, meski dia tak sama dengan laki – laki pertama yang saya cintai.
“Life must go on, pren”, kataku
Saya tahu hidupnya memang telah berjalan sejak dulu, tapi sahabat saya bagai jalan di tempat dengan kenangannya.
First Love jadinya never die buat dia, tapi bagi saya cinta pertama adalah sebuah pembelajaran dimana saya untuk pertama kali jatuh hati dan disakiti namun masih tetap berbahagia karena pengalaman menyakitkan itu membuat saya mengerti, mencintai tak perlu menjadi belenggu untuk menjadi seorang yang lebih baik bagi orang lain.

Keinginan dan kebutuhan

Ketika keinginan – keinginan kita tidak juga terpenuhi dan do`a – do`a yang selalu kita panjatkan tidak kunjung dikabulkan Tuhan, apa pernah kita berpikir bahwa itu semua Dia lakukan demi kebaikan kita ?
Kita selalu merasa yakin bahwa kita mengetahui apa yang kita butuhkan. Tapi kebutuhan seringkali keliru dengan keinginan dan hal – hal yang kita inginkan tapi tidak kita butuhkan.
Tentu saja jika kita melihat apa yang disimpan oleh masa depan untuk kita, kita tidak akan pernah salah dalam mengajukan sebuah keinginan.
Tapi masa depan adalah hal yang tersembunyi dari pandangan kita, benang takdir seseorang terbentang jauh melebihi dunia kasat mata, kita tidak dapat melihat kemana ia akan berujung.
Siapakah yang dapat mengetahui bahwa kenikmatan pada hari ini dapat membawa kesengsaraan di keesokan hari atau kesengsaraan pada hari ini akan membuahkan kenikmatan di hari esok ?
( unknown )

Wednesday, 28 May 2008

Let’s go green ( with sanseviera )

Tahukah anda salah satu cara mengurangi dampak global warming ? Yap, selain mengurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil dan mengurangi volume sampah plastik ( dan barang – barang yang susah terurai ), anda bisa melakukan salah satu cara sederhana, menanam pohon. Karena pohon yang ditanam di sekitar lingkungan anda bisa menyerap gas beracun karbondioksida.
Bila anda tak punya cukup lahan untuk bertanam, maka tanaman yang mungil dan tidak banyak makan tempat serta tidak memerlukan perawatan yang terlalu rumit adalah pilihan yang terbaik.
Pada tahun 2001, sebuah penelitian pernah dilakukan oleh Dr. Ir. Nizar Nasrullah MAgr dari Departemen Arsitektur Lanskap Faperta IPB bahwa pohon berdaun jarum mampu menyerap gas beracun , meliputi debu dan timbal tertinggi.Contohnya cemara kipas dan pinus.Cemara Kipas mampu menyerap debu sebanyak 165,6 ug/g dan 3,27 mg/g timbal, sedangkan pinus mampu menyedot debu sebanyak 151,9 ug/g dan timbal 3,25 mg/g.
Tanaman berdaun besar, kasar dan berbulu memiliki daya serap lebih kecil bila dibandingkan dengan jenis tanaman berdaun jarum seperti mahoni dan meranti merah.
Dari penelitian yang pernah dilakukan oleh NASA tentang tanaman indoor penyerap polutan, muncul beberapa jenis tanaman yang mampu menyerap racun di udara dalam ruangan. Aglaonema modestum efektif menyerap benzena dan toluen. Anggrek dendrobium juga tak kalah ampuh menyerap senyawa beracun seperti aseton, amonia, khloroform, etil asetat, metil alkohol, formadehid dan xylene. Euphorbia pulcherrima baik untuk menyerap jenis racun formadehid, sedangkan sanseviera trifasciata laurentii efektif menyerap benzena, formadehid dan trichloroethylen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa enzim dalam daun menguraikan senyawa beracun yang bisa dimanfaatkan oleh tanaman. ( sumber majalah Fiona edisi Mei 2008 ).
Dari varian sanseviera yang ada, pilihan saya jatuh jenis sanseviera dengan gaya bonsai karena unik dan menarik bila dipajang di atas meja atau di dekat komputer kantor. Hampir semua spesies sanseviera ditemukan berasal dari negara Afrika Timur, Arab, India Timur, Asia Selatan dan Pakistan. Habitat asli tanaman ini secara geografis termasuk daerah tropis kering yang memiliki iklim yang panas atau di daerah pegunungan dengan curah hujan yang rendah ( Harian Suara Merdeka –On Line )
Media tanamnya bisa basah berupa tanah, atau kering dengan menggunakan arang, akar pakis dan batu apung sebagai pengganti tanah ( sering disebut sebagai terarium ).
Sanseviera juga dipercaya mengandung antioksidan yang mampu menyerap udara kotor dengan baik bahkan lebih baik daripada tanaman biasa sehingga tanaman ini disebut sebagai tanaman antipolutan, Sanseviera merupakan tanaman yang bisa menyerap dan mengolah polutan menjadi asam organik dan beberapa asam amino. Sangat baik bila diletakkan dalam ruangan rumah dan kantor karena mampu menyerap asap rokok dan meredam bau ( Agus Dwi kartiko, Majalah Fiona edisi Mei 2008 ).
Anda bisa memilih menanam sanseviera berdaun panjang yang lazim disebut tanaman pedang – pedangan baik di dalam maupun di luar rumah. Untuk menjadi penghias ruangan atau meja kerja, mungkin jenis bonsai lebih tepat karena selain tidak terlalu memakan tempat juga karena unsur keindahannya. Ruangan di sekitar anda pun menjadi sehat karena zat – zat beracun yang dilepaskan mampu diserap dengan baik oleh tanaman sanseviera dan menjadi indah dengan bentuknya yang unik.
Berminat memilikinya ? Bisa menghubungi saya di psw 08123121713 atau via email di
nawangtri77@gmail.com. Harga sanseviera dengan gaya bonsai seperti yang ada dalam gambar saya jual mulai seharga 10 ribu rupiah tergantung besar kecil tanaman.

Saturday, 3 May 2008

Fishing For Fun










She's the best fish catcher ever, my friend Atsuko from Japan.
Satu lagi obat stres, mancing ikan. Setahu saya sih, yang namanya kegiatan mancing tuh setelah masang umpan lalu duduk diem tak bergerak seperti pertapa menunggu wangsit. Buat beberapa orang, mancing bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan menghilangkan stres, tapi untuk orang seperti saya yang tidak bisa duduk diem, bisa jadi tambah stres. Lebih stres lagi ketika suatu saat saya mencoba mancing ternyata si ikan cuma mencaplok umpan saya lalu berhasil melarikan diri lepas dari kail.
Salah seorang kenalan saya asal Jepang hobinya mancing, uniknya, tiap kali dia mendapat ikan, ikan tersebut dia lepaskan lagi. Saya kasihan saja sama si ikan, udah bibirnya luka kena kail eh dilepas lagi. Karena hobi, hampir tiap weekend dia meng-eksplore semua sungai di seputar Tochigi Prefektur yang nyaris bebas polusi dan beberapa memang sengaja digunakan untuk memelihara ikan, memenuhi hobi sebagian orang Jepang memancing. Kalau lagi libur panjang, dia pulang ke kampung halamannya di dekat Kyoto dan mancing di danau Biwa. Beberapa kali dia mengirimkan foto ikan hasil tangkapannya kepada saya. Bahkan saat musim dingin sekalipun dia masih bela – belain mencari sungai yang airnya tidak membeku dan pergi mancing di udara yang dingin sekira 4 derajat celcius bahkan di bawah nol.


Ada yang suka ? Jangan lupa, saat mancing harap tidak sambil melamun agar tidak kesambit atau kesurupan lelembut penjaga sungai. Lebih asyik lagi sambil bawa ipod dan bernyanyi, lumayan si ikan akan merasa terhibur dan menyambut umpan anda. Buat yang bersuara fals dan sumbang, harap saran ini jangan diikuti dan bila sakit berlanjut segera hubungi dokter terdekat.....^^,

It’s easier to run..............

Masa kecil dulu saya suka berlari, rasanya asyik saja merasakan hembusan angin menerpa badan, lebih asyik lagi saat hujan. Seperti yang diceritakan oleh Andrea Hirata dalam bukunya “Sang Pemimpi”.

“Amboi, aku senang sekali berlari.
Aku senang berlari menerobos hujan, seperti selendang menembus tirai air berlapis – lapis
Aku tak pernah kelelahan berlari.
Tubuhku ringan, kecil dan ramping dengan rambut ikal panjang dan kancing baju yang sering tak lengkap, jika berlari aku merasa seperti orang Indian, aku merasa menjadi layangan kertas kajang berwarna – warni, aku merasa seumpama benda seni yang meluncur deras menerabas angin
( Sang Pemimpi, p :141-142 ).

Sebenarnya ada hal yang membuat saya suka berlari. Awalnya karena terpaksa. Jalan menuju sekolah yang terdekat hanya ada dua jalan, namun sayangnya di dua jalan tersebut saya selalu menemukan halangan. Jalan pertama, seorang tetangga, perjaka tua keturunan cina yang selalu iseng menggoda saya dengan menyuruh anjing cokelatnya mengejar saya. Sebenarnya anjingnya agak lucu kalau lagi duduk manis, mirip anjing Scooby Doo, tapi mendadak berubah beringas kalau saya sedang lewat di depan rumahnya padahal saya tidak pernah mengganggunya. Berdiam diri atau berlari sama saja, sang anjing akan menarik – narik rok saya. Begitulah, setiap pagi berangkat sekolah dan siang saat pulang sekolah saya terpaksa berlari sekencang – kencangnya menghindari anjing tersebut, sedangkan si pemuda cina tertawa terbahak – bahak melihat saya berlari dikejar anjingnya. Cukup menghibur.
Jalan yang kedua adalah jalan kampung, saya terpaksa berhadapan dengan kalkun yang sombong bin congkak yang selalu menghadang siapapun juga termasuk saya, yang tidak sempat berlari atau kalah cepat dari si kalkun akan merasakan patukannya yang sebenarnya ndak cukup menyakitkan namun yang lebih penting malunya ditertawakan orang sepanjang jalan karena perkampungan tersebut lumayan padat. Si kalkun merasa jalan kecil itu adalah wilayah kekuasaannya, lupa bahwa ia tidak lagi tinggal di padang rumput yang maha luas namun harus tinggal berjejal di antara manusia. Lagipula waktu itu saya masih kelas 3 SD, postur tubuh saya yang mungil buat si kalkun yang tinggi besar adalah sasaran empuk, mungkin pikirnya saya mirip burung emprit.
Dikejar unggas sebenarnya adalah hal yang sangat memalukan buat saya lebih daripada dikejar anjing Scooby Doo namun saya tak punya pilihan lain yang lebih baik. Maka saya lebih memilih jalan kedua, daripada dikejar anjing lebih baik dikejar kalkun, lagi pula setelah lama “berlatih” dikejar anjing, kecepatan lari saya sudah lumayan, cukup untuk mengalahkan si kalkun yang sombong, ditambah dengan beberapa strategi jitu menyuruk – nyuruk di rerimbunan perdu di samping jalan kampung.
Keuntungan berlatih lari bersama binatang – binatang itu setiap hari, saya menang lomba lari sprinter di kampung dan di sekolah mengalahkan teman – teman saya yang kebanyakan laki – laki.
Ketika akhirnya pemuda Cina tersebut meninggal dunia karena sakit, saya merasa agak sedikit kehilangan, anjingnya mendadak tak berselera mengejar saya padahal saya kadang – kadang masih lewat depan rumahnya, si anjing hanya terduduk lesu di samping sepeda jengki yang sering dipakai pemuda itu. Juga si kalkun yang mendadak menghilang, mungkin karena sudah disembelih pemiliknya untuk merayakan Thanksgiving. Saya masih melanjutkan hobi berlari, namun hanya joging biasa tiap Minggu pagi atau bila takut terlambat tiba di sekolah. Rasanya tidak seseru ketika saya dikejar – kejar anjing dan kalkun. Kurang menantang.
Waktu kuliah, lain lagi yang mengejar saya, seekor ular sawah yang tiba – tiba nyelonong ke koridor kampus tempat biasa saya dan teman – teman kongkow nunggu jam kuliah. Kebetulan gedung jurusan saya berkuliah berdekatan dengan sepetak sawah milik penduduk sekitar kampus. Alhasil cewek – cewek bubar begitu tahu ada seekor ular menampakkan diri di sana, yang menyebalkan, ternyata ular itu langsung menuju ke arah saya yang sudah menjerit naik ke atas pagar tembok. Sampai beberapa lama si ular masih menunggu saya di bawah dan dia tak berhasil merayap ke atas tembok, untung ada seorang teman laki – laki yang bersedia mengusir sang ular. Kata teman – teman meledek mungkin sebentar lagi saya akan dilamar orang karena katanya orang yang mimpi dikejar ular akan dilamar seorang cowok ( lah, saya kan ndak mimpi tapi beneran dikejar ular, gimana sih! )
Sampai sekarang saya masih sesekali berlari, terutama karena areal parkir tempat kerja berjarak sekitar 500 meter dari gedung tempat saya bekerja ( Technical Department ), dan perusahaan saya menyatakan kalau pada saat saya membarcode ID Card saya dan jam telah menunjukkan waktu pukul 07.00.01 maka saya telah dianggap terlambat meski hanya 1 detik ( busyeettt dah! ), padahal dulu masih ada toleransi dianggap terlambat bila lebih dari satu menit. Bahkan ketika saya barcode pada jam 06.59, saya masih ditegur atasan karena saya kok baru datang pada detik – detik terakhir. Yang menyebalkan lagi, pada sistem tersebut otomatis membuat ranking seberapa sering orang tersebut terlambat dalam satu bulan dan dapat diakses via intranet, yang artinya, semua unit di perusahaan bisa membaca siapa saja yang paling banyak terlambat bulan ini. Tidak dipotong gaji sih, cuma bonus disiplin sebesar Rp 40.000/bulan melayang dan malunya itu lho...kalau sampai dibaca teman kerja atau yang parah ditegur atasan saat meeting pagi dihadapan banyak orang. Maka berlari, sekali lagi adalah kebiasaan yang baik dan sehat sekaligus memberi pendapatan tambahan di tempat kerja saya ;-)

KONSISTENSI SANG PEMIMPI

Berhenti bercita – cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia
( Andrea Hirata )

Dulu saya mengira pemimpi dan pengkhayal itu sama, namun setelah saya membaca buku karya Andrea Hirata “Sang Pemimpi”, saya jadi mulai paham bahwa antara pemimpi dan pengkhayal itu berbeda,setidaknya dari segi konsistensinya.
Sang Pemimpi akan tetap bermimpi hal yang serupa ( konsisten ) dan berupaya keras untuk mencapainya, sedangkan pengkhayal hanya sampai pada taraf mengkhayal dan mengasihi dirinya sendiri tanpa berbuat sesuatu untuk meraih apa yang dikhayalkannya. Misalnya pengen lulus ujian jadi juara satu namun malas belajar, pengen gaji gede tapi males kerja, pengen kaya tapi tidak mau berusaha.
Impian yang sederhana kadangkala bisa menjadi semacam dopping untuk orang – orang yang minus kemampuan dan dia jadi berpikir bagaimana dengan modal kecil bisa mendapat hasil yang sebesar – besarnya. Karena mimpi – mimpi pula, Honda menciptakan kendaraan – kendaraan hemat energi yang berkualitas untuk masa kini dan masa depan, maka slogannya pun tak pernah saya lupa, The Power of Dream.
Dalam novel trilogi kedua Andrea Hirata yang berjudul “Sang Pemimpi” ada kata – kata penyemangat yang diucapkan oleh tokoh Arai, seorang yatim piatu yang dijuluki sebagai simpai keramat, karena hanya dialah satu – satunya orang yang tersisa dari klan keluarganya. Waktu itu dia berkata pada Ikal yang putus asa dan pesimis memandang hidupnya, dia berkata “Orang – orang seperti kita tak punya apa – apa kecuali semangat dan mimpi – mimpi, dan kita akan bertempur habis – habisan demi mimpi – mimpi itu.
Dan setelah itu Ikal kembali menjadi seorang optimis memandang kekurangan hidup mereka yang justru harus ditebus dengan belajar dan kerja keras demi cita – cita mereka bersekolah di Sorbonne Perancis. Energi mereka bukan berasal dari singkong rebus, nasi dan sekedar lauk sederhana yang mereka makan, namun lebih dari itu ada sumber energi yang jauh lebih dahsyat, mimpi – mimpi mereka. Mimpi – mimpi yang mampu membuat mereka bangun di pagi buta untuk bekerja mengangkut ikan demi membiayai sekolah mereka dan membantu keluarga lalu setelah itu belajar di sekolah. Memang benar, mereka tidak punya banyak harta, atau banyak akses untuk menikmati hidup, namun karena keterbatasan itulah yang membuat mereka berjuang dengan penuh semangat.
Kata – kata Arai yang lain yang menghentak pemikiran saya adalah, “Jangan mendahului nasib”, maksudnya berusaha dulu setelah itu baru tawakal ( menerima ). Selama ini kebanyakan kita yang pesimis selalu berprasangka buruk kepada Tuhan, padahal apa yang diberikan oleh Tuhan adalah apa yang kita harapkan.
Sebuah buku yang bisa memberi pencerahan bagi pembacanya agar tak berkecil hati dengan segala kekurangan dan keterbatasan. Karena Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita dan Dia menunggu saat yang tepat untuk diberikan kepada kita.
Satu pelajaran moral yang bisa saya ambil dari buku tersebut adalah meski serba terbatas dan kekurangan namun mereka tak lupa untuk membantu sesama. Cerita Arai dan Ikal yang memberikan uang tabungan mereka untuk Cik Maryamah agar bisa berjualan kue dan hidup mandiri tanpa harus berhutang ke sana kemari sangat menyentuh hati saya. Tak perlu menunggu untuk jadi kaya agar bisa membantu orang lain.
Ada satu lagi yang membuat saya teringat dengan masa kecil saya dulu, konsistensi mereka menabung rupiah demi rupiah hasil kerja mereka sebagai kuli pengangkut hasil ikan dari laut ke pasar. Tokoh Jimbron salah satunya, dia mungkin adalah seorang yang tidak terlalu pintar, kalau berbicara gagap dan polos sekali namun saya mengagumi konsistensinya menabung dan cara berpikirnya yang simpel yang kadang – kadang tak terpikirkan oleh empunya otak cerdas. Waktu itu dia membeli dua celengan kuda besar dan membagi rata penghasilannya yang tidak seberapa ke dalam dua celengan itu yang ternyata kemudian diberikan kepada Arai dan Ikal untuk bekal mereka melanjutkan pendidikan di Pulau Jawa atau akal bulusnya untuk bisa masuk ke gedung bioskop bersama Arai dan Ikal tanpa ketahuan guru mereka Pak Mustar dengan meniru kebiasaan orang bersarung, salah satu komunitas yang tinggal di Belitong dan memiliki kebiasaan berkemul sarung menutupi wajah. Walau akhirnya kepergok juga atas laporan penjual jagung yang biasa mangkal di depan gedung bioskop.
Tidak banyak buku yang selain bercerita namun mampu memberikan pencerahan bagi pembacanya tanpa perlu mengumbar sensasi berlebihan, tanpa menggunakan bahasa yang bombastis mengumbar teori berbuih - buih. Buku – buku Andrea Hirata memang bersahaja namun sarat makna, ada banyak pelajaran moral yang dapat diambil ketika membacanya. Tak ada sensasi sensual yang diumbar sebagaimana halnya buku – buku yang pernah ngetrend diawal milenium ini yang sempat menjadi best seller. Saya menyukainya karena cerita – cerita dalam buku – buku Andrea Hirata sering membuat saya teringat dengan beragam kenangan masa kecil saya seperti halnya ketika saya menggemari buku – buku karya NH. Dini. Orang – orang boleh menuduh saya kurang intelek dan kekanakan dengan membaca buku – buku tersebut, namun saya butuh sesuatu yang fresh, butuh pencerahan diantara beragam masalah, tidak teoritis dan dogmatis bagaimana menjalani hidup yang tak mudah, buku dengan humor - humor cerdas bukan bacaan berat macam politik dan pergerakan bawah tanah yang membuat kepala makin mumet. Andrea Hirata seolah mengobati kerinduan saya akan cerita pengalaman – pengalaman masa kecil yang polos namun justru bisa memberikan inspirasi, termasuk memberi saya inspirasi menulis. Setelah NH. Dini dan Arswendo, saya menemukan ‘oase’ baru , sekarang setelah membaca buku – buku Andrea Hirata. Satu lagi yang sangat saya suka, bahasanya yang sederhana, mengalir seperti air namun kadangkala dahsyat menghentak dan tidak nge-pop dengan istilah – istilah lu, gue dan capeekk deh........yang sering bikin saya neg.
Sekarang saya tengah memelihara konsistensi menulis ditengah kesibukan bekerja dan mengurus keluarga. Karena hanya impian itu yang saya punya dan saya akan mewujudkannya dengan kerja keras, selalu belajar, dan banyak membaca, selebihnya adalah tangan Tuhan yang akan menentukan.

A Lesson From Nanny 911 – MetroTV

Setiap hari Sabtu sore sekira jam 16.05, saya punya acara favorit di MetroTV , Nanny 911. Sebuah acara yang menarik karena pemirsa diajak secara langsung menyaksikan sebuah keluarga Amerika yang amburadul yang anak – anaknya nakalnya amit – amit seperti demit sedang ‘ditata’ oleh seorang pengasuh berpengalaman. Ironisnya, pengasuh tersebut lebih pintar dan anak – anak nampak penurut dengan pengasuh tersebut daripada dengan orang tuanya sendiri yang kelihatan tak tahu harus bagaimana mendidik anak dengan baik dan benar.
Salah satu episode, cerita diawali dengan keributan di rumah yang disebabkan oleh anak yang rewel, memukul adik atau kakaknya sementara sang ibu yang sudah lelah nampak putus asa tak tahu apa yang harus dilakukan untuk mendamaikan pertikaian itu dan membuat anak – anaknya duduk manis. Rumah berantakan seperti kapal pecah. Sang ayah nampak cuek karena merasa itu bukan tanggung jawabnya. Lalu datanglah sang Nanny ( favorit saya adalah Nanny Deb) yang dihubungi oleh sang ibu untuk membantunya mengatasi anak – anak bandel tersebut. Lalu cerita mengalir, sang Nanny yang nampak handal mengatasi keributan sang anak dan menasihati ayah dan ibu agar lebih bisa kooperatif. Sang Nanny mengajari orang tua tersebut untuk bersikap positif dan menghargai anak – anaknya. Di akhir cerita, keluarga tersebut berhasil mengatasi masalah tersebut dalam waktu 7 hari, anak – anak mulai bisa diatur, an happy ending, happy family.
Cerita tersebut memang dibuat di Amerika dengan pelaku keluarga – keluarga muda yang seperti halnya keluarga muda di Indonesia yang minus pengetahuan mendidik anak dengan baik dan benar. Namun ada hal – hal yang bisa saya ambil menjadi pelajaran. Saya memang belum sempat mendidik anak hingga dewasa, namun saya berharap dengan sedikit pengetahuan yang saya dapat dari film Nanny 911 ( dan buku – buku lain ) saya bisa mendidik anak dengan baik.
Hal terpenting dalam mendidik seorang anak adalah dengan menanamkan religius value ( nilai – nilai moral dan keagamaan ) sejak dini kepada anak – anak, dan itu yang tidak saya temukan pada kebanyakan keluarga Amerika yang saya lihat. Anak jadi berani kepada orang tua bahkan dalam satu episode seorang anak berani memukul orang tuanya, atau meludahi pengasuhnya. Saya yakin setiap agama di dunia ini apapun itu selalu mengajarkan untuk hormat dan patuh kepada orang tua. Religius value adalah pondasi karena apabila si anak dewasa, maka nilai – nilai moral dan agama itulah yang akan membimbingnya menjadi pribadi yang berkualitas. Kenangan akan masa kecil yang diwarnai oleh aktivitas keagamaan akan selalu terkenang dan itu pula yang akan menuntunnya kembali ke jalan yang benar ketika dia kelak terjerumus ke dalam kesesatan.
Yang kedua, mengajarkan nilai – nilai positif, diantaranya saling menghargai dan bertenggang rasa. Seorang anak seperti halnya orang dewasa juga butuh diakui keberadaannya, butuh untuk didengarkan, butuh disayangi dan diperhatikan. Bandingkan dengan anak yang dalam kesehariannya selalu dicela, selalu disalahkan tapi tak pernah diberitahu mana yang benar dengan cara yang baik, tak pernah dipuji dan didengarkan. Apabila seorang anak dibesarkan dengan cara – cara negatif, maka anak tersebut akan menjadi anak yang negatif pula, kurang percaya diri atau bahkan bandel minta ampun. Sebaliknya bila seorang anak dididik dengan cara – cara yang positif maka dia akan menjadi positif pula. Seorang anak yang selalu didengarkan maka dia akan menjadi pendengar yang baik pula, seorang anak yang dilatih untuk selalu mengatakan apa yang dirasanya akan menjadi anak yang percaya diri dan bukan penakut, seorang anak yang berani berkata bahwa dia salah ketika dia berbuat salah maka dia sedang belajar untuk menjadi orang yang jujur dan sportif. Yang perlu lebih diingat lagi, seorang anak adalah peniru yang paling baik, maka sebaiknya orang tua berhati – hati dalam berkata dan berbuat terutama di depan anak – anak.
Berikutnya, adalah pemberian reward dan punishment ( penghargaan dan hukuman ). Sering kali anak hanya dihukum ketika melakukan kesalahan namun tak pernah diberi reward ( pujian ) bila melakukan kebaikan, sehingga anak akan selalu merasa dirinya salah terus. Bentuk pemberian reward tak selalu bisa berupa barang, beberapa jam untuk santai menonton TV di sore hari sebelum waktu belajar bisa menjadi reward yang menarik, begitu pula punishment, anak harus diajari konsekuensi dari perbuatannya, misalnya dengan menghilangkan hak bersenang – senang selama beberapa jam ketika dia melakukan pelanggaran dan kesalahan. Dalam salah satu episode Nanny 911, bentuk pemberian reward dan punishment bisa dengan menaruh kelereng di dalam stoples, semakin sering si anak berbuat kebaikan misalnya patuh pada orang tua, membantu pekerjaan ibu, belajar, maka kelerengnya akan bertambah banyak, sedangkan setiap kesalahan yang dilakukan oleh si anak, maka si ibu mengambil kembali kelereng tersebut dari stoplesnya. Dengan demikian anak diajari bertanggung jawab atas apa yang di lakukannya, perbuatan baik akan berbuah reward dan kesalahan akan mendapatkan ganjarannya.
Yang tak kalah menarik adalah, ternyata keharmonisan komunikasi antara ayah dan ibu juga turut mempengaruhi kejiwaan anak. Ayah yang cuek dengan ibu, jarang berkomunikasi, kurang menghargai sang ibu demikian juga sebaliknya juga akan ditiru oleh anak – anaknya. Anak – anak jadi enggan berkomunikasi satu sama lain dan sering kali bila saya perhatikan mereka cenderung menggunakan kekerasan fisik dan teriakan untuk memancing perhatian kedua orang tuanya.
Acara Nanny 911 memang acara yang dibuat di Amerika dengan budaya yang mungkin jauh berbeda dengan kita, namun tak ada salahnya point – point positif yang ada diambil dan di implementasikan ke dalam keluarga kita, meski sebenarnya Rasulullah SAW telah jauh mengajarkan untuk selalu menghargai anak agar kita selaku orang tua juga dihargai dan dihormati oleh anak – anak kita.
Anda tertarik untuk menonton acaranya ? Sebuah acara reality show yang cukup menarik dan menghibur menurut saya.

Pria bule lebih Oke ?


Ini adalah perbincangan sekaligus hasil pemikiran beberapa teman dan saya, sebuah community setengah gila yang suka membahas sesuatu secara santai, fun dan penuh canda. Bisa dibuat bahan referensi meski cuma sering lewat begitu saja, sebagai obrolan ringanpe lepas penat kala jeda waktu.
Topik yang pernah sempat memanas adalah kenapa sebagian perempuan Indonesia menganggap laki – laki bule lebih menarik daripada pria pribumi. Tentu, dari segi fisik memang mereka tampak lebih menarik. Tubuh tinggi ( rata – rata bule yang saya kenal memang bertinggi badan di atas 175 cm )dengan berat proporsional, mata berwarna – warni ( ada biru ; favorit cewek – cewek, ada yang hijau seperti zamrud, abu – abu dan coklat ; favorit saya …^^, ) berbicara dalam Bahasa Inggris yang baik dan benar, sedangkan laki – laki lokal cuma punya bola mata warna hitam dan beberapa dianugrahi kelebihan memiliki mata coklat yang eksotik.
Ada pendapat lain yang lumayan ilmiah, karena image kita terhadap mereka yang menganggap mereka sebagai makhluk superior ( baca : sempurna secara fisik, smart, romantis dan friendly ). Saya menganggap pendapat ini cukup masuk akal, karena sejarah menyebutkan selama hampir 350 tahun kita dijajah kompeni ( Belanda ) yang merupakan bule Eropa. Sehingga kita menganggap mereka makhluk Tuhan yang lebih cerdas dan menarik ( di mana – mana bangsa yang menjajah tentu lebih pinter daripada yang dijajah ,bukan ? ). Kalau ada teman yang tergila – gila dengan laki – laki Jepang itu juga karena bangsa kita pernah dijajah Jepang meski tak lama. Itu karena kita menanggap mereka superior, makhluk Tuhan paling seksi, gitu kali seperti lagunya Mulan Jameela..
Membandingkan pria lokal dengan laki – laki bule memang kadang seperti membandingkan kuda stallion yang tinggi besar dengan kuda poni yang biasa ditunggangi anak – anak.
Karena saya bekerja di sebuah perusahaan multinasional ( kebetulan ownernya adalah bule Eropa ) otomatis banyak ekspatriat yang dipekerjakan di sana. Saya iseng – iseng memetakan kepribadian mereka berdasarkan negara asalnya. Awalnya kebiasaan ini dianggap aneh, namun ketika saya pergi ke Jepang, ternyata saya bertemu seseorang yang memiliki kegemaran yang sama dengan saya. Maka acara ngobrol di restoran hotel saat sarapan pun jadi seru hingga nyaris lupa waktu ( namun toh, keesokan harinya ketika sekali lagi saya ketemu dia, obrolan separuh ndak mutu ini dilanjutkan kembali ). Tentu tujuan kami berbeda. Saya hanya iseng, sementara kenalan cewek Jepang saya tadi punya tujuan khusus, ingin menikah dengan pria Eropa. Saya mengerutkan dahi, kenapa dia tak mau menikah dengan orang sesama Jepang ? Ternyata jawabannya nyaris sama dengan perempuan negeri ini. Mereka mendambakan pria yang baik, friendly, smart, lebih terbuka dan romantis, sementara hal itu tak dia dapatkan bila dia menikah dengan pria Jepang. Tipikal laki – laki Asia yang tak disukai perempuan manapun, possesif, sok berkuasa, tak peduli, sedikit bebal dan menganggap perempuan seperti bawahan yang harus nurut right or wrong, bukan partner sejajar.
Namun ada salah satu kekurangan pria bule yang kadang membuat perempuan Asia enggan menikah dengan pria bule, ketakutan mereka akan komitmen jangka panjang alias pernikahan. Karena kebanyakan pria bule sangat mengagungkan cinta yang seringkali salah kaprah dengan nafsu, jadi kalau mereka sudah tidak ‘bernafsu’ dengan anda, maka siap – siap saja di depak. Kalaupun sampai menikah biasanya pernikahan itu tidak berlangsung lama. Saya mengacungkan jempol untuk pasangan yang bisa bertahan lama.
Menurut peta bikinan saya dan kenalan tadi, bule Eropa lebih cenderung santun, bersikap dewasa, deep thinking, smart, romantis, pandai membawa diri dan peduli ( baca : gentleman ). Sedangkan pria Amerika cenderung friendly, blak – blakan, ‘shallow alias dangkal’ ( istilah temen Jepang tadi ). Kalau mau having fun, memang lebih cocok dengan bule Amerika, namun kalau mendambakan suami, cari saja bule Eropa. Akhirnya dia menemukan pria Eropa idamannya,seorang laki – laki asal Holland, kabar terakhir darinya mereka telah menikah dan tinggal di Frankurt Jerman.
Laki – laki dari British Raya lebih bersikap aristokrat, saklek ( salah satunya di kantor saya juluki Satpol PP karena sangat perfeksionis, suka sekali menegur pekerja yang tidak rapi, ngemil di tempat kerja, datang terlambat meski cuma 2 – 3 menit atau area kerjanya kurang bersih – semuanya menurut standard dia seolah – olah dia sendiri tak pernah mangkir, padahal saya sering memergokinya main solitaire saat jam kerja ) dan selalu bersikap merendahkan orang Indonesia sebagai bangsa yang kasar, bodoh, temperamental dan tidak disiplin ( mungkin separuh benar, tapi kan ndak semua ).
Lalu ada bule Australia, yang untung saja dia selalu selamat dari serbuan pendemo anti Australia, seorang yang cukup smart dan friendly sebenarnya, juga peduli dengan anak buahnya namun kebiasaannya mengejek dan bicara kasar kadang – kadang bikin saya dongkol setengah mati.
Dulu ada seorang bule asal Brazil namun sempat tinggal di Amerika dan menjadi supervisor saya, Bahasa Inggris American nya bagus sekali, tidak seperti orang Brazil lain yang grammarnya sama kacaunya dengan saya. Di mata saya dia adalah makhluk Tuhan yang eksotik. Kulit, mata dan rambutnya coklat seperti orang Asia. Dia pintar, baik dan sangat toleran. Kebiasaan buruknya yang tak saya suka, dia cerewet sekali seperti perempuan dan perfeksionis, suka mencela meski dia telaten sekali bila mengajari saya hal – hal baru yang belum saya ketahui.
Mungkin tulisan ini ada sedikit guna buat para perempuan yang mendambakan pria bule, buat panduan lebih cocok dengan pria dari Negara mana. Namun tulisan ini hanya menjelaskan secara general, padahal sebenarnya sama seperti laki – laki pribumi, selalu ada pengecualian. Tidak semua laki – laki bule itu keturunan superior yang pintar dan sempurna, yang goblok, norak, sok jaim, sok imut dan pemabuk berat pun banyak, bahkan banyak diantaranya yang menganggap agama hanya sekedar formalitas, hanya sedikit yang benar – benar religius.
Sudah saatnya kita berhenti menganggap mereka superior, sebagai bangsa yang diberkahi dengan kesempurnaan, kekayaan dan lebih berkuasa dibandingkan dengan negara – negara berkembang seperti Indonesia. Karena apabila kita berhenti menganggap mereka superior maka mereka tidak akan lagi besar kepala. Justru kita harus menunjukkan bahwa kita pun mampu bekerja professional dan disiplin seperti mereka.
Buat saya, bule ataupun lokal bisa sama menariknya tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Kini pun, mulai banyak laki – laki Asia yang bersikap peduli, cerdas dan menganggap perempuan sebagai partner dan sahabat. Jadi kalau ada yang berpendapat pria bule lebih oke dan berkeinginan memperbaiki keturunan ( dan penghasilan hehehe ), ya silahkan saja, tidak ada yang salah, masing – masing pribadi bebas berpendapat. Karena bagi saya, pria yang menarik adalah bila dia religius, memiliki prospek, integritas dan loyalitas, baik bule maupun bukan.

Monday, 3 March 2008

A Japanese Lesson 1

I’m very glad that Aonuma-san ( he was Logistic Manager in Achilles Corp ), has plenty of time to teach me some famous japanese words I never get it before when I was in college to learn Japanese. His English is excellent so he can teach me and Hari, my colleague, those nice words
Every weekend he will send us an email content of those famous words, see below

Lesson no. 1
今日はさむいですか。Kyou wa samui desuka ? ( is it cold today ? )This word I used to say to the Japanese people I met. But Aonuma-san has taught me other words to express the same thing.
In Japan, a cold day continues by this winter. The temperature of this morning of the factory area is below the freezing point. I today pick up a Japanese dialect in this leasson.
"SAMUI" さむい means "cold" in English, and it is said "SHIBARERU" しばれる or "CYAPPUI"ちゃっぷいin the dialect. These words are used as follows: Is it cold today? -->"Kyou wa chappui?" 今日はちゃっぷい。 or "Kyou wa shibareru?"今日はしばれる。

Lesson no. 2
This week's lesson is the word which is used well by beautiful female high school students in Japan.
"Bimyo"びみょ - びみょ~ or ビミョ~ or It's in the gray area./So-so.../Can't tell!/I don't know about that!, a former plan is not yet fixed, and it is a colloquialism to be able to use immediately at time when it is not possible for an answer when anything is uncertain and is doubtful.

Lesson no. 3
Today's Japanese Lesson is: "Obei ka!おべいか。" (pronounced "oh-bay-car!")"Obei ka!", おべいか。 is the catchphrase of a Japanese comedy duo Taka and Toshi,who began their career in 1994 and finally became very popular last year.
"Obei ka!" おべいか。 literally means "You're not from the Western society!", but to make it sound more simple, let's just say "You are not an American!" in this article. In a typical Taka and Toshi skit, Taka acts as if he was an American. Then Toshi tells him not to be silly by saying "Obei ka! おべいか。(You are not an American!)" because they are both, obviously, Japanese and not American.

BEKERJA DENGAN CINTA

Ada satu kalimat bijak yang pernah mengganggu pikiran saya, seorang pujangga besar Kahlil Gibran yang mengatakannya bahwa Bekerja adalah cinta yang mengejawantah. Pikiran saya melompat – lompat gelisah berusaha menemukan penafsiran dari kata – kata di atas. Dan saya baru menemukan penafsirannya ketika saya sudah bekerja di perusahaan ini selama hampir 6 tahun.
Ini adalah penafsiran saya sendiri, jadi kalau ada yang kurang berkenan atau dianggap meracau, mohon dimaklumi.
Memang benar, kita harus bekerja dengan suka cita ( meski gaji kurang memuaskan hehehe ), setidaknya menanamkan dalam pikiran bahwa saya relatif lebih beruntung daripada pengangguran yang ndak punya kerjaan sekaligus penghasilan, namun ada satu hal yang saya temukan ketika bekerja dengan teman – teman. Berapa banyak mereka yang bekerja hanya mendapatkan uang atau gaji yang tak seberapa dan pujian dari atasan namun hanya itu yang mereka peroleh. Bekerja untuk mendapatkan pahala. Ini satu dobrakan dan inovasi baru kata teman saya. Maksudnya ?
Yang sudah pernah merasakan iklim kompetisi bekerja di perusahaan apalagi perusahaan multinasional tentu tahu bahwa selalu ada intrik dan politik di kantor demi mendapatkan perhatian atasan, teman dan posisi bagus. Namun berapa orang di antara mereka yang bisa mendapatkan semua itu dengan jalan yang legal, halal dan benar ? Saya tidak sedang menghakimi seseorang atau orang – orang yang mendapatkan apa yang diinginkannya dengan cara apapun termasuk mendepak teman, menjelek-jelekkan teman lain di depan atasan demi sebuah penghargaan, fasilitas atau kenaikan jabatan, sementara orang lain yang telah bekerja sangat keras dan jujur malah tidak mendapatkan apa – apa selain perasaan kecewa karena kurang dihargai hingga akhirnya dia memilih untuk mengundurkan diri. Itu wajar, karena kebutuhan untuk dihargai keberadaannya melalui apa yang ia lakukan adalah kebutuhan yang mendasar dari seorang manusia.
Mungkin orang menyebut dia sebagai orang yang kalah, namun bagi saya tidak, dia telah memperjuangkan harga diri dan keyakinan bahwa dia harus bekerja dengan benar dan mendapatkan penghargaan dengan cara yang benar pula. Manusia sering salah dalam memberikan penilaian namun saya sangat yakin bahwa Tuhan tidak pernah salah menilai hamba-Nya. Jadi saya sering pura – pura budeg kalau ada teman yang menggosip kekurangan orang lain seolah – olah dia sendiri tak punya kekurangan. Lebih suka menyendiri main game atau menulis untuk blog bila jam istirahat meski kadang – kadang saya juga bersosialisasi dengan rekan kerja namun tidak untuk menggosip yang tidak ada gunanya.
February kemarin yang bertepatan dengan hari Valentine, salah satu departemen di perusahaan saya memperingatinya dengan mencanangkan hari Work with Love. Cukup unik dan orisinal meski sayang tak ada penjelasan apapun tentang maksud slogan itu, malah cenderung seremonial karena semua pekerja memakai aksesori serba pink.
Bekerja dengan cinta kepada Tuhan bukan kepada perusahaan, karena apabila kita bekerja karena cinta kepada Tuhan maka insya allah kita akan senantiasa bersikap dan berkata benar. Sedangkan cinta kepada perusahaan cenderung membuat kita terpacu untuk mendapatkan gaji sebesar – besarnya dan posisi setinggi – tingginya dengan cara apapun lalu ketika kita tidak mendapatkan gaji dan fasilitas yang sesuai dengan harapan kita kecewa. Saya tidak melarang anda untuk mencintai perusahaan tempat anda bekerja, karena itu juga bisa memacu produktivitas kerja dan anda memang digaji untuk bekerja dengan sebaik – baiknya demi perusahaan. Karena cinta kepada para customerlah maka saya mampu bertahan di departemen saya, memberikan pelayanan yang terbaik, meski beberapa orang sempat keluar dan masuk karena berbagai alasan mulai dari gaji dan fasilitas yang kurang memadai hingga tidak tahan bekerja under pressure. Ada sedikit kebahagiaan bila saya melihat para customer tersebut senang dan merasa terbantu dengan apa yang saya lakukan.
Yang sangat perlu diingat adalah, di akhirat nanti anda akan dimintai pertangunggjawaban atas semua yang pernah anda lakukan selama hidup di dunia termasuk dalam bekerja. Menurut saya , sungguh merugi orang – orang yang bekerja hanya mendapatkan uang gaji yang cuma segitu – gitunya, posisi yang mungkin paling tinggi adalah manager atau chief tanpa mendapat tambahan pahala. Ada banyak hal yang bisa membuahkan pahala di tempat kerja, tidak cuma ibadah seremonial seperti sholat wajib dan sunah , namun beberapa diantaranya adalah bersikap baik dan jujur, ikhlas membantu teman bila mereka membutuhkan bantuan, bersikap baik dan santun kepada sesama teman maupun atasan. Tidak hanya di perusahaan saja bekerja demi mendapat pahala harus dilakukan, namun termasuk ketika berbisnis sendiri atau dengan orang lain.

Cerita tentang pemutih muka dan raga

Beberapa kali saya merasa agak terganggu dengan iklan pemutih muka. Di iklan itu diceritakan seorang laki – laki yang akhirnya kembali ke pacar lamanya karena pacarnya itu kini mukanya sudah putih dan cantik. Begitu seolah citra yang ingin di sampaikan oleh iklan tersebut, kalau ingin merebut hati cowok, pakai saja pemutih wajah, dijamin kalau sudah putih pasti sang cowok bakalan naksir berat. Juga sebuah iklan lain yang mengatakan sewaktu dia masih berkulit gelap, tak ada cowok yang mendekati namun setelah memakai pemutih dan kulitnya jadi terang, banyak cowok mendekatinya serupa semut mengerubuti gula.
Perempuan memang mahal, kata seorang teman saya. Mungkin iya, itu juga karena citra yang telah lama disampaikan oleh masyarakat, jadi jangan salahkan seratus persen si cewek. Bagaimana tidak, sejak dulu citra perempuan sempurna adalah berkulit putih dan mulus, bertubuh langsing, berambut panjang lurus ( ndak ikal atau keriting ), hidung mancung, jari lentik dan sebagainya. Kasihan juga yang tidak memenuhi kriteria tersebut termasuk saya hehehe.....
Cerita tentang pemutih wajah membuat saya teringat dengan seorang teman kuliah, anak Kalimantan yang merantau ke Surabaya dan ditakdirkan menjadi teman.
Waktu itu sekitar tahun 1996 ada sebuah produk pemutih wajah yang diiklankan bisa memutihkan wajah. Teman saya tadi tertarik mencobanya. Karena ayahnya bekerja di sebuah kilang minyak di Kalimantan, tentu tidak susah meminta jatah uang kuliah lebih dari biasanya demi impian bisa tampil seputih putri salju. Ternyata proses pemutihannya mengerikan menurut saya, karena setelah dia menjalani facial dan memakai krim ini itu, kulit mukanya memerah dan mengelupas ( nyaris mirip luka bakar ), hingga terlihat kulit berikutnya yang putih. Mirip kulit bawang yang kering mengelupas, maka kelihatan kulit di bawahnya yang seharusnya belum waktunya menggantikan kulit luar Apalagi pantangannya adalah tidak boleh berpanas – panas terkena matahari, kulitnya berubah menjadi sangat sensitif. Mana bisa untuk saya ? Matahari adalah sahabat saya sehari – hari.
Namun yang menyedihkan sekaligus menggelikan, sesudah usahanya mengelupaskan kulit hitamnya itu ternyata kulit putihnya tidak bertahan lama. Sebentar kemudian kulitnya kembali hitam seperti sedia kala, sampai – sampai teman – teman menasihatinya “sudahlah, ndak usah yang aneh – aneh, kalau sudah hitam ya terima aja”. Teman saya tadi sempat mendongkol, tapi lama – lama dia bisa menerima. Saya pun sebenarnya punya keinginan ingin putih, namun syukurlah tidak terlalu menggebu – gebu seperti teman saya tadi hingga harus rela kulitnya mengelupas. Saya katakan padanya, kenapa dia berfokus pada hal – hal yang tidak mungkin dia ubah, karena Tuhan pasti lebih tahu dia lebih baik berkulit hitam daripada putih ( lagipula gen alias keturunan dia kan berkulit hitam, kalau adiknya ternyata lebih putih itu kan karena dia tinggal di pedalaman Kalimantan bukan seperti dia yang berpanas – panas di Surabaya ). Setelah itu dia agak berubah sedikit, hobi dandannya masih tapi sudah tak terobsesi lagi memiliki kulit putih ( mungkin juga karena melihat saya yang sok pe-de berkulit cokelat dan bisa gaul dengan orang – orang dari segala kasta dan gender ), akhirnya setelah lulus kuliah dan punya uang lebih, dia meneruskan ke S2. Mending-lah uangnya buat sekolah lagi daripada buat mengelupas kulitnya.
Kini produk pemutih makin banyak dengan efek samping yang lebih kurang tidak lagi menggenaskan seperti dulu. Namun saya jadi berpikir – pikir lagi segitu pentingkah pemutih wajah dan raga sebagai pemikat lawan jenis dan alat untuk mencapai cita – cita ? Tampil menarik memang menjadi keinginan banyak orang termasuk pula saya. Wajar. Tapi kalau untuk mendapatkan penampilan yang menarik lalu mati-matian berusaha mengubah ciptaan Tuhan, apa itu bisa dibenarkan ? Mungkin saya sok usil karena mengurusi hal yang kadang dianggap remeh temeh ini, tapi masalah ini menurut saya ada hubungan dengan pencitraan diri seperti yang diinginkan oleh media dan masyarakat. Saya sedih lihat usaha teman saya tadi yang mati – matian berusaha mempermak dirinya, lupa bahwa ada something inside yang seharusnya lebih penting untuk dipermak, hati dan cara berpikir. Kalau hati sudah cantik, sikap kitapun akan cantik dan positif, sedangkan kecantikan fisik lebih membuat kita untuk berpikir bagaimana caranya kita bisa cantik luar, bahkan bila perlu ke dukun pasang susuk. Lagipula cantik fisik itu relatif, dalam artian karena dia tidak abadi meski beberapa orang mendapat anugerah tetap cantik di usia tua juga karena definisi cantik seorang perempuan berbeda satu sama lain. Ada yang secara fisik biasa – biasa saja, namun lama – lama kalau dilihat kok manis juga, ada yang sangat cantik bahkan nyaris sempurna tapi karena cemberut melulu dan sok jaim malah tidak disukai pria.
Tubuh memang perlu dirawat karena dia adalah anugerah sang Kuasa. Sudah saatnya kita, memulai dari diri sendiri untuk berani memutarbalikkan opini kebanyakan bahwa cantik itu sama dengan kulit putih, rambut lurus, tubuh langsing, hidung mancung dan sebagainya, berubah dengan berani mengatakan bahwa saya cantik apapun dan bagaimanapun diri saya. Kalau saya bisa menerima diri saya apa adanya, maka orang lain pun akan menerima saya apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihan saya.

Obat Stres – part 2 - Bermain gelombang


Tempat berlibur favorit saya adalah pantai, entah itu pantai yang tenang, landai berpasir putih ataupun pantai terjal berbatu karang dengan ombak ganas menghempas. Keduanya sama menariknya buat saya.
Di sana, saya bisa bermain menyongsong gelombang dan membiarkan ombak memukul kaki – kaki saya, atau duduk melamun di puncak karang terjal sambil merasakan ombak menghantam batu karang dan saya pun basah dengan percik – percik airnya.
Seorang anak kecil yang terkurung dalam raga seorang dewasa, begitu seseorang menyebut saya, bila saya sudah bertemu laut. Saya bisa lupa waktu bermain air, bahkan saya pernah nyaris hanyut terbawa gelombang di pantai Watu Ulo Jember ketika SMP, namun saya malah tenang – tenang saja membiarkan diri saya terbawa arus. Sok yakin bahwa Tuhan belum menginginkan saya mati ditelan laut.
Saya pernah terkesan dengan keindahan pantai Kukup Yogya dan nyaris tertinggal bis, ketika rombongan studi banding kampus akan kembali ke Surabaya, waktu itu sekitar tahun 1998. Suasana pantai menjelang sore dan agak mendung, ombak pantai selatan yang menanjak tinggi memecah karang – karang sebelum akhirnya menyerah di pelukan pantai, menerpa lembut jemari kaki saya. Sambil melempari laut dengan bebatuan dan sesekali memunguti kerang – kerang saya menikmati pantai itu dengan sepenuh hati, lupa dengan kawan – kawan dan tidak merasa bila ada seseorang yang memperhatikan saya, melihat saya dengan pandangan aneh, mungkin menganggap saya orang gila akut, bersimpuh di hadapan samudra dan cakrawala. Tahun itu saya mengunjungi tiga pantai sekaligus yaitu pantai Baron, Krakal dan Kukup. Ketiganya masih lumayan alami, karena kebanyakan pantai yang saya kunjungi telah menjadi area bermain dunia fantasi lengkap dengan fasilitas olahraga air dan restoran. Saya rindu pantai yang masih asli, di mana saya bisa duduk tenang menikmatinya, bermain gelombangnya, merasakan hembusan anginnya dan mendengar suara pekik camar.
Laut, selalu menerbitkan rasa penasaran saya, ada apa di dalamnya ( tentu saja ikan! kata teman – teman saya ), namun saya merasa seperti ada kekuatan magis di dasarnya yang membuat saya betah berlama – lama memandanginya. Laut menurut saya adalah benda mati yang hidup. Satu waktu bergejolak, lalu tenang menghanyutkan. Pantai adalah labuhan. Namun seperti cobaan dan kebahagiaan, ombak selalu datang dan pergi seolah menakar kadar ketegaran pantai dan karang – karangnya. Seperti manusia pula, pantai memiliki berbagai macam karakter dan keunikan.
Laut tak lagi ramah sekarang, sejak beberapa waktu yang lalu laut seperti bergejolak dengan ombaknya yang tinggi di atas rata - rata, menyapu daratan dengan ganas dan menenggelamkan rumah – rumah penduduk di sekitar pantai. Memangkas habis impian saya memiliki rumah mungil di tepi pantai. Semua orang menyalahkan musim, cuaca buruk dan efek global warming. Tapi tak pernah menyalahkan dirinya yang merupakan komponen utama penyebab global warming.
Lepas dari semua itu, saya masih punya sedikit harapan, memiliki tempat tinggal yang dekat dengan pantai, sehingga kapanpun saya ingin bermain gelombang saya bisa datang kapan saja, tanpa menunggu hari libur panjang.

Saturday, 16 February 2008

Pohon ( keramat ) favorit.

Waktu kecil, saya memiliki tempat main favorit yang lain daripada yang lain. Bukan lapangan tapi pemakaman. Jangan bayangkan dulu makam yang angker dan mencekam seperti dalam cerita horor Jeruk Purut atau Kuntilanak. Makam di dekat tempat tinggal saya dulu jauh dari kesan angker ( kecuali malam hari karena bagaimanapun makam kan serem juga kalau malam ). Pemakaman tersebut berada di tengah pemukiman penduduk, tepat di kelilingi oleh rumah – rumah penduduk kampung dan berada di dekat pasar.
Ada satu pohon Sono besar di tengah pemakaman tersebut yang entah seperti mengandung magnit, membuat saya dan beberapa teman sebaya betah bermain di bawah kerindangan daun – daunnya. Ada makam yang sudah di tembok di bawahnya, jadi kami para bocah suka duduk manis di sana sambil membaca komik atau bersenda gurau. Kadang – kadang saya malah membawa komik favorit saya Superman atau Si Deni Manusia Ikan dan menghabiskan istirahat siang hingga sore di sana. Nenek sudah hafal dengan kebiasaan aneh saya, jadi kalo hingga sore saya belum pulang, pasti ada di bawah pohon itu. Kecuali saat musim kemarau waktu para ulat menggerogoti daun – daunnya hingga membuat pohon besar itu nyaris gundul.
Kadang – kadang saya melamun sambil menulis buku harian dan selama itu pula saya tak pernah kesambit atau kesurupan roh halus. Kadang – kadang keteduhannya dan angin yang semilir bikin saya ngantuk. Rasanya saya betah berada di situ. Dari sana pula saya suka memperhatikan makam kedua orang tua yang kebetulan memang tak jauh dari pohon itu. Ada banyak cerita yang mengatakan pohon itu angker, tapi selama saya main di situ saya ndak pernah bertemu dengan hal – hal yang aneh seperti hantu atau jin. Bahkan bila malam dan saya terpaksa melewati makam itu ketika pulang pergi ke tempat les bahasa Inggris saya tidak pernah melihat perempuan berbaju putih, berambut panjang atau kakek – kakek di bawah pohon tersebut. Malah kadang – kadang saya melihat beberapa pemuda mabuk , merokok dan main kartu di sana pada malam hari.
Ada pengalaman lucu ketika pada suatu siang saya menemukan makanan sesajian yang terdiri dari tumpeng kecil lengkap dengan lauk pauknya plus jajan pasar. Waktu itu saya dan teman – teman sedang bermain, lalu tiba – tiba datang seorang laki – laki yang meletakkan tumpeng dan jajan pasar di bawah pohon. Saya dan teman – teman hanya memandang saja dari jarak beberapa meter, melihat orang tersebut komat – kamit berdoa lalu meninggalkan makanan itu begitu saja di sana. Ternyata ada juga orang yang menganggap pohon tersebut keramat dan bertuah. Saya hanya berpikir, mubazir amat makanan seenak itu dibiarkan saja di bawah pohon, paling – paling dimakan ayam atau kambing yang sering berkeliaran di makam ini. Namun kemudian datang serombongan pemuda kampung dan sambil tertawa cekikikan antara sesama mereka, mencomot makanan itu dan membaginya. Saya dan teman – teman hanya bisa menonton mereka menikmati nasi kuning dan lauk ayam goreng, sempat ditawari namun kami agak takut dan menolaknya.
Mungkin karena sering dipakai acara ritual yang tidak jelas, akhirnya tetua kampung memutuskan untuk menebang pohon tersebut. Saya sedih karena akan kehilangan tempat ‘nyepi’ dan bermain. Karena tidak ada satu pun yang berani menebang ( takut kualat kata mereka ), akhirnya seseorang memutuskan untuk membakar pohon itu mulai dari akar hingga batang agar musnah selamanya ( wah hebat, yang usul beginian tidak takut kualat ). Perlahan –lahan, pohon itu pun mati terbakar, sebagian batangnya menghitam menjadi arang, batang yang tidak ikut terbakar dibiarkan begitu saja hingga pohon itu akhirnya mati.
Sebagai ganti pohon tersebut, orang – orang kampung menanam pohon yang netral, artinya kalaupun nanti menjadi besar tidak akan di keramatkan orang – orang, maka selain pohon Kamboja ( pohon wajib di makam ), penduduk menanaminya pohon waru, beberapa pohon singkong di pinggiran makam dan sisanya adalah rerumputan. Memang, akhirnya makam itu tak lagi dikeramatkan, namun upacara sambil menyediakan sesajen pindah ke makam sebelah yang justru dikultuskan karena makam itu adalah makam nenek moyang yang membuka daerah perkampungan ini pertama kali, entah Mbah siapa namanya.
Sampai dewasa kini, saya masih sering memimpikan pohon itu masih berada di tengah pemakaman tersebut.. Karena saya tahu, bukan salah pohon itu bila harus ditebang, namun salah orang – orang yang mengkeramatkannya
.

Friday, 15 February 2008

Obat Stress - Part 1


Orang Jepang rentan stres, mungkin benar, namun beberapa di antara mereka yang saya kenal lumayan kreatif bagaimana menghadapinya hingga tidak menimbulkan tindakan yang cukup meresahkan teman – teman sekitar ( misalnya bertingkah laku aneh atau tertawa sendiri tanpa sebab hehehe).
Pemerintah Jepang rupanya cukup paham dengan kebiasaan warga Jepang bila stress terutama para pekerja yang suka mabuk usai jam kerja, dengan membuat peraturan DILARANG MENGEMUDI KETIKA ANDA MABUK dan dendanya cukup besar bila dilanggar, sekitar 5 juta-an kalau dikonversi ke rupiah bila ketahuan nekat mengemudi setelah menenggak minuman beralkohol, maka di tempat parkir setiap bar dan restoran terdapat jasa penyewaan driver untuk mengantarkan pemabuk itu pulang ke rumah dengan biaya sewa yang lumayan mahal juga, hitungannya mirip taxi dihitung per kilometer. Yang enggan bayar driver sewaan lebih memilih pulang naik kereta api yang beroperasi hingga jauh malam namun dengan resiko kebablasan karena tertidur di kereta seperti kisah salah seorang customer perusahaan tempat saya bekerja yang terpaksa bolak – balik naik kereta api karena ketiduran. Ketika akhirnya bisa sampai di rumah sudah jam 4 pagi dan karena kebanyakan orang Jepang males diomeli istri, dia memilih tidur di teras rumah.
Yang saya sangat suka dari peraturan ini ketika disosialisasikan ( ini menurut cerita seorang customer saya ), bukan ditekankan pada berapa besar dendanya namun pada akibat bila dilanggar, tentu anda tak ingin kehilangan anggota keluarga entah itu anak, istri, suami, adik, kakak dan sebagainya, meninggal dalam kecelakaan akibat pengendara mobil yang mabuk atau anda sendiri yang sedang mabuk. Sebuah cara positif untuk membujuk.
Teman saya yang satu ini agak lain, seorang cewek Jepang yang girlie banget. Hobinya memajang boneka – boneka mungil macam barbie dan kawan – kawannya. Waktu saya kirimi boneka kecil suvenir dari Sophie Martin dan boneka gajah yang bisa mengeluarkan suara HAVE A NICE DAY, dia senang sekali dan memajangnya di mobil mungilnya, Cooper bikinan Inggris warna hitam yang mirip mobil Mr. Bean. Orang mungkin tak menyangka kalau usianya di atas kepala tiga karena dia imut banget dan hobinya yang mungkin agak kekanak – kanakan. Waktu pergi hang out dengan saya dulu di Ashikaga, ternyata dia cukup nyambung dengan saya yang suka dengerin musik dan baca komik. Maka acara jalan bisa seru, karena dia menunjukkan saya sebuah tempat di mana saya bisa membeli compact disc single album yang super murah seharga sebotol soft drink ( kira – kira 105 – 200 yen, itu kira – kira setara dengan 8 – 12 ribu rupiah ), apalagi karena dia juga member setia BOOK OFF, tempat seru yang menjual komik dan CD single dengan harga murah banget. Trus dia sempat juga akan mengajak saya ke UNIQLO tempat murah buat belanja baju, namun karena saya tidak terlalu suka shopping baju, maka saya dan dia lebih suka menjelajahi toko buku dan elektronik. Tiap kali saya butuh info terbaru tentang komik Jepang, dia pasti tahu. Dulu ketika si Himawari, adik Shinchan, belum ada di film kartun yang diputar di Indonesia, dia sudah memberi tahu saya tentang Himawari. Sekarang ketika saya nge-fans RuRou Kenshin ( Samurai X ), dia juga bilang kalau anime ini terkenal sekali di Jepang. Tentu, karena jalan ceritanya gabungan antara fiktif dan nonfiktif, beberapa bagian ceritanya menjelaskan sejarah Jepang tempo dulu dan kehidupan samurai saat itu.
Dia suka menunjukkan keunikan – keunikan yang ada di sekitarnya. Pernah dia menunjukkan gambar colokan listrik ( soket ) di dinding yang lucu banget karena mirip orang tersenyum. Beberapa kali mengirimi foto bunga sakura mekar, daun momiji yang berubah kemerahan saat musim gugur atau salju pertama yang sedang turun di wilayah Jepang bagian selatan. Seperti bulan ini, dia mengirimi saya foto boneka salju yang dibuatnya sendiri. Lucu sekali karena ada banyak boneka kecil yang dibuat dan dipajang berjejer di kap mobilnya.
Ternyata buat kawan saya ini untuk menyembuhkan stres tidak butuh biaya mahal, kenali dulu penyebabnya. Stres sering diakibatkan tekanan – tekanan yang kita alami di tempat kerja atau bahkan di rumah. Jadi tak ada salahnya mencoba resep obat stres ala teman Jepang saya yang satu ini, BERMAIN. Banyak orang dewasa yang enggan melakukannya karena takut dianggap kekanakan, tapi justru dengan bermain, anda bisa me-refresh body, mind and soul. Ndak percaya ? coba aja, asal jangan main api, karena kalau sampai rumah atau badan terbakar malah tambah stres.

Life Suck, You’re not!

Seorang teman kerja akan resign bulan ini. Bukan karena dia spesial kalau saya kemudian menyempatkan waktu mencarikan sekedar suvenir untuknya. Tapi karena dia pernah menjadi bagian dari pekerjaan saya, sebagai teman dan partner kerja. Dari sekian teman laki – laki di tempat kerja dia memang bukan orang yang pintar sekali atau menonjol sekali prestasi kerjanya, tapi setidaknya saat bersamanya saya merasakan kegembiraan dan optimisme kanak – kanak yang polos yang belum tentu bisa dijumpai di tempat kerja manapun. Sesekali saat jeda waktu, kami ngobrol bersama tentang film kartun favorit, sinetron lucu yang biasa kami tonton di rumah, tentang pekerjaan dan sebagainya. Dia memang seorang yang tangguh, meski pekerjaannya berat tapi dia tak sering mengeluh, hanya kadang – kadang dia merasa jenuh. Saya menganggapnya luar biasa ( sekaligus kurang waras ) karena hanya dia yang berani memaki atasan yang kebetulan adalah ekspatriat. Meski pekerjaan saya tidak berhubungan langsung dengannya, namun sesekali waktu saya dan dia saling membantu.
Itulah gunanya teman, ketika kita merasa bahwa dunia tempat kita berpijak telah penuh dengan kemunafikan, kecurangan, kompetisi yang tidak sehat, iri hati dan dengki, kita membutuhkan orang – orang jujur dan apa adanya. Orang – orang yang ikhlas membantu tanpa tendensi dan pamrih apapun selain ingin mendapatkan berkah dari Tuhan. Tidak mudah mendapatkan teman – teman seperti itu, tapi saya yakin, Tuhan akan menyelipkan satu – dua orang yang baik di antara ribuan kejahatan. Selalu ada penawar untuk segala jenis racun. Bagaikan bintang – bintang yang bercahaya di malam yang gulita. Menebarkan optimisme hidup dan keyakinan bahwa Tuhan itu benar ada dengan kasih-Nya..
Di sebuah toko buku, perhatian saya tertumbuk pada selembar kartu ucapan yang sederhana dengan kata – kata singkat “Life Suck, You’re not”. Saya kira, kartu itu cocok untuk teman saya tadi, mewakili perasaan hati bahwa saya – sekali lagi - kehilangan seorang partner kerja yang telah sekian lama bersama dalam suka dan duka. Mewakili saya untuk berkata padanya “kamu adalah orang baik yang pernah saya kenal dalam perjalanan hidup saya dan semoga kamu menjadi orang yang baik ( bahkan lebih baik ), apapun yang terjadi”.
Saya hanya berharap bahwa dia akan mendapatkan pekerjaan dan kehidupan sesuai dengan yang ia inginkan. Meski sesudah itu kami tidak akan pernah berhubungan se-intens dulu lagi.
Ada kata – kata bijak yang pernah saya baca di harian KOMPAS, ketika anda tidak mampu berbuat kebaikan maka berhentilah menyakiti orang lain.
Life Suck, but you’re not, friends!

Cita – citakoe doeloe

Semasa SD dulu, saya dan teman se-gank pernah ditanya apa cita – cita kami bila nanti dewasa. Ada dua orang yang menjawab dengan jawaban yang lumayan kontroversial untuk ukuran anak – anak saat itu. Kalau kebanyakan teman ingin menjadi dokter, pilot dan tentara, tapi saya menjawab ingin menjadi jurnalis dan seorang teman ingin menjadi astronot. Waktu itu saya tanya dia, astronot dan astrolog beda ya? Langsung saya ditimpuk teman lain karena dua pekerjaan tersebut berbeda jauh meski depannya sama – sama pakai kata ‘astro’. Astronot adalah orang yang pergi ke luar angkasa dan astrolog adalah orang yang menggunakan rasi bintang ( baca : aries, libra, gemini dsb ) untuk menentukan karakter dan apa yang terjadi di masa depan sesuai rasi bintang tersebut.
Waktu ditanya apa alasan saya ingin menjadi jurnalis, saya bilang saya punya dua alasan, satu alasan beneran, yang satu agak konyol. Alasan pertama karena saya suka pelajaran mengarang dan itu selalu dibuktikan dengan nilai pelajaran bahasa Indonesia yang lumayan bagus, beberapa kali mewakili Lomba Mengarang tingkat SD meski tidak pernah jadi juara pertama, cuma juara harapan, paling banter runner up. Selain itu karena saya ingin bepergian gratis dibayari kantor hehehe.....
Alasan konyol, karena saya nge-fans berat dengan Louis Lane, wartawati cantik yang jadi pacar Superman. Di dalam komiknya, diceritakan dengan jelas seluk beluk pekerjaan jurnalis mencari berita termasuk beberapa adegan berbahaya ketika Louis Lane nekat mendekati pihak musuh untuk mendapatkan berita yang akurat dan menarik. Saya memang sempat mengoleksi komik itu meski kini sudah hilang ketika kami sekeluarga terpaksa pindah rumah.
Kini saya tidak menjadi jurnalis ‘beneran’ ( walau masih suka nulis – nulis di blog dan bikin jurnal harian ), keluarga menentang keinginan saya menjadi jurnalis, sedangkan teman saya yang bercita – cita menjadi astronot tadi juga tidak berhasil ( tapi dia sukses ‘terbang’ ke Jepang mendapat beasiswa mulai S2 hingga S3 ). Saya dan dia punya kesamaan, suka menghayal dan berpetualang. Ketika dewasa kami bertemu dan mengenang masa – masa kecil yang lucu saat itu, mungkin ada baiknya kita tidak mendapatkan apa yang kita cita – citakan, karena bisa jadi pesawat ulak – aliknya hancur lebur sebelum mencapai angkasa dan dia tidak berkesempatan lagi bertemu keluarganya yang sangat membanggakannya karena dia adalah teman saya yang paling cerdas dan kini tengah menempuh pendidikan S3 di Jepang. Sedangkan saya, mungkin lebih baik saya tidak menjadi jurnalis karena mungkin saya akan diuber – uber aparat keamanan atau mati mengenaskan seperti beberapa jurnalis negeri ini. Apa yang kita cita – citakan memang kadang – kadang tak berbanding lurus dengan kenyataan karena manusia hanya berusaha sedangkan yang menentukan tetap Tuhan. Hanya sedikit teman yang cita – citanya menjadi kenyataan.
Ada yang membuat saya miris bila saya teringat dengan salah seorang teman. Dia bercita – cita menjadi polisi, saya tanya alasannya dia menjawab dengan sedih karena kakak sulungnya adalah pencuri ayam di kampungnya. Saya menatap matanya dalam – dalam, saya bisa merasakan rasa malu yang amat sangat yang terpaksa dipendamnya ketika mengetahui salah satu keluarganya melakukan pekerjaan haram tersebut. Hanya kepada saya dia bercerita tentang carut marut keluarganya. Di mata saya dia adalah laki – laki kecil sederhana yang hanya ingin menjadi seorang yang berguna meski terlahir dari keluarga miskin dan berantakan.
Lulus SD saya hampir tak pernah mendengar berita tentangnya lagi, yang saya dengar untuk terakhir kalinya, dia tidak meneruskan sekolah dan berjualan unggas di pasar. Saya bersyukur setidaknya dia tidak mengikuti jejak kakaknya menjadi pencuri ayam.
Seseorang pernah berkata kepada saya, buat apa punya cita – cita kalau tidak bisa menjadi kenyataan, jalani saja hidup karena Tuhan lebih tahu kita cocok menjadi apa. Saya terdiam, merenungkan kata – katanya. Mungkin dia takut kecewa atau pernah kecewa hingga dia lebih suka menjadi seseorang yang apatis dan pahit semacam itu.
Almarhumah nenek mengajarkan kepada saya bahwa cita – cita adalah do’a dan harapan. Tuhan akan melihat seberapa keras usaha kita berdo’a dan berharap, lalu mengabulkannya, kalaupun tidak dikabulkan, Tuhan akan menggantikannya dengan yang lebih baik, mungkin tidak lebih baik seperti harapan kita dan orang – orang lain melihat kita, tapi kita harus yakin bahwa inilah yang terbaik untuk kita.
Cita- cita menurut saya tidak harus berwujud dalam sebuah profesi atau pekerjaan tertentu. Bagus kalau kita ingin menjadi dokter karena ingin menolong orang yang sakit, lalu ketika kita tidak menjadi dokter apakah kita akan berhenti menolong sesama ? Apakah ketika seseorang gagal menjadi pilot dia akan berhenti membuat prestasi ? Apakah bila dia gagal menjadi presiden lalu jalan lain untuk menjadi pemimpin akan buntu ? Lihatlah jiwa dari setiap cita – cita. Mengapa dokter, pilot, tentara, perawat, presiden, gubernur dan lain – lain kerap dijadikan cita – cita ?. Seorang tentara atau aparat keamanan diperlukan karena dia akan menjaga lingkungan menjadi aman, nyaman dan tertib. Lalu ketika tidak bisa mencapainya apakah kita akan berhenti sampai di situ ? Tentu tidak. Profesi dan pekerjaan tersebut memang memberi kita jalan lapang agar kita menjadi seseorang yang ( dianggap ) berguna di masyarakat, namun menurut saya, tanpa profesi itupun, kita tetap mampu berguna bagi orang banyak. Seperti firman Tuhan, tak ada sesuatu pun yang diciptakan sia – sia di dunia ini bahkan kecoa dan nyamuk pun masih punya guna meski mereka bukan dokter, tentara atau bupati.
Saya memang gagal menjadi seorang jurnalis, namun saya masih memegang teguh prinsip seorang jurnalis untuk jujur dan menyampaikan kebenaran bagaimanapun caranya. Saya masih bisa menulis dan dibaca beberapa kawan meski tanpa bayaran atau tidak bisa pergi ke tempat – tempat yang saya ingin kunjungi. Namun di setiap kesempatan dimana saya bisa melakukan travelling, saya akan selalu menemukan angle dari setiap perjalanan dan kisah hidup seseorang. Lalu menulis sesuatu yang bisa sedikit menghibur orang yang membacanya. Teman saya yang tidak berhasil menjadi astronot, telah menjadi seorang explorer, menjelajah wilayah – wilayah baru yang sebelumnya belum pernah dia kunjungi dan membaginya lewat tulisan – tulisannya di blog.
Apakah anda masih punya cita – cita ?

Manusia yang memindahkan gunung memulainya dengan memindahkan batu – batu kecil
Pepatah Cina

Wednesday, 6 February 2008

Sensasi Hujan

Ada satu ritual unik yang paling saya suka, menikmati hujan. Dimulai dari membaui aroma rumput dan tanah basah oleh gerimis, bahkan seperti anjing, kadang saya bisa tahu, akan turun hujan atau tidak dari aroma udara ( kalo gitu ndak butuh ramalan BMG dong, tinggal suruh saya mengendus saja hahaha ).
Seperti tanah dan pepohonan yang merindukan hujan, saya pun kadang – kadang kangen hujan – hujanan seperti masa kecil dulu. Meski setelah itu badan saya demam dan pilek. Bahkan hingga dewasa kini, saya masih suka berhujan – hujan. Merasakan aromanya, sensasi air yang menetes membasahi kulit, udara dingin yang menggigit namun membangkitkan kesegaran. Cukup untuk mendinginkan kepala yang ‘panas’ karena urusan macam – macam yang kadang – kadang bisa membuat stress, jutek dan suntuk. Denger –denger, mengguyur kepala dengan air dingin juga dilakukan untuk pasien rumah sakit jiwa agar mereka sedikit tenang.

Ada pengalaman lucu, saya pernah di uber – uber seorang bapak –bapak dengan membawa payung ditangannya.
Saat itu saya kebetulan sedang berkunjung ke kota kecil Ashikaga - Jepang, nekat berjalan dalam gerimis. Dia mengira saya lupa membawa payung, melihat wajahnya dan usahanya turun dari lantai 3 hotel lalu meminjami saya payung saya jadi tidak tega menolak, saya ucapkan “doumo arigatou gozaimasu” , meminta maaf karena sudah merepotkan dia. Ternyata dia adalah bapak penjaga meja resepsionist yang sering saya titipi kunci kalo saya pergi keluar hotel. Ternyata di sana tidak lazim berjalan dalam gerimis atau hujan tanpa payung. Mungkin bapak – bapak itu sudah menanggap saya gila atau minimal pikun karena tidak membawa payung.
Bagi saya yang orang Indonesia, hujannya pun sebenarnya tak terlalu lebat hanya gerimis namun dengan intensitas yang lumayan tinggi, saya memang sengaja ndak membawa payung karena saya cuma ingin pergi ke supermarket dekat hotel dan saya hanya ingin membeli kopi instan panas dan membawanya ke kursi stasiun di belakang hotel menikmati suara kereta api berlalu lalang ( ini satu lagi ritual aneh saya, nongkrong di stasiun kereta api ). Lumayan, hari itu kebetulan weekend saya bisa melarikan diri dari si mister jambul yang mengawal kemana saja saya pergi karena saya adalah tamu perusahaannya. Esoknya dia marah – marah mengomeli saya karena saya berkeliaran tanpa pengawalan dia, sebenarnya dia takut terjadi sesuatu karena saya orang asing di Jepang. Bukannya saya sok berani karena kebetulan saya bisa sedikit berbahasa Jepang dan masih cukup memadai bila digunakan untuk berklinong – klinong sendiri ke mall terdekat atau stasiun sembari memperhatikan segerombolan remaja Jepang yang rambutnya dicat berwarna – warni. Masak iya, hanya karena saya ingin main hujan – hujanan kudu dikawal dia pula.

Pagi ini, seperti kebiasaan Tahun Imlek yang sudah – sudah, hujan kembali turun. Meski tak lebat dan hanya gerimis namun saya masih berkesempatan merasakannya di halaman rumah. Gerimis kecil namun kerep membasahi kulit tangan saya, lalu seperti anak kecil yang baru melihat hujan turun berdiri bodoh sambil menadahkan tangan. Seperti di tusuk – tusuk jarum – jarum akupunktur, enak sekali. Kalau ndak percaya, coba saja, mumpung masih musim hujan dan masih berkesempatan melihat hujan.

It’s a Wonderful Life - A good Motivation

Bukan karena kehabisan inspirasi kalau kali ini saya share sebuah artikel bagus dari harian KOMPAS, namun karena sesuai dengan tema ‘soul therapy’ yang lebih cocok untuk menyembuhkan dan sekaligus bayar utang karena sudah janji mau nulis sesuatu yang bisa memberi inspirasi, karena seorang teman pernah komplain, dia malah tambah gila setelah membaca blog saya ;-). Sorry rek....kali ini serius deh.

Sekalian menjawab pertanyaan mengapa tulisan di blog saya pakai bahasa Indonesia bukan bahasa Inggris meski plang namanya pake bahasa Inggris--> nipu, kata temen saya. Tapi saya ndak bermaksud nipu, cuma kemampuan bahasa Inggris saya terbatas ( jawaban yang jujur hiks..hiks....salut man! ) dan klien saya ( baca : orang-orang gila ) yang juga sama ndak ngerti banyak bahasa Inggris ( hua..ha..ha..ha.. )
Buat yang pinter berbahasa Inggris....sesekali “down to earth” boleh dong...
...

KOMPAS SABTU, 5 JANUARI 2008

It’s a Wonderful Life
Eileen Rachman & Sylvina Savitri ( Experd Growth & Soft Skill Training )

Teman saya pernah mengajarkan,”Bila menghadapi kehilangan, kematian dan suasana duka, ucapkanlah “Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun”.Sebaliknya, bila takjub dengan keajaiban dan keindahan alam, menghadapi situasi dan pengalaman yang menyenangkan, ucapkan juga kalimat tersebut, yang juga berarti “Segala yang berasal dari Allah yang Maha Kuasa akan kembali kepada Allah. Bagi saya kalimat ini sangat membantu di saat –saat sangat susah atau sangat senang, karena pada saat itulah kita seakan diingatkan kembali bahwa adik, kakak, anak, pasangan, rizki, keindahan alam, jabatan, karir dan sehebat – hebatnya ikhtiar kita, adalah “pinjaman” dan “amanah”

Meski sadar bahwa roda kehidupan memang harus berputar, namun begitu cepatnya dan semakin sulitnya kita memprediksi future benar – benar membuat kita panik, kehilangan pegangan. Kematian Benazir Butto, banjir yang melanda kota – kota yang biasanya tidak kenal banjir, air pasang yang menyebabkan bisnis pariwisata sekitar Kuta terpuruk, global warming dan belum lagi ramalan – ramalan mengenai semakin “edan”-nya dunia di masa mendatang benar – benar membuat kita galau. Bagi saya, kata “change” yang dikumandangkan para ahli manajemen dan futuris mulai terdengar basi. Baru saja merencanakan action, perubahan, lapangan dan pasar seakan belut, licin dan sudah berubah lagi. Tak bisa menghindar, kita memang sudah beranggapan dengan hal – hal tak terduga.
Dalam situasi serba tak terprediksi, bahkan kekacauan yang mengerikan begini, bisakah dan bagaimanakah kita bisa bersikap positif pada dunia kehidupan kita ?

Be “Present”

Kata “present”, berarti “hadiah” dan juga berarti “saat ini”. Seorang ahli time management mengatakan bahwa “being present” ( keberadaan kita saat ini ) adalah “present” ( hadiah ) terbesar dalam hidup kita. “Being present” berarti realistis dan sadar apa yang ada di hadapan kita, menghargai dan memanfaatkan semua resources yang kita miliki. Being present atau “live your life”, adalah nasihat Richard Branson, pemilik Virgin Group pada putra – putrinya ketika ia tengah menghadapi maut, agar mereka menghayati betul kehidupan yang tengah dilalui sekarang, tidak menyesali masa lalu dan tidak kuatir akan masa depan. Tidak pelak lagi, inilah pilihan sikap yang paling sehat dalam menghadapi hidup ini.

Memiliki sikap “being present” memang mudah dikatakan, tetapi tidak mudah dilakukan. Berapa sering pikiran kita melayang dan tidak konsen bila sedang rapat, mengikuti pelatihan, menghadapi klien bahkan menghadapi anak sendiri ? Kita sangat sadar bahwa orang yang paling penting adalah orang dihadapan kita, tetapi berapa sering kita menerima panggilan telepon genggam ketika menghadapi orang secara bertatap muka ? Rasanya kita memang masih bisa lebih menghargai momen – momen yang sebenarnya sudh diberikan kepada kita dan lebih memanfaatkan sebaik –sebaiknya.

Kita dibutuhkan oleh Orang lain

Teman saya yang bermukim di Inggris, tiba – tiba mencari pekerjaan di Indonesia. Ketika saya tanyakan alasannya, ia berkata bahwa ia menemani ibunya, yang semakin meningkat percepatan “layu”-nya sepeninggal ayahnya. Keluarga, teman yang bahkan sudah lebih dekat daripada anggota keluarga, kolega yang bersusah – senang bersama kita adalah ‘kekuatan” bahkan “mistik” tersendiri yang membuat kita bisa lebih kokoh berdiri menghadapi kekacauan, badai serta cobaan. Kita sebenarnya bisa menghitung betapa beruntungnya kita bila masih ada teman, kakak, adik, suami, istri, anak atau tetangga yang bisa kita ajak merapatkan barisan ataupun “holding hands” di kala gundah. Sebaliknya kesadaran bahwa kita bisa member support mental kepada anggota keluarga lain, saudara, teman, tetangga, akan membuat kita mendapatkan kekuatan dan semangat menolong dobel karena keyakinan bahwa kita dibutuhkan.

Niat Baik adalah Fondasi

Dalam suatu pertemuan, saya mengajak para peserta yang hadir untuk mengungkap misi dan niat utama dalam bekerja dan dalam hidupnya.
Saya cukup terkejut karena ternyata sangat sedikit yang bisa dengan lantang menyebutkan niatnya. Entah karena malu, jarang melakukan introspeksi diri atau sekedar tidak ingin terbuka. Yang jelas, bila niat kita tidak terbaca, tidak jelas atau tidak dimengerti, maka gerak dan langkah kita pasti juga tidak jelas dan mengambang.
Niat seperti “ Saya ingin belajar terus sampai usia 70 tahun”, “Saya ingin anak buah saya sukses”, Saya ingin jadi orang tua yang baik, ketimbang jadi profesional yang sukses”, atau “Saya ingin berwirausaha bila tabungan saya cukup”, sebenarnya tidak perlu disembunyikan atau ditutup – tutupi. Asalkan niat kita lantang, lurus, bersih, dan tidak diwarnai dengan “vested interest” maka biasanya kita akan punya pengikut, mendapatkan kawan seperjuangan, bahkan bisa melihat persamaan arah dengan orang lain, perusahaan bahkan negara. Niat yang baik dan kuat bisa menjadi fondasi kita agar tetap berdiri bagai batu karang dalam hempasan ombak. Apalagi kalau kita betul – betul berniat untuk mencerdaskan, membersihkan dan membela lingkungan apalagi bangsa.

Jatuh, bangun, terpuruk, sukses, akan selalu kita alami sepanjang perjalanan hidup kita. Tapi masih ingatkah anda film getir Life is Beautiful ( La Vita é Bella ) karya sutradara dan aktor kondang Roberto Benigni ? kalau dalam keadaan terjepit, hampir terbunuh begitu, ia masih bisa melihat indahnya kehidupan, kita pun pastinya bisa menghadapi kompleksitas situasi dunia kita dengan sikap yang lebih optimis dan menghayati betapa berharganya hidup ini.

Just open your eyes and see that life is beautiful ( Roberto Benigni )

Sunday, 3 February 2008

Buku Laskar Pelangi oleh Andrea Hirata


Sewaktu saya masih di SD, saya memiliki buku favorit yang benar – benar membuat saya terinspirasi untuk menjadi seseorang yang kuat, tegar, bahagia meski dengan kondisi yang serba kekurangan namun selalu penuh syukur. Buku – buku itu adalah Keluarga Cemara karya Arswendo dan Padang Ilalang Di Belakang Rumah Kami yang ditulis oleh NH. Dini. Bersama kawan karib saya, biasanya saya menghabiskan waktu di perpustakaan kecil sekolah. Dia adalah Awan, yang suka sekali membaca buku – buku sains dan sangat cerdas, karena itu tak heran bila dia mendapat beasiswa S2 bahkan S3 ke Jepang dari Panasonic.
Buku Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata kurang lebih memiliki kemiripan dan genre yang sama dengan buku – buku di atas yang menceritakan perjuangan dan pengalaman masa kecil yang indah, sedih sekaligus mengesankan. Selain buku – buku di atas, karena pengaruh Awan ( seorang teman yang kini tinggal di Jepang ) saya menggemari cerita – cerita petualangan Lima Sekawan.
Buku Laskar Pelangi menceritakan kehidupan sepuluh orang anak kampung yang tinggal di Pulau Belitung yang bersekolah di sebuah gedung sekolah kampung yang nyaris roboh. Namun dengan kesederhanaan dan segala keterbatasan tersebut mereka tetap menjalani hidup dengan optimisme kanak – kanak yang mencerahkan.
Saya kadang – kadang bertanya – tanya, seperti inikah cermin pendidikan bangsa kita ? Di satu sisi kita memanjakan beberapa golongan dengan membanjirnya fasilitas yang bisa mempermudah hidup mereka seperti mobil dan rumah dinas serta berbagai tunjangan hidup lainnya di luar gaji pokok, namun di sisi lain kita mengabaikan fasilitas – fasilitas pendidikan yang sebenarnya merupakan aset masa depan bangsa kita. Bagaimana kita bisa menjadi bangsa yang sukses seperti Cina dan Jepang kalau pendidikan kita tak pedulikan. Fasilitas tidak hanya melulu secara fisik berupa bangunan gedung, namun juga beasiswa untuk membantu anak – anak yang kurang mampu secara finansial.
Saya ikut sedih melihat Lintang yang tidak bisa melanjutkan sekolahnya padahal dia adalah anak jenius yang terlahir dari keluarga miskin di pesisir Pulau Belitung. Saya mengagumi semangatnya bersekolah meski dia harus menempuh jarak pulang pergi sejauh 80 km dengan mengendarai sepeda butut dan harus melintas sungai yang penuh dengan buaya. Betapa sedihnya saya bila membandingkan dengan anak – anak muda sekarang yang terlahir dengan kondisi berkecukupan namun malas belajar. Saya pun ikut terbawa khayalan liar Mahar, tokoh anak yang punya bakat dalam bidang seni dan hal – hal berbau klenik. Bahkan saya pun ikut tertawa ketika Tulak Bayan Tula seorang dukun terkenal yang dimintai tolong oleh Mahar dan Flo agar nilai rapornya bagus namun sang dukun malah menjawab “ Bila ingin pintar, buka buku, belajar”. Ada banyak pengalaman – pengalaman lucu, menarik, kadang membuat saya terharu, menangis bahkan tertawa ketika membaca buku ini.
Dari buku – buku di atas, seolah saya sedang membaca buku tentang pengembangan diri yang inspiratif, mampu menggerakan dan mencerahkan, dahsyat dengan bahasa yang sederhana namun tidak menggurui tapi kaya akan makna. Seperti belajar tentang kehidupan yang bersumber dari kehidupan itu sendiri.
Membaca buku Laskar Pelangi saya bersyukur bahwa nasib saya tidak setragis Lintang, si cerdas jenius yang terpaksa putus sekolah karena kekurangan biaya dan harus menjadi tulang pungung keluarga, meski dulu saya pun harus berjibaku, menerima berbagai macam pekerjaan sambilan agar bisa meneruskan kuliah. Agaknya, tokoh Ikal dalam buku tersebut seperti mewakili saya. Terutama keras kepala dan tekat dia untuk tetap bersekolah. Masih teringat saya, ketika masa kuliah dulu saya nyambi bekerja di sebuah wartel dan rental komputer, mengetik skripsi dan tesis pelanggan hingga jam 2 malam, sementara keesokan harinya saya harus berkuliah. Melupakan masa hura – hura bersama teman – teman, pulang kuliah langsung cabut bekerja hingga malam. Untungnya saya sempat mendapat beasiswa dari The Japan Foundation selama satu tahun yang cukup meringankan beban saya dan keluarga.
Sewaktu saya menonton acara Kick Andy dan Andrea Hirata si penulis Laskar Pelangi diwawancarai oleh Andy F Noya, saya seperti melihat diri saya dalam dirinya. Ada satu titik dalam hidupnya yang membuatnya ingin menjadi penulis, yaitu ketika dia melihat Ibunda Guru Muslimah berpayungkan daun pisang dalam hujan yang lebat dan pergi ke sekolah untuk mengajar murid – muridnya. Dia ingin menulis kisah perjuangan gurunya tersebut. Tepat seperti kata Gde Pramana yang juga hadir dalam acara itu yang mengatakan bahwa buku Laskar Pelangi adalah wujud cinta dan hormat seorang murid kepada gurunya. Sedangkan saya, ingin menjadi penulis ketika kelas 6 SD saya menemukan buku harian almarhumah ibu. Saya ingin menjadi penulis karena menghormati ibu saya yang hanya sebentar saya lihat di dunia ini.
So, read this book and get inspired !!.

Cinta Sunyi

Aku senang sekali mendengarkan suara hujan di malam hari ketika aku sendiri dan suasana hening hanya suara air menimpa atap dan jalanan di depan rumah. Membaui aroma tanah dan rerumputan basah. 
Hiburanku satu-satunya hanya laptopku dan musik dari MP3 player. Kadang-kadang aku membaca buku hingga larut malam ketika aku tak bisa tidur. Sementara untuk acara kencan di malam minggu aku tak punya. Sesekali beberapa teman laki-laki mengajakku pergi, tapi jarang kuterima.
Seperti sabtu malam ini, hujan kembali turun. Aku terjaga di depan mejaku, kubuka jendela lebar-lebar, sambil menikmati secangkir kopi panas, aku melihat ke bawah. Sepasang remaja berusaha berteduh dari hujan dengan sebuah jaket milik sang cowok. Aku tersenyum.
Mereka mungkin bisa jadi telah mengalami berulang kali patah hati sebelum akhirnya menemukan cinta sejatinya.
Aku jadi teringat Eliza, sahabatku semasa sekolah dulu. Eliza cantik, bahkan nyaris sempurna dan juga pintar. Kulitnya putih bersih, rambutnya coklat kemerahan seperti cewek bule, matanya ? beautiful brown eyes yang bisa bikin para lelaki tergila-gila padanya. Menurutku dia mirip artis cilik Shirley Temple bahkan dalam usianya yang sudah bukan remaja lagi. Iseng-iseng aku dan Eliza menelusuri silsilah keluarganya. Pantes bau bule, buyutnya keturunan kompeni eh Belanda ding. Kadang-kadang bila sedang berjalan di sampingnya aku merasa jadi si itik buruk rupa. Tapi kata teman-temanku yang lain, aku lebih mirip bodyguard daripada itik.
Seharusnya dengan wajah cantik, hati yang baik dan otak yang encer Eliza bisa punya pacar, hanya anehnya hingga kini dia masih belum punya pacar tetap, hanya Tuhan Yang Maha Tahu kenapa tak satupun dari semua laki-laki yang pernah dekat dengannya menjadi pacarnya. Apa yang salah ? Entahlah.
Cinta memang kadang berlaku di luar logika. Cinta memang bukan matematika, satu ditambah satu sama dengan dua. Apa yang mungkin terjadi menurut nalar, bisa jadi mustahil kalau sudah berhubungan dengan cinta. Bahkan Lia yang sebenernya nggak cantik-cantik amat, nggak pinter banget eh malah punya suami dokter.
Kadang kupikir barangkali Eliza yang terlalu pemilih, terlalu idealis bahkan pernah kukatakan padanya seharusnya Eliza mencintai orangnya bukan deskripsi. Simak saja apa yang diinginkannya dalam diri laki-laki pilihannya, baik, ganteng, putih, tinggi, pinter dan berkacamata. Barangkali dia lebih cocok dengan mister Jambul, si Jepang gila rekan kerjaku yang lebih suka kupanggil Jambul daripada nama aslinya karena rambutnya berjambul seperti ayam jago. Aku tak menyalahkan Eliza, semua orang berhak memiliki seseorang yang diidamkan, bahkan aku pun punya penggambaran laki-laki yang aku inginkan jadi pasangan hidupku kelak.
Tapi yang aku kagumi dari Eliza, meski sering berganti pasangan dan sesekali putus nyambung dengan pacar-pacarnya, Eliza tetap ceria. Kadang-kadang memang aku nggak ngerti dengan kegilaan temenku cewek satu ini. Hari ini putus cinta, besok sudah ketawa-ketawa lagi, hari berikutnya sudah jalan dengan yang lain lagi, seolah tidak ada beban hidup yang berat buatnya. Hidupnya itu bagai air yang mengalir, jalanin aja apa adanya, gitu prinsipnya.
Cinta yang bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan. Namun lebih menyakitkan lagi bila saling mencintai namun tak bisa bersama.
Sesekali Eliza bersedih hati ketika dia bener-bener cinta mati dengan sang lelaki, namun ternyata bertepuk sebelah tangan, si lelaki Cuma menganggapnya teman ( tapi kok mereka mesra ya..), atau ketika mereka saling menyayangi, ada saja hal yang membuat mereka terpaksa harus berpisah.
Aku tak pernah keberatan menjadi teman curhatnya. Ada persamaan antara aku dan Eliza, sama-sama tak punya pacar, jadi malam minggu kami selalu bersama. Kadang-kadang aku ke rumahnya dan kita ngobrol berjam-jam, atau Eliza datang ke tempatku. Eliza pernah bertanya padaku kenapa aku bisa sesantai ini meski tak ada pacar.
“Tidakkah kamu ingin disayang dan diperhatikan seseorang ?”, tanya Eliza padaku suatu saat.
“Pacar itu penting ya ?”, aku malah balik bertanya yang kemudian malah menuai timpukan bantal, buku dan bolpen dari Eliza.
Sesekali aku memang ingin diperhatikan dan disayang seseorang, misalnya salah satu dari teman laki-laki yang selama ini dekat denganku. Tapi aku mungkin memang orang aneh seperti yang dikatakan Eliza padaku karena aku tak pernah menuntut untuk dijadikan pacar atau menjadikan mereka pacar. Mencintai dan dicintai itu kan nggak harus saling memiliki dan dimiliki, argumenku ketika Eliza menanyakan alasanku men-jomblo semasa sekolah dulu. Lagi pula aku dulu terlalu berambisi menjadi seorang penulis, jadi waktuku lebih banyak kupakai untuk banyak membaca buku, belajar menulis pada guru sastra Indonesia, jalan-jalan atau mengurusi mading sekolah. Lagi pula sebagian besar laki-laki yang dekat denganku lebih sering kujadikan sumber inspirasi puisi atau cerpenku. Mereka adalah orang-orang yang unik dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
“Sialan luh”, kata Eliza setelah mendengar alasanku dekat dengan mereka.
“Lho, emang salah ? Lha wong para cowok pelukis biasa dekat obyek lukisnya supaya lukisan mereka ‘hidup’, mana kadang-kadang disuruh bugil lagi, aku kan nggak sampe segitunya nyuruh mereka bugil”. Eliza tertawa ngakak lalu menjitak kepalaku.
Kukira, kalau seluruh kisah cinta Eliza dikumpulkan bisa jadi sebuah buku atau novel.
Kisah cinta pertama Eliza. Kami masih terlalu muda saat itu, awal masa remaja yang indah. Hingga kini aku masih saja selalu penasaran kenapa pada masa itu ada sebutan cinta monyet bukan ayam atau beruang ( emang yang bisa bercinta Cuma monyet doang ? )
Laki-laki itu bernama Dewa, laki-laki kelahiran pulau Dewata Bali, manis, pintar, baik, berkacamata ( walau tak berkulit putih ), apalagi dia punya suara merdu yang menjadikannya juara pertama lomba menyanyi di sekolah. Hampir semua teman perempuan menggilainya, terutama Eliza, kecuali aku yang saat itu sedang dekat dengan Joe, si pujangga sekolah yang terkenal dengan puisi-puisinya yang romantis dan banyak digilai cewek pula. Eliza dan Dewa memang cukup sering bertemu karena mereka satu kelompok belajar dan aku yakin sekali saat-saat yang dinantikan Eliza adalah ketika mereka belajar bersama. Aku barangkali memang tak terlalu pintar matematika dan agak payah dalam pelajaran fisika, tapi aku cukup jeli menangkap kedekatan mereka.
“Sejelas kamu melihat pensil ini, El”, kataku ketika Eliza bertanya bagaimana aku bisa tahu perasaannya pada Dewa sebelum Eliza sempat curhat denganku. Namun sayang, semuanya berakhir ketika kami lulus dan berpisah seiring dengan perbedaan keyakinan antara Dewa dan Eliza. Dewa dan aku masih satu sekolah, namun Eliza tidak. Jadi sesekali Eliza masih meminta informasi kepadaku dengan siapa Dewa sekarang berhubungan. Barangkali Eliza masih menyimpan kenangan manis pahit itu. Meski demikian ‘life must go on’, di sekolahnya yang baru Eliza telah menemukan pengganti Dewa, meski kembali tak satupun yang jadi pacar tetap hingga lulus SMA.
Laki-laki itu makhluk yang susah dimengerti apa maunya. Egois dan inginnya menang sendiri. Kadang kupikir kenapa Tuhan menciptakan mereka untuk kami para perempuan. Tapi seperti matahari yang kadang bersinar terik menjengkelkan, kami akan selalu membutuhkan mereka.
Satu lagi laki-laki hadir dalam kehidupan Eliza. Irul, teman kuliahnya di Sastra Inggris. Dia mungkin laki-laki yang baik dan penuh perhatian namun kadang lidahnya nyinyir seperti nenek-nenek. Entah apa yang diharapkannya dari perempuan. Irul memang care, sekaligus cerewet untuk urusan penampilan. Dia tak akan segan-segan mengomentari Eliza yang tomboy seperti aku atau terlalu ramah dan terbuka dengan teman-teman laki-laki lainnya. Kenapa cinta bisa menjadi belenggu ?. Tak terbayangkan oleh Eliza sebelumnya mereka akan terjebak cinta segitiga ala anak kuliahan.
Dengan dalih ingin kerja sambil kuliah, Eliza memilih kuliah malam, beda denganku yang siang-siang berkejaran dengan bus kota dan terik matahari, Eliza kadang-kadang harus nebeng mobil teman takut kemalaman. Dan itu menjadi awal hubungan Eliza dengan Irul.
Berawal dari acara pinjam buku, menyelesaikan assigment, cari buku bareng di perpustakaan, pulang bersama dan lain-lain mereka makin akrab. Apalagi Irul cukup manis, tinggi, gentleman, agak putih dan berkacamata. Komplit sudah sesuai kriteria pria idaman Eliza, karena itu Eliza rela ‘dipermak’ Irul. Eliza mulai berubah dari cara bicara, berpakaian dan sikap. Lebih feminin. Mungkin itu perubahan ke arah yang lebih baik. Tapi menurutku, tak perlu menjadi orang lain untuk bisa dicintai. Just love the way you are .
Lalu datanglah mimpi buruk itu. Irul berterus terang kalau dia sudah bertunangan dan masih berhubungan dengan mantan pacarnya yang dulu. Dan konyolnya dia berkata kalau sebenarnya ia ingin kembali dengan mantan pacarnya, pertunangan itu adalah rekayasa keluarga. Dan di mana Eliza ? siapa Eliza baginya ?. lagi-lagi Eliza harus patah.
Barangkali petualangan Eliza yang paling gila adalah ketika ia jatuh cinta pada seorang laki-laki yang sekalipun tak pernah bertemu dengannya. Cuma via SMS. Love is blind ? Atau cerita cinta ala Kahlil Gibran dan May Ziadah kembali berulang ?
Berawal dari sahabatku yang iseng menjodohkan Eliza dengan Dion, si playboy kampusku. Gayung bersambut, setelah saling bertukar nomer handphone, Eliza dan Dion pun saling kontak. Mulai dari SMS sekedar iseng bertanya kabar hingga yang isinya agak nyerempet ke arah serius, mereka janji untuk bertemu.
Aku sendiri tak yakin dengan hubungan jarak jauh semacam ini. Apalagi mereka belum pernah bertemu ditambah dengan reputasi Dion yang bagiku agak meragukan.
“Gimana kalau misalnya Dion itu jelek nggak ketulungan, panuan, berkutu dan lain-lain “, tanyaku.
“Katamu love is not just a physical attraction ? “, kata Eliza sambil cengengesan.
Tapi hari demi hari Dion berhasil meyakinkan Eliza kalau mereka sedang menuju ke arah hubungan yang serius meski belum punya kesempatan untuk bertemu langsung. Setiap kali mereka akan bertemu selalu saja ada halangan. Yang Dion harus mengantar kakaknya pergi keluar kota, ibunya sakit, teman lagi butuh bantuannya.
“Kucing tetangga beranaklah”, tambahku lagi ketika Dion membatalkan sekali lagi kencan mereka.
“Kamu yakin El, atas kesungguhan Dion ?”, tanyaku dan Eliza mengangguk mantap, aku Cuma bisa angkat bahu.
Dengan bantuanku, mereka bertukar foto, aku sampai tegang menanti reaksi Eliza setelah melihat tampang Dion yang jauh dari kriteria ‘perfect’ seperti yang Eliza inginkan. Cuma yang bikin aku heran, cowok yang termasuk kriteria ‘biasa-biasa’ ini ternyata digilai banyak perempuan di kampus.
Dan Eliza bisa menerima begitu saja. Ini keajaiban. Cinta memang ajaib sekaligus membingungkan.
Apa yang terjadi dengan Dion, sungguh di luar dugaanku. Sekali lagi ini adalah keajaiban, ternyata Dion malah mundur dan menghilang begitu saja dari kehidupan Eliza.
“Eliza terlalu cantik buatku”, begitu katanya padaku ketika kutanya kenapa dia pergi meninggalkan Eliza.
Aku mengerutkan dahi, berpikir keras, alasan apapula ini ?
”Bukannya kamu Cuma ingin memperpanjang daftar perempuan yang sudah kau buat patah hati ?”, tanyaku lagi
“Runa, kamu kok sinis banget sih!”. Setelah itu Dion pergi meninggalkanku dalam ketidakmengertian.
Itu adalah tamparan telak yang paling dirasakan Eliza, sekaligus membukakan mataku bahwa kesempurnaan fisik bukan segalanya. Eliza sempat kehilangan rasa percaya dirinya. Dia yang selama ini dianggap ratu, baik, cantik dan pintar ternyata ditolak oleh laki-laki biasa seperti Dion.
Laki-laki itu makhluk rumit serupa teka-teki yang sulit ditebak.
“Bukan salahmu El, Dion aja yang goblok. Emang di dunia ini persentase laki-laki bodoh dan pinter nggak jauh beda, sama banyak”.
Ketika Eliza bersedih hati, aku berusaha menghiburnya. Kata orang bijak, ketika pintu kebahagiaan yang satu tertutup, pintu yang lain dibukakan oleh-Nya. Meski Eliza belum memiliki pasangan hingga kini, tapi aku memintanya untuk yakin dan bersyukur atas apa yang telah dimilikinya sekarang. Fisik yang sempurna, keluarga dan teman-teman yang sangat menyayanginya. Meski dia pernah bertanya padaku suatu kali barangkali dia perlu diet, creambath, rebonding, pergi fitness atau ke spa, tampil seksi atau yang semacamnya, kukatakan padanya bahwa dia tak perlu memakai topeng untuk menarik perhatian laki-laki.
“Kita bukan merak yang kudu punya ekor yang bagus dan berwarna-warni untuk mendapatkan pejantan,” begitu kataku. Dan semua kejadian itu semoga tak berhenti membuatnya mencintai sesama. Meski cintanya sunyi tanpa gaung, tanpa gema.
Pagi ini ketika aku sedang mencabuti rumput liar di sela bunga- bunga di ‘rimba kecilku’, aku kembali mendengar sapaan centil itu
“Haii…..”.
Aku menoleh, Eliza ? dan olala…siapa lagi laki-laki yang sedang berdiri di sampingnya ?
“Stock baru ?”, tanyaku berbisik di telinganya. Eliza nyengir.
”Nemu di mana ?”, tanyaku lagi sambil melirik laki-laki itu.
”Ntar aku ceritain, sekarang ikut kami hang out yuk!”.
Jadilah hari itu aku harus menjadi obat nyamuk, istilah Eliza bila dia mengajakku jalan-jalan dengan pacarnya. Dia selalu meminta pendapatku bila ada laki-laki yang dekat dengannya. Kata Eliza dia percaya dengan instingku, apakah dia laki-laki baik atau tidak.
”Kalau kukatakan dia tidak baik, tapi kamu tetap cinta padanya gimana ?”, tanyaku
”Itu lain soal, dana bantuan politik saja bisa di mark-up, masak yang ini nggak bisa dibikin baik”, begitu komentarnya ringan.
Laki-laki itu namanya Rian, cukup manis dan lumayan enak untuk teman hang out dan ngobrol. Tapi kukatakan pada Eliza untuk tidak cepat-cepat jatuh cinta pada kesan pertama karena kita tidak pernah tahu apa yang ada di hati dan otak laki-laki. Namun itu adalah kelemahan Eliza, terlalu cepat percaya, terlalu cepat jatuh cinta dan terlalu mudah untuk dibuat jatuh cinta. Lagi-lagi cintanya berujung sunyi, karena Eliza harus kehilangan lagi.